AKURAT.CO Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mencetak kemenangan bersejarah dalam pemilu parlemen yang digelar Minggu (8/2). Koalisinya meraih mayoritas besar di Majelis Rendah, membuka jalan bagi agenda pemotongan pajak di Jepang serta peningkatan belanja pertahanan untuk menghadapi China.
Partai Demokrat Liberal (LDP) yang dipimpin Takaichi meraih 316 dari total 465 kursi di Majelis Rendah. Ini menjadi perolehan terbaik sepanjang sejarah partai tersebut. Bersama mitra koalisi, Partai Inovasi Jepang (Ishin), Takaichi menguasai 352 kursi atau lebih dari dua pertiga parlemen. Supermayoritas ini memungkinkannya meloloskan undang-undang meski tidak menguasai Majelis Tinggi.
Dalam wawancara televisi setelah hasil sementara diumumkan, Takaichi menyebut pemilu kali ini sebagai momentum perubahan besar. “Ada pergeseran kebijakan ekonomi, fiskal, dan penguatan keamanan. Jika publik memberi dukungan, kami akan menjalankannya dengan sepenuh tenaga,” ujarnya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut mengucapkan selamat melalui media sosial dan menyebut kemenangan tersebut sebagai langkah besar bagi agenda konservatif dan keamanan berbasis kekuatan. Trump dijadwalkan menerima Takaichi di Gedung Putih bulan depan.
Pemilu Musim Dingin dan Partisipasi Tinggi
Pemilu kali ini tergolong langka karena digelar pada Februari, hanya ketiga kalinya sejak Perang Dunia II. Sejumlah wilayah dilanda badai salju, bahkan beberapa tempat pemungutan suara harus tutup lebih awal akibat cuaca ekstrem.
Meski demikian, pemilih tetap datang. Di Prefektur Niigata, guru berusia 54 tahun, Kazushige Cho, mengaku tetap memberikan suara untuk LDP meski suhu di bawah nol derajat. Ia menilai Takaichi mampu memberi arah baru bagi Jepang.
Takaichi, 64 tahun, dikenal sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang. Ia mengaku terinspirasi oleh mantan PM Inggris Margaret Thatcher. Sejak memimpin LDP akhir tahun lalu, tingkat popularitasnya meningkat, terutama di kalangan pemilih muda.
Fenomena ini bahkan memunculkan tren “sanakatsu” atau “Sanae-mania”. Sejumlah atribut pribadi Takaichi, seperti tas tangan dan pulpen berwarna merah muda yang digunakannya di parlemen, menjadi barang buruan pendukung.
Janji Pemotongan Pajak Picu Kekhawatiran Pasar
Salah satu janji kampanye utama Takaichi adalah menangguhkan pajak penjualan 8 persen untuk bahan makanan guna membantu rumah tangga menghadapi kenaikan harga. Kebijakan ini menjadi sorotan karena utang Jepang tercatat sebagai yang terbesar di antara negara maju.
Analis Daiwa Capital Markets Europe, Chris Scicluna, menilai rencana tersebut menyisakan pertanyaan besar terkait sumber pendanaan. Menanggapi hal itu, Takaichi menyatakan pemerintah akan mempercepat pembahasan pemotongan pajak sembari menjaga keberlanjutan fiskal.
Ketua federasi bisnis Jepang Keidanren, Yoshinobu Tsutsui, menyambut kemenangan Takaichi sebagai langkah memulihkan stabilitas politik di tengah fase krusial pertumbuhan ekonomi nasional.
Hubungan Jepang-China Kian Tegang
Di sisi lain, kebijakan keamanan Takaichi berpotensi memperkeruh hubungan Jepang dan China. Tak lama setelah menjabat, ia memicu ketegangan dengan Beijing setelah menyatakan secara terbuka bagaimana Tokyo dapat merespons jika China menyerang Taiwan.
China membalas dengan sejumlah langkah, termasuk imbauan kepada warganya untuk membatasi perjalanan ke Jepang. Sebaliknya, Presiden Taiwan Lai Ching-te termasuk pemimpin asing pertama yang memberi selamat atas kemenangan Takaichi.
Dengan mandat kuat di parlemen, Takaichi diperkirakan akan mempercepat agenda penguatan militer Jepang. Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyatakan pemerintah akan terus memperkuat pertahanan nasional, namun tetap membuka ruang dialog dengan China.
Analis geopolitik Asia Group, David Boling, menilai kemenangan Takaichi menjadi sinyal bahwa upaya Beijing untuk mengisolasinya tidak berhasil. “China kini harus menerima kenyataan bahwa Takaichi memiliki posisi yang sangat kuat di dalam negeri,” ujarnya.
Kemenangan telak ini menempatkan Takaichi dalam posisi strategis untuk menjalankan agenda ekonomi dan keamanan secara agresif, di tengah dinamika pasar keuangan global dan ketegangan geopolitik Asia Timur.