Intelijen Turki Tangkap 6 Orang Terkait Jaringan Spionase Iran

AKURAT.CO Otoritas intelijen Turki menangkap enam orang yang diduga terlibat jaringan spionase terkait Iran. Kelompok tersebut dituduh mengumpulkan informasi sensitif militer dan keamanan negara, demikian dilaporkan harian Daily Sabah, Rabu (28/1).
Menurut laporan tersebut, jaringan spionase itu melakukan pengintaian di sekitar Pangkalan Udara Incirlik di Turki selatan serta menyamarkan aktivitasnya melalui kegiatan bisnis komersial.
Penyelidikan mengungkap jaringan tersebut dikendalikan oleh dua perwira intelijen Iran, Najaf Rostami yang dikenal dengan nama sandi “Haji” dan Mahdi Yekeh Dehghan yang disebut “Doctor”.
Salah satu tersangka, warga negara Iran bernama Ashkan Jalali yang berbasis di Ankara, disebut merancang pengiriman pesawat nirawak bersenjata dari Turki ke Republik Turki Siprus Utara dan Siprus Yunani melalui perusahaan miliknya, Bulaq Robotics dan Arete Industries.
Daily Sabah melaporkan Jalali bersama tersangka lain, Alican Koç, mengikuti pelatihan khusus pesawat nirawak di Iran pada Agustus dan September 2025.
Dalam penggerebekan yang berpusat di Istanbul, polisi menahan pemilik perusahaan industri pertahanan Erhan Ergelen dan Taner Özcan, pengusaha tekstil Cemal Beyaz dan Remzi Beyaz, serta Koç dan Jalali. Pengadilan Istanbul kemudian menetapkan keenamnya sebagai tersangka dan menahan mereka dengan tuduhan memperoleh informasi rahasia negara untuk kepentingan spionase politik atau militer.
Laporan tersebut juga menyebut Ergelen dan Özcan sempat melakukan perjalanan ke Iran pada Oktober 2025 dan berperan dalam rencana pengiriman drone ke Siprus Yunani. Dalam kesaksiannya, Remzi Beyaz mengaku pernah ditawari sejumlah uang untuk terlibat dalam rencana pembunuhan terhadap pembangkang Iran.
Jaringan ini disebut menggunakan aplikasi pesan terenkripsi dengan nama sandi “Güvercin” serta mendanai kegiatannya dengan menyamarkan operasi intelijen sebagai perdagangan drone komersial.
Sementara itu, di Amerika Serikat, otoritas imigrasi AS mendeportasi tiga mantan anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) menyatakan ketiganya dipulangkan ke Iran pada akhir pekan lalu.
ICE mengidentifikasi ketiga orang tersebut sebagai Ehsan Khaledi, Mohammad Mehrani, dan Morteza Nasirikakolaki. Mereka disebut masuk ke Amerika Serikat secara ilegal sepanjang 2024 dan telah menerima perintah deportasi final dari hakim federal.
Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyebut ketiganya termasuk dalam 14 warga negara Iran yang dipulangkan ke Teheran, dalam penerbangan deportasi pertama sejak Iran diguncang protes nasional yang dibalas dengan penindakan keras oleh pemerintah.
IRGC merupakan pasukan elite Iran yang berada di luar struktur militer reguler dan berada langsung di bawah kendali Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Amerika Serikat menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris asing pada 2019.
Deportasi tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan siap menggunakan kekuatan militer jika Iran terus melakukan eksekusi dan penindasan kekerasan terhadap aksi protes. Amerika Serikat juga dilaporkan meningkatkan kehadiran militernya di kawasan dalam beberapa pekan terakhir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









