Finlandia Mundur dari Rencana Jaminan Keamanan Ukraina

AKURAT.CO Finlandia memastikan tidak akan memberikan jaminan keamanan formal kepada Ukraina, namun tetap menyatakan kesiapan mendukung penguatan kerangka keamanan regional bagi Kyiv.
Pernyataan ini menunjukkan perubahan dari sikap awal Helsinki, meski Presiden Finlandia Alexander Stubb termasuk salah satu pemimpin Eropa yang terlibat dalam pembahasan proposal perdamaian Ukraina di Gedung Putih.
Langkah tersebut muncul di tengah pembahasan dukungan jangka panjang dari Eropa dan Amerika Serikat bagi Ukraina, sementara Rusia terus menolak kemungkinan pengerahan pasukan asing ke wilayah Ukraina.
Finlandia Hanya Siap Berpartisipasi dalam “Pengaturan Keamanan”
Perdana Menteri Finlandia Petteri Orpo mengatakan kepada media nasional Yle pada Selasa bahwa pemerintahnya belum siap memberikan jaminan keamanan dan hanya mempertimbangkan keterlibatan dalam bentuk pengaturan keamanan yang lebih longgar.
Saat ditanya apakah Finlandia telah menerima rincian proposal jaminan keamanan dari AS atau skema yang menyerupai Pasal 5 NATO, Orpo menegaskan belum ada proposal konkret.
“Kami belum melakukan pembahasan apa pun. Saya tidak tahu mengapa Finlandia dicantumkan dalam dokumen tersebut. Jaminan keamanan adalah hal yang sangat serius,” ujar Orpo dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson.
“Kami tidak siap dengan jaminan keamanan, tetapi kami dapat membantu melalui pengaturan keamanan. Keduanya sangat berbeda,” tambahnya.
Menurut laporan Yle sebelumnya, Finlandia disebut dalam lampiran khusus dari rancangan proposal 28 poin yang sedang dibahas.
Orpo menegaskan, keputusan akhir soal jaminan keamanan kemungkinan akan ditentukan oleh negara-negara besar Eropa dan AS.
Kristersson menambahkan bahwa dukungan Eropa untuk Ukraina kemungkinan akan berbentuk pelatihan militer serta pengiriman perlengkapan, dan menilai perdebatan publik mengenai jaminan keamanan dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Presiden Finlandia: Syarat “Perdamaian yang Adil” Sulit Terpenuhi
Dalam wawancara terpisah dengan MTV Uutiset yang tayang Rabu, Presiden Stubb menilai peluang terwujudnya “perdamaian yang adil” sesuai harapan Ukraina semakin mengecil.
“Situasinya adalah perdamaian bisa baik, buruk, atau kompromi. Finlandia harus siap dengan semua kemungkinan, karena syarat perdamaian yang ideal kemungkinan tidak terpenuhi,” kata Stubb.
Ia menyebut saat ini proses menuju perundingan perdamaian semakin dekat, meski belum ada kepastian hasil.
Pernyataan itu muncul setelah pertemuan hampir lima jam antara utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa malam, yang menurut Kremlin tidak menghasilkan kompromi.
Sebelum pertemuan tersebut, Putin menuding Eropa menghambat upaya perdamaian dan menyatakan bahwa Rusia siap menghadapi eskalasi jika terjadi perang dengan Eropa.
Eropa Tunggu Kejelasan Format Dukungan Jangka Panjang
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Finlandia Elina Valtonen mengatakan dalam forum menteri luar negeri NATO pada Rabu bahwa negara-negara Eropa akan mendapatkan pembaruan mengenai proses negosiasi tersebut.
“Rusia tidak bersedia membuat kompromi,” ujarnya.
Valtonen menegaskan bahwa perdamaian tidak boleh menciptakan Ukraina yang lemah dan harus memastikan negara tersebut mampu mencegah invasi maupun tekanan politik di masa depan.
Hingga kini belum jelas bentuk komitmen keamanan jangka panjang bagi Ukraina jika proses diplomasi berlanjut, atau apakah dukungan tersebut cukup mencegah serangan baru dari Rusia.
Negara-negara Barat tetap menekankan penguatan kemampuan pertahanan Ukraina, tanpa memberikan janji yang berpotensi menyeret pasukan asing ke medan perang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









