Akurat

ESDM Targetkan Implementasi B50 Awal Tahun 2026

Dedi Hidayat | 8 Agustus 2025, 16:27 WIB
ESDM Targetkan Implementasi B50 Awal Tahun 2026

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan implementasi bahan bakar minyak (BBM) jenis biodisel 50 (B50) pada awal 2026.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung mengatakan, saat ini pihaknya sedang melalukan valuasi terhadap implementasi BBM jenis biodisel 40 (B40) sebelum meluncurkan B50. “Untuk B50, kita evaluasi untuk implementasi B40 tahun ini,” kata Yuliot di Kementerian ESDM, Jumat (8/8/2025).

Dirinya pun mengharapkan setelah adanya evaluasi terhadap B40, pihaknya dapat mengimplementasikan B50 pada tahun depan. “Ya, perintah (implementasi B50) per awal tahun (2026),” tambahnya.

Adapun untuk menuju implementasi B50 tersebut akan dilakukan secara bertahap. Pada tahun 2025 misalnya, pemerintah menetapkan akan mewajibkan (mandatory) penggunaan biofuel jenis B40.

"1 Januari 2025 kita sudah go dengan B40," kata Bahlil, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Baca Juga: ESDM Percepat Proyek Bioetanol Merauke, Target Produksi Dimulai 2027

Biofuel jenis B40 dan B50, dikategorikan berdasarkan campuran ester metil asam lemak (fatty acid methyl ester/FAME) yang merupakan hasil pemurnian dari minyak kelapa sawit dengan BBM fosil.

Contohnya, biodiesel tipe B40 yang memiliki kadar campuran FAME 40 persen, dan diesel fosil 60 persen. B50 yang memiliki kadar campuran masing-masing 50%, atau B100 yang murni hanya terbuat dari FAME minyak kelapa sawit.

Sementara merujuk data Kementerian ESDM, impor solar Indonesia pada tahun 2023 sebesar 5,14 juta kiloliter (kl). Angka ini turun secara tahunan pada tahun 2022 (year on year) yang sebesar 5,27 juta kl.

Sebelumnya, Kementerian ESDM menyatakan butuh sekitar tujuh hingga sembilan pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) menjadi biodiesel tambahan untuk bisa memproduksi bahan bakar jenis B50.

Penambahan pabrik pengolahan CPO tersebut guna mengejar celah antara kebutuhan konversi ke B50 yang membutuhkan biodiesel sebanyak 19,7 juta kiloliter, sementara saat ini total produksi dalam negeri baru sebanyak 15,8 juta kiloliter.

Kebutuhan produksi tersebut juga bisa dijadikan peluang investasi, mengingat untuk merealisasikan B50 butuh penanaman modal tambahan sebesar USD360 juta.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.