Rusia Samakan Aneksasi Crimea dengan Posisi Greenland bagi Amerika Serikat
AKURAT.CO Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov membandingkan aneksasi Rusia atas Crimea dengan posisi strategis Greenland bagi Amerika Serikat (AS).
Pernyataan itu disampaikan Lavrov dalam konferensi pers akhir tahun 2025 pada Selasa, 20 Januari. Ia meminta publik melihat situasi Crimea dari sudut pandang yang sama seperti Greenland.
“Coba tempatkan rakyat Crimea pada posisi rakyat Greenland, maka banyak hal akan menjadi jelas,” kata Lavrov.
Lavrov menyebut bahwa proses di Crimea terjadi setelah apa yang ia klaim sebagai kudeta tidak konstitusional di Ukraina, yang kemudian diikuti dengan referendum.
“Di Greenland tidak ada kudeta. Seperti yang dikatakan Presiden AS Donald Trump, wilayah itu penting bagi keamanan Amerika Serikat. Crimea tidak kalah penting bagi keamanan Federasi Rusia dibandingkan Greenland bagi Amerika Serikat,” ujarnya.
Meski demikian, Lavrov mengatakan tidak ada bukti bahwa wilayah otonom Denmark tersebut akan “direbut oleh Rusia atau China”.
“Kami berangkat dari fakta bahwa Rusia tidak ada kaitannya dengan isu ini. Kami hanya mengamati. Ini jelas merupakan situasi geopolitik yang serius,” kata Lavrov. Ia menambahkan Moskow akan menarik kesimpulan berdasarkan cara masalah tersebut diselesaikan.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan kekhawatirannya terhadap meningkatnya aktivitas militer Rusia dan China di sekitar Greenland. Ia menyebut keberadaan kapal perusak Rusia, kapal China, serta kapal selam Rusia di kawasan tersebut sebagai ancaman.
“Kami tidak akan membiarkan Rusia atau China menduduki Greenland. Itulah yang akan mereka lakukan jika kami tidak bertindak,” kata Trump, seperti dikutip PBS NewsHour.
Pejabat Denmark dan sejumlah negara Eropa menegaskan bahwa Greenland berada di bawah perlindungan pertahanan kolektif NATO. Selain itu, kehadiran militer AS di Greenland telah diatur melalui perjanjian bilateral sejak 1951.
Singgung Penahanan Kapal Marinera
Dalam konferensi pers yang sama, Lavrov juga menyinggung penahanan kapal tanker Marinera (sebelumnya bernama Bella 1) yang ditahan pada 7 Januari di Atlantik Utara berdasarkan surat perintah pengadilan federal AS terkait dugaan pelanggaran sanksi Amerika.
Lavrov mengatakan pihak AS telah meyakinkan Moskow bahwa dua warga negara Rusia dari awak kapal tersebut akan dibebaskan. Namun, ia menyebut janji tersebut hingga kini belum direalisasikan.
“Kami berharap rekan-rekan Amerika akan menepati komitmen mereka,” ujar Lavrov.
Kapal Bella 1 sebelumnya berlayar dengan bendera Panama dan mencoba mendekati perairan Venezuela meski ada blokade AS. Pada Desember 2025, Penjaga Pantai AS berupaya menahannya, namun awak kapal—yang terdiri dari warga Rusia, Ukraina, dan India—menolak dan mengubah arah secara drastis.
Awak kapal kemudian mengecat bendera Rusia di lambung kapal. Beberapa hari kemudian, kapal tersebut berganti nama menjadi Marinera dan terdaftar di Russian Maritime Register of Shipping.
Operasi penahanan dilakukan dengan dukungan Departemen Kehakiman, Keamanan Dalam Negeri, dan Pertahanan AS. Aksi naik kapal dilakukan sebelum kedatangan kapal perang dan kapal selam Rusia yang sempat bergerak menuju posisi Marinera.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









