Kronologi Penikaman Massal di Kereta Doncaster–London: 10 Korban Kritis, 2 Pelaku Ditangkap

AKURAT.CO Insiden penikaman massal terjadi di dalam kereta LNER rute Doncaster–London King’s Cross pada Sabtu malam, 18:25 GMT. Peristiwa tersebut menyebabkan sedikitnya 10 orang terluka parah, dan sembilan di antaranya kini berada dalam kondisi kritis. Polisi Transportasi Inggris (BTP) langsung menetapkan peristiwa itu sebagai insiden besar, dengan dukungan unit anti-teror dalam penyelidikan awal.
Kronologi Kejadian
Sekitar pukul 19.39 waktu setempat, polisi menerima laporan mengenai aksi penikaman beruntun di dalam kereta yang baru melewati Peterborough. Kereta kemudian menghentikan perjalanan secara darurat di Stasiun Huntingdon, Cambridgeshire. Saat pintu dibuka, situasi kacau terlihat jelas: penumpang yang penuh luka berhamburan keluar, beberapa berteriak meminta tolong, sementara darah terlihat menetes di sepanjang peron.
Salah satu penumpang, Olly Foster, menceritakan bahwa ia mendengar teriakan panik dari gerbong lain: “Lari, ada orang yang menusuk semua orang!” Awalnya ia mengira itu bagian dari lelucon Halloween, tetapi rasa panik di dalam kereta segera menyadarkannya bahwa ini serangan sungguhan. Ketika penumpang saling dorong mencari jalan keluar, ia baru menyadari tangannya dipenuhi darah, yang ternyata berasal dari kursi yang ia sentuh.
Foster juga melihat seorang pria lanjut usia dengan berani menghalangi pelaku untuk melindungi seorang gadis, hingga kepalanya terluka cukup serius. Beberapa penumpang berusaha menekan pendarahan menggunakan jaket mereka. Ia menyebut bahwa satu-satunya benda yang bisa digunakan untuk melawan pelaku hanyalah sebotol wiski, dan sisanya hanya bergantung pada doa agar pelaku tidak masuk ke gerbong mereka. Walaupun peristiwa itu hanya berlangsung sekitar 10 hingga 15 menit, Foster menggambarkannya “terasa seperti selamanya”.
Saksi lain, Wren Chambers, menyadari sesuatu yang tidak beres ketika seorang pria berlari menyusuri gerbong dengan lengan berlumuran darah sambil berteriak, “Mereka bawa pisau, lari!” Chambers dan temannya langsung bergerak ke bagian depan kereta dan berhasil keluar dengan selamat sebelum pelaku masuk ke gerbong tersebut. Ia mengaku “sangat stres dan ketakutan” ketika memahami situasi yang sedang terjadi.
Sementara itu, laporan lain menyebut bahwa beberapa penumpang memilih bersembunyi di toilet gerbong untuk menghindari pelaku. Seorang saksi yang berbicara kepada Sky News mengatakan ia melihat pelaku dilumpuhkan polisi dengan taser sebelum ditangkap.
Penangkapan dan Respons Polisi
Begitu kereta berhenti, puluhan polisi bersenjata telah berjaga di peron. Dua orang langsung diamankan sebagai tersangka. Hingga Minggu siang, polisi belum mengungkap identitas keduanya ataupun motif penyerangan. Meski unit anti-teror ikut terlibat, pejabat pemerintahan menyebut penilaian awal menunjukkan bahwa insiden ini kemungkinan merupakan serangan tunggal dan tidak terkoordinasi.
British Transport Police menjelaskan bahwa dari 10 korban yang dilarikan ke rumah sakit, sembilan berada dalam kondisi mengancam jiwa. Status darurat dengan kode “Plato” – protokol yang biasa digunakan untuk menghadapi potensi serangan teror – sempat diaktifkan, namun kemudian dicabut setelah situasi dinilai terkendali.
Pihak berwenang menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan diperlukan waktu untuk memastikan motif penyerangan. “Pada tahap awal seperti ini, tidak tepat berspekulasi mengenai penyebab insiden,” ujar Kepala Superintenden Chris Casey.
Situasi Setelah Kejadian
Serangan terjadi ketika kereta berada sekitar separuh perjalanan, yakni 75 mil dari London. Aparat masih melakukan pemeriksaan forensik di peron dan di dalam gerbong. Unit anjing pelacak juga dikerahkan untuk memastikan tidak ada bukti yang terlewat.
Perdana Menteri Keir Starmer menyampaikan belasungkawa dan menyebut kejadian ini sebagai insiden yang “sangat mengerikan”. Sementara itu, LNER selaku operator resmi rute tersebut mengumumkan gangguan besar pada jadwal perjalanan hingga Senin, karena kereta dan jalur yang terlibat masih dalam penyelidikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









