Kunjungan Bersejarah: Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa Sambangi Gedung Putih Bertemu Donald Trump

AKURAT.CO Kunjungan bersejarah terjadi di Washington, Amerika Serikat (AS). Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, untuk pertama kalinya sejak Suriah merdeka 79 tahun lalu, menginjakkan kaki di Gedung Putih dan bertemu langsung dengan Presiden AS Donald Trump.
Pertemuan itu menandai perubahan besar dalam hubungan kedua negara yang selama ini diwarnai ketegangan dan konflik berkepanjangan. Dalam keterangan resmi yang dikutip AFP, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa "pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden al-Sharaa telah dimulai pada Selasa (11/11/2025)."
Dari Daftar Teror ke Ruang Diplomasi
Kunjungan Sharaa ke AS terjadi hanya beberapa hari setelah Washington menghapus namanya dari daftar hitam terorisme. Langkah ini dianggap sebagai sinyal kuat perubahan sikap Amerika terhadap kepemimpinan baru di Damaskus.
Sebelum terpilih sebagai presiden pada akhir tahun lalu, Sharaa dikenal sebagai pemimpin kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang pernah berafiliasi dengan Al-Qaeda. Namun kelompok itu telah dihapus dari daftar organisasi teroris oleh AS pada Juli 2025, diikuti pencabutan status Sharaa sendiri pada 7 November.
Upaya Rehabilitasi Citra Suriah
Pemerintahan baru Suriah di bawah al-Sharaa kini berupaya keras meninggalkan jejak masa lalu yang penuh kekerasan. Ia mencoba menampilkan citra yang lebih moderat dan terbuka terhadap kerja sama internasional, baik kepada rakyatnya maupun dunia luar.
Utusan AS untuk Suriah, Tom Barrack, bahkan menyebut Sharaa tengah mempertimbangkan untuk menandatangani perjanjian bergabung dengan aliansi internasional pimpinan AS dalam memerangi ISIS.
Selain itu, Washington juga mendorong inisiatif perdamaian antara Suriah dan Israel, sebagai bagian dari upaya Presiden Trump untuk memperkuat gencatan senjata di Gaza dan membangun stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Fokus pada Pemulihan Ekonomi Suriah
Bagi Suriah, kunjungan ini bukan sekadar langkah diplomatik, tetapi juga peluang untuk mendapatkan dukungan finansial setelah 13 tahun perang saudara yang menghancurkan.
Selama berada di Washington, Sharaa dilaporkan telah bertemu Kepala IMF Kristalina Georgieva untuk membahas potensi bantuan dana rekonstruksi.
Kunjungan ini menyusul momen penting lainnya, yakni pidato Sharaa di Majelis Umum PBB di New York beberapa minggu sebelumnya—penampilan pertama seorang presiden Suriah di forum tersebut dalam beberapa dekade. Tak lama setelah itu, Dewan Keamanan PBB yang dipimpin AS juga mencabut sanksi terhadap Suriah.
Menjembatani Timur dan Barat
Menariknya, meski mulai mendekat ke Washington, al-Sharaa tetap menjaga komunikasi dengan sekutu lama Suriah. Pada Oktober lalu, ia bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, menandai pertemuan pertama antara kedua negara sejak penggulingan Bashar al-Assad.
Langkah diplomatik Sharaa menunjukkan ambisi Damaskus untuk menyeimbangkan hubungan antara Barat dan Timur, sekaligus membuka jalan bagi babak baru perdamaian dan rekonstruksi di Suriah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









