AKURAT.CO Pemerintah Ukraina menyatakan telah mengidentifikasi dua warga negara Nigeria yang tewas saat bertempur di pihak Rusia dalam perang Rusia–Ukraina yang masih berlangsung. Informasi ini memperkuat laporan terbaru soal keterlibatan tentara asing dalam perang Ukraina, khususnya dari negara-negara Afrika.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis, intelijen militer Ukraina atau Defense Intelligence of Ukraine menyebut dua korban bernama Hamzat Kolawole dan Mbah Udoka. Jenazah keduanya ditemukan di wilayah Luhansk, Ukraina timur, yang menjadi salah satu zona pertempuran paling intens dalam konflik Rusia Ukraina.
Menurut otoritas Ukraina, kedua warga Nigeria tersebut bergabung dengan militer Rusia pada pertengahan hingga akhir 2025 setelah menandatangani kontrak. Namun, mereka disebut tidak menerima pelatihan militer yang memadai sebelum dikirim ke garis depan. “Udoka tidak menerima pelatihan sama sekali — hanya lima hari kemudian, pada 3 Oktober, ia langsung ditempatkan di unit dan dikirim ke wilayah Ukraina yang diduduki sementara.
Tidak ada catatan pelatihan Kolawole yang tersimpan, namun sangat mungkin ia juga tidak menerima pelatihan militer. Istri dan tiga anaknya tetap berada di Nigeria,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Keduanya dilaporkan tewas pada November saat mencoba menyerbu posisi pasukan Ukraina di Luhansk. Intelijen militer menyatakan mereka tidak sempat terlibat baku tembak karena langsung terkena serangan drone. Otoritas menyebut mereka sebagai tentara bayaran yang direkrut untuk memperkuat pasukan Rusia dalam perang Ukraina.
Sejak 2025, laporan mengenai perekrutan warga Nigeria dan negara Afrika lainnya untuk bertempur di pihak Rusia dalam perang Ukraina semakin sering muncul. Sejumlah investigasi media internasional mengungkap adanya pola perekrutan dengan iming-iming pekerjaan, gaji tinggi, hingga peluang pendidikan, namun berujung pada penempatan di zona tempur.
Laporan The New York Times menyebut jumlah korban tewas dari pihak Rusia dan Ukraina dalam hampir empat tahun perang telah mencapai sekitar dua juta tentara. Sementara itu, investigasi CNN menemukan pemuda Afrika dari Nigeria, Ghana, Kenya, dan Uganda direkrut ke Rusia melalui tawaran kerja palsu, lalu diarahkan ke garis depan pertempuran.
Temuan serupa juga diungkap media Nigeria Punch, yang melaporkan sejumlah warga Nigeria ditekan menandatangani kontrak militer setibanya di Rusia tanpa penerjemah maupun pendamping hukum. Kontrak tersebut kemudian mengikat mereka untuk ikut bertempur dalam konflik Rusia Ukraina.
Investigasi lain menunjukkan praktik perekrutan juga menyasar perempuan muda Afrika. Laporan kolaboratif antara ZAM dan Premium Times mengungkap adanya skema yang menjanjikan pelatihan, beasiswa, dan pekerjaan stabil di Rusia bagi perempuan usia 18–22 tahun, namun berujung pada eksploitasi.
Program yang disorot dalam investigasi tersebut adalah Alabuga Start, inisiatif yang didukung negara Rusia dan dipromosikan sebagai program beasiswa dua tahun dengan pendanaan penuh. Dengan materi promosi yang tampak resmi, program itu dinilai meyakinkan. Di Nigeria, perekrutan disebut melibatkan agen tidak berlisensi dan promosi masif melalui media sosial, terutama menyasar perempuan muda dari latar belakang ekonomi lemah.