Rusia Bantah BRICS akan Berkembang Menjadi Aliansi Militer

AKURAT.CO Di tengah dinamika geopolitik dan perluasan peran ekonomi negara-negara berkembang, posisi dan arah kerja sama BRICS rentan dicurigai akan berkembang ke arah kepentingan militer. Kekhawatiran itu dibantah pemerintah Rusia. Moskow menegaskan bahwa blok tersebut tetap berfokus pada agenda ekonomi dan tidak akan diarahkan menjadi pakta pertahanan atau aliansi militer.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov membantah bahwa BRICS berupaya bertransformasi menjadi aliansi militer.
Dalam wawancara dengan kantor berita pemerintah Rusia TASS pada Sabtu, Ryabkov menegaskan BRICS bukan aliansi militer maupun organisasi keamanan kolektif yang memiliki kewajiban bantuan militer timbal balik.
“BRICS sejak awal tidak dibentuk dengan semangat tersebut, dan tidak ada rencana untuk mengarah ke sana,” kata Ryabkov. Ia menambahkan, portofolio kerja sama blok itu tidak mencakup latihan militer bersama maupun pengendalian senjata.
Ryabkov juga menepis anggapan bahwa latihan angkatan laut di Afrika Selatan baru-baru ini merupakan agenda resmi BRICS. Menurutnya, negara-negara yang terlibat berpartisipasi atas nama masing-masing. Latihan bertajuk “Will for Peace 2026” yang berlangsung pada 9–16 Januari itu diikuti oleh China, Iran, dan Rusia.
Saat ditanya apakah BRICS dapat melindungi kapal tanker milik negara anggota dari serangan dan menjamin keamanannya, Ryabkov menyebut kapasitas blok tersebut terbatas pada peningkatan logistik dan perlindungan yang lebih besar dari sanksi. Urusan keamanan, katanya, harus dijamin melalui mekanisme lain.
Solidaritas untuk Iran
BRICS dibentuk pada 2009 oleh Brasil, Rusia, India, dan China, lalu Afrika Selatan bergabung pada 2010. Keanggotaan kemudian diperluas dengan masuknya Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Ethiopia, Indonesia, dan Iran, serta didukung sejumlah negara mitra.
Menurut Ryabkov, pertumbuhan perdagangan antarnegara BRICS melampaui rata-rata global. Hal itu dinilai menjadi indikasi bahwa BRICS, meski bukan “tongkat sihir”, tetap mampu membantu penyelesaian berbagai persoalan ekonomi.
Ia mengatakan BRICS dapat dan perlu menyatakan solidaritas kepada Iran. Moskow dan Beijing disebut terus berkomunikasi dengan Teheran untuk membantu menciptakan “lingkungan politik yang kondusif” bagi negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Fokus saat ini, ujarnya, adalah pada perundingan yang dijalankan Iran dengan para mitranya, termasuk komunikasi tidak langsung dengan Washington melalui mediator negara-negara Arab, dan proses tersebut diyakini akan terus berlanjut.
Pembicaraan Tidak Langsung AS–Iran
Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Muscat pada 6 Februari dengan mediasi Oman untuk membahas program nuklir Teheran. Pertemuan itu menandai berakhirnya jeda sekitar delapan bulan setelah serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran dalam perang Iran–Israel selama 12 hari pada Juni 2025.
Washington juga meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar segera mencapai kesepakatan baru di tengah tekanan ekonomi domestik.
Isu pengayaan uranium tetap menjadi titik sengketa utama, dengan AS menuntut Iran menghentikan pengayaan dan memindahkan stok uranium yang diperkaya tingkat tinggi ke luar negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









