Akurat

Amnesty Internasional: Remaja di Korea Utara Dieksekusi karena Nonton “Squid Game” dan Dengarkan K-Pop

Fitra Iskandar | 9 Februari 2026, 11:02 WIB
Amnesty Internasional: Remaja di Korea Utara Dieksekusi karena Nonton “Squid Game” dan Dengarkan K-Pop

AKURAT.CO Organisasi hak asasi manusia Amnesty International mengungkap dugaan eksekusi remaja di Korea Utara karena menonton serial Korea Selatan “Squid Game” dan mendengarkan musik K-pop. Temuan ini dipublikasikan pada awal Februari berdasarkan kesaksian para pembelot dan saksi mata.

Dalam laporannya, Amnesty mengutip keterangan seorang pelarian yang memiliki keluarga di Provinsi Yanggang. Ia menyebut sejumlah warga, termasuk pelajar sekolah, dihukum mati karena mengakses drama populer asal Korea Selatan tersebut.

Selain eksekusi, Amnesty juga mendokumentasikan kasus hukuman kerja paksa dan penghinaan publik terhadap warga yang tertangkap mengonsumsi media Korea Selatan. Hukuman dinilai lebih berat bagi mereka yang tidak memiliki uang atau koneksi politik.

Kim Joonsik, 28 tahun, yang melarikan diri dari Korea Utara pada 2019, mengaku pernah tertangkap tiga kali saat menonton drama Korea Selatan. Namun ia tidak dijatuhi hukuman pidana karena keluarganya memiliki hubungan dengan pejabat setempat.

“Biasanya siswa SMA yang tertangkap hanya diberi peringatan jika keluarganya punya uang,” ujarnya kepada Amnesty.

Joonsik juga menuturkan tiga teman SMA saudara perempuannya dijatuhi hukuman kamp kerja paksa selama beberapa tahun pada akhir 2010-an setelah ketahuan menonton drama Korea Selatan. Ia menilai hukuman tersebut dijatuhkan karena keluarga mereka tidak mampu membayar suap.

Deputi Direktur Regional Amnesty International, Sarah Brooks, menilai pemerintah Korea Utara mengkriminalisasi akses informasi secara sistematis. Menurutnya, praktik tersebut melanggar hukum internasional sekaligus membuka ruang korupsi di kalangan aparat.

“Ketakutan pemerintah terhadap informasi membuat seluruh populasi terkurung dalam sangkar ideologis,” kata Brooks. Ia menambahkan, warga yang ingin mengetahui dunia luar atau sekadar mencari hiburan dari luar negeri justru menghadapi hukuman paling keras.

Sejumlah pembelot lain juga mengungkap praktik eksekusi publik di Korea Utara yang disaksikan pelajar sebagai bagian dari indoktrinasi negara. Kim Eunju, 40 tahun, mengatakan dirinya dipaksa menyaksikan eksekusi saat masih berusia 16–17 tahun.

“Orang-orang dieksekusi karena menonton atau menyebarkan media Korea Selatan. Itu bentuk pendidikan ideologi: jika menonton, inilah akibatnya,” ujarnya.

Laporan ini kembali menyoroti ketatnya kontrol informasi di Korea Utara, termasuk larangan keras terhadap budaya populer Korea Selatan seperti K-pop dan drama televisi, yang dinilai pemerintah setempat sebagai ancaman ideologi negara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.