Lakukan Restrukturisasi Besar, Washington Post Pangkas Ratusan Karyawan

AKURAT.CO The Washington Post, media ternama milik pendiri Amazon Jeff Bezos, mengumumkan pemangkasan besar-besaran tenaga kerja pada Rabu waktu setempat (4/2). Manajemen menyebut restrukturisasi ini sebagai langkah “menyakitkan” namun perlu untuk menyelamatkan masa depan perusahaan.
Pemimpin redaksi eksekutif Matt Murray mengatakan jumlah karyawan redaksi akan dikurangi secara signifikan. Washington Post dikenal luas sejak liputannya berperan dalam membongkar skandal Watergate yang berujung pada jatuhnya Presiden Richard Nixon.
Langkah ini terjadi saat banyak media arus utama di Amerika Serikat menghadapi tekanan politik dan penurunan bisnis. Presiden Donald Trump berulang kali menyerang media dengan sebutan “fake news” serta melayangkan sejumlah gugatan hukum terkait pemberitaan tentang pemerintahannya.
Jeff Bezos, salah satu orang terkaya dunia, dalam periode kedua pemerintahan Trump dinilai semakin dekat dengan Gedung Putih. Perusahaan Amazon juga menuai sorotan setelah dilaporkan membayar sekitar US$40 juta untuk film dokumenter tentang Ibu Negara Melania Trump, ditambah sekitar US$35 juta untuk pemasaran.
Dalam memo kepada karyawan, Murray menyebut restrukturisasi dilakukan karena model bisnis media berita telah berubah drastis. Menurutnya, perubahan ekosistem informasi, munculnya konten murah berdampak besar, serta konten berbasis AI ikut menekan industri media.
Ia menilai struktur organisasi Post masih terlalu bertumpu pada model lama sebagai media cetak lokal dominan. Ke depan, fokus liputan akan diarahkan ke politik, keamanan nasional, teknologi, investigasi, dan bisnis.
Manajemen tidak menyebut angka pasti PHK. Namun laporan The New York Times menyebut sekitar 300 dari 800 jurnalis terkena pemutusan hubungan kerja. Banyak koresponden luar negeri dilepas, termasuk seluruh tim Timur Tengah dan koresponden Ukraina di Kyiv.
Departemen olahraga, grafis, dan berita lokal juga dipangkas. Podcast harian “Post Reports” dilaporkan ikut dihentikan. Bahkan reporter yang meliput Amazon — perusahaan dengan valuasi sekitar US$2,6 triliun — termasuk yang terdampak PHK.
Serikat pekerja yang mewakili jurnalis Post menilai pemangkasan ini berisiko merusak kredibilitas dan jangkauan media tersebut. Mereka menyerukan aksi dukungan di depan kantor pusat Washington Post.
Direktur komunikasi Gedung Putih Steven Cheung menanggapi sinis kabar tersebut dengan menyebut “mencetak berita palsu bukan model bisnis yang menguntungkan.”
Mantan pemimpin redaksi Marty Baron menyebut keputusan manajemen puncak sebagai salah satu periode tergelap dalam sejarah Washington Post. Ia menilai sejumlah keputusan strategis Bezos, termasuk membatasi sikap editorial dan tidak mendukung kandidat Demokrat Kamala Harris pada Pilpres 2024, membuat banyak pelanggan digital hengkang.
Laporan Wall Street Journal menyebut sekitar 250.000 pelanggan digital berhenti berlangganan setelah keputusan tersebut. Sepanjang 2024, Post dilaporkan merugi sekitar US$100 juta akibat turunnya pendapatan iklan dan langganan.
Sebagai perbandingan, The New York Times justru melaporkan penambahan lebih dari satu juta pelanggan digital pada 2025, dengan total mendekati 13 juta pelanggan, memperkuat posisinya sebagai media terbesar di pasar AS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









