Usai Serangan Geng yang Sandera Puluhan Sipir, Guatemala Berlakukan Status Siaga 30 Hari

AKURAT.CO Presiden Guatemala Bernardo Arévalo menetapkan status siaga selama 30 hari pada Minggu menyusul serangkaian serangan mematikan yang diduga dilakukan kelompok geng. Sedikitnya tujuh anggota kepolisian tewas dalam serangan di ibu kota Guatemala City dan sekitarnya.
Tujuh Polisi Tewas dalam Serangan Balasan
Kementerian Dalam Negeri Guatemala menyatakan, serangan tersebut merupakan aksi balasan geng setelah aparat keamanan merebut kembali kendali salah satu penjara keamanan maksimum. Menteri Dalam Negeri Marco Antonio Villeda mengatakan, kelompok bersenjata menewaskan tujuh polisi nasional dan melukai 10 lainnya. Satu anggota geng juga dilaporkan tewas.
Polisi telah menangkap tujuh anggota geng, menyita dua senapan api, serta mengamankan dua kendaraan yang diduga digunakan dalam aksi kejahatan tersebut.
Kerusuhan di Penjara dan Pembebasan Sandera
Sebelum serangan terjadi, ratusan polisi antihuru-hara menggerebek Penjara Renovación di Escuintla, sekitar 76 kilometer di barat daya ibu kota. Operasi itu bertujuan membebaskan sembilan petugas penjara yang disandera narapidana.
Presiden Arévalo memastikan seluruh sandera berhasil dibebaskan tanpa korban jiwa. Otoritas kemudian merebut kembali dua penjara lain di Guatemala City, membebaskan total 34 petugas yang sebelumnya ditahan.
Pernyataan Presiden: Pemerintah Tidak Akan Mundur
Dalam pidato nasional, Arévalo menyebut kerusuhan penjara sebagai upaya geng memaksa negara memenuhi tuntutan mereka. “Mereka membuat kerusuhan di penjara dan menyandera petugas dengan tujuan memaksa negara menerima tuntutan mereka,” kata Arévalo.
Ia menegaskan serangan terhadap polisi merupakan “upaya meneror aparat keamanan dan masyarakat agar pemerintah mundur dari perang terbuka melawan geng.”
Status Siaga dan Pembatasan Hak Sipil
Pemberlakuan status siaga masih memerlukan persetujuan parlemen, namun dapat langsung diterapkan sebelum pemungutan suara. Konstitusi Guatemala memungkinkan langkah tersebut dalam kondisi kekerasan serius atau kejahatan terorganisasi yang melampaui kemampuan aparat sipil.
Status siaga memungkinkan pembatasan sejumlah hak konstitusional, termasuk kebebasan bergerak, berkumpul, dan berdemonstrasi. Arévalo menyatakan kebijakan ini diperlukan untuk menjamin keselamatan warga dan memaksimalkan upaya pemberantasan geng kriminal.
Akar Kerusuhan: Pencabutan Hak Istimewa Narapidana
Kerusuhan serentak di tiga penjara terjadi sebagai bentuk protes atas pencabutan hak istimewa sejumlah pemimpin geng yang sedang menjalani hukuman. Otoritas menyebut pemimpin geng kerap mengendalikan aksi kekerasan dari balik penjara.
Ancaman Geng dan Langkah Keamanan Tambahan
Geng Barrio 18 dan Mara Salvatrucha merupakan kelompok kriminal paling berpengaruh di Guatemala, juga aktif di negara-negara tetangga seperti Honduras dan El Salvador.
Menyusul meningkatnya ketegangan, Kementerian Pendidikan Guatemala menangguhkan kegiatan belajar mengajar pada Senin demi keselamatan siswa dan tenaga pendidik. Kepolisian juga memperketat pengamanan di sejumlah penjara serta meningkatkan patroli gabungan dengan militer.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









