Akurat

Putri Eks Presiden Afrika Selatan Dituduh Merekrut 17 Pria untuk Perang di Ukraina

Kumoro Damarjati | 5 Desember 2025, 13:15 WIB
 Putri Eks Presiden Afrika Selatan Dituduh Merekrut 17 Pria untuk Perang di Ukraina

AKURAT.CO Hubungan internal keluarga mantan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma turut menjadi sorotan setelah putri tertuanya menuduh saudara tirinya merekrut 17 pria — termasuk sejumlah kerabat — untuk bertempur bersama Rusia dalam perang di Ukraina.

Kasus ini kembali membuka isu perekrutan warga Afrika untuk bergabung dengan militer Rusia, di tengah krisis personel di pihak Moskow dan kedekatan historis antara Rusia dengan mantan anggota African National Congress (ANC). Zuma, yang mundur dari jabatan presiden pada 2018 akibat kasus korupsi, diketahui pernah menerima pelatihan militer di Uni Soviet pada era apartheid.

Duduzile Zuma-Sambudla Dituding Menipu Warga

Duduzile Zuma-Sambudla (43), salah satu dari hampir dua lusin anak Jacob Zuma, dituduh terlibat dalam perekrutan warga Afrika Selatan ke wilayah konflik Donbas, Ukraina. Ia sebelumnya dikenal sebagai pendukung kuat Presiden Rusia Vladimir Putin dan aktif menyuarakan dukungan tersebut di media sosial.

Zuma-Sambudla mengundurkan diri sebagai anggota parlemen pekan lalu setelah saudara tirinya, Nkosazana Zuma-Mncube, melaporkan dugaan tindak pidana kepada pihak berwenang.

Pengunduran diri itu terjadi setelah pemerintah Afrika Selatan membuka penyelidikan terkait 17 warganya yang terjebak di Donbas dan meminta dipulangkan. Pemerintah menyebut mereka direkrut dengan janji pekerjaan berbayar tinggi dan program pelatihan keamanan.

Menurut Zuma-Mncube, tindakan saudara tirinya berperan dalam keberangkatan para pria tersebut. Zuma-Sambudla belum memberikan pernyataan publik.

Hukum di Afrika Selatan melarang warga negara bergabung dengan militer asing tanpa izin resmi pemerintah.

Tuduhan Berlapis dan Proses Hukum Berjalan

Selain laporan terbaru, Zuma-Sambudla juga menghadapi tuduhan terpisah terkait penghasutan terorisme dan kekerasan publik pada kerusuhan tahun 2021 yang menewaskan lebih dari 300 orang setelah ayahnya dipenjara karena menghina pengadilan. Ia mengaku tidak bersalah atas dakwaan tersebut.

Partai oposisi, Democratic Alliance, juga melayangkan laporan pidana setelah berdiskusi dengan keluarga para korban.

Anggota parlemen dari partai tersebut, Chris Hattingh, menyatakan bahwa seluruh keluarga memberikan kesaksian serupa — bahwa para pria tersebut tertipu mengikuti pelatihan keamanan yang ternyata diduga menjadi jalur perekrutan kombatan.

Hattingh mengatakan para pria tersebut diduga dipaksa setelah tiba di Rusia. “Pakaian dan paspor mereka dibakar, ponsel dirampas, dan kontak dengan keluarga terputus,” ujarnya kepada penyiar nasional SABC.

Pembelaan Zuma-Sambudla

Dalam pernyataan tertulis kepada polisi yang dikutip media lokal Daily News, Zuma-Sambudla mengaku dirinya juga tertipu oleh seseorang bernama “Khoza”, yang mengklaim mewakili program pelatihan paramiliter yang sah di Rusia.

Ia mengatakan pernah mengikuti pelatihan serupa selama satu bulan tanpa dilibatkan dalam pertempuran, sehingga merekomendasikan 22 orang lain untuk bergabung. Dari jumlah tersebut, 17 kini dilaporkan berada di garis depan sebagai bagian dari pasukan Rusia di Donetsk.

“Saya percaya program itu legal dan aman berdasarkan pengalaman saya. Saya juga dimanipulasi,” tulisnya.

Ia menyatakan siap bekerja sama dalam penyelidikan.

Penyelidikan Berlanjut, Rusia Bungkam

Kepolisian Afrika Selatan menyatakan sedang menyelidiki dugaan perdagangan manusia, perekrutan ilegal, eksploitasi, dan penipuan dalam kasus tersebut.

CNN telah meminta tanggapan kepada Kementerian Pertahanan dan Luar Negeri Rusia. Pada November lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan Moskow belum menerima permintaan resmi dari Pretoria terkait kasus tersebut.

Rusia sebelumnya membantah memaksa warga asing bergabung dalam militernya.

Perekrutan Warga Afrika Semakin Meluas

Pemerintah Ukraina sebelumnya menyebut lebih dari 1.400 warga dari 36 negara Afrika bertempur untuk Rusia, banyak di antaranya dikirim ke serangan garis depan yang berisiko tinggi.

Kasus serupa juga dilaporkan terjadi di Kenya, di mana lebih dari 200 warganya diduga direkrut untuk berperang. Seorang pria Kenya diberitakan tewas satu bulan setelah tiba di Rusia untuk pekerjaan yang diiklankan sebagai sopir.

Menurut analis, perekrutan dilakukan melalui jaringan daring menggunakan iklan di Telegram dan Facebook dengan iming-iming gaji hingga USD 2.500 dan fasilitas lengkap.

Namun, menurut akademisi hukum Paul Mudau, sesampainya di Rusia, para perekrut menyerahkan calon kombatan ke otoritas militer untuk dipaksa menandatangani kontrak dan dikirim ke garis depan dengan pelatihan minimal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.