Akurat

Trump dan Xi Jinping Akhirnya Bertemu, Sepakat Redakan Ketegangan Perdagangan

Kumoro Damarjati | 31 Oktober 2025, 08:59 WIB
Trump dan Xi Jinping Akhirnya Bertemu, Sepakat Redakan Ketegangan Perdagangan


Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping mengadakan pertemuan di Pangkalan Udara Gimhae, Busan, Korea Selatan, Kamis (30/10). Pertemuan tersebut menjadi yang pertama bagi keduanya dalam enam tahun terakhir, sekaligus pertemuan tatap muka perdana sejak Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025.

Pertemuan digelar di sela-sela KTT APEC dan berlangsung selama 1 jam 40 menit secara tertutup. Trump dan Xi membuka pertemuan dengan berjabat tangan sebelum memulai pembicaraan yang dihadiri oleh pejabat tinggi dari kedua negara. Dari pihak AS hadir Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick. Sementara pihak China diwakili oleh Menteri Luar Negeri Wang Yi, Menteri Perdagangan Wang Wentao, dan Wakil Perdana Menteri He Lifeng.

Trump, dalam keterangannya kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One usai meninggalkan Busan, menggambarkan pertemuan itu sebagai “kesuksesan besar.” Ia menyebut telah membawa banyak hal ke tahap finalisasi, termasuk kesepakatan perdagangan dan pengurangan tarif. “Saya pikir itu pertemuan yang luar biasa,” ujarnya, tanpa memaparkan detail lebih lanjut.

Trump mengungkapkan bahwa pembicaraan di Busan menghasilkan sejumlah kesepakatan baru, di antaranya pemangkasan tarif terkait fentanyl dan perjanjian satu tahun yang dapat diperpanjang mengenai pasokan logam tanah jarang — bahan penting bagi industri elektronik global. “Semua logam tanah jarang telah diselesaikan, dan itu untuk dunia,” kata Trump, menambahkan bahwa kesepakatan tersebut dapat dinegosiasikan ulang setiap tahunnya.

Terkait fentanyl, Trump menyebut China sepakat untuk menekan aliran zat tersebut ke Amerika Serikat. Sebagai imbalannya, Washington akan mengurangi tarif terhadap produk China dari 20 persen menjadi 10 persen. Trump juga menegaskan bahwa China akan membeli kedelai dan produk pertanian Amerika dalam jumlah besar sebagai bagian dari hasil pembicaraan.

Trump mengatakan dirinya akan melakukan kunjungan ke China pada April tahun depan, sedangkan Xi akan melakukan kunjungan balasan ke Amerika Serikat setelahnya. “Saya akan pergi ke China pada April dan dia akan datang ke sini beberapa waktu setelah itu, entah di Florida, Palm Beach, atau Washington DC,” kata Trump. Ia juga memuji Xi sebagai “pemimpin luar biasa dari negara yang sangat kuat.”

Sementara itu, Presiden Xi Jinping menyebut kedua negara telah mencapai konsensus penting dalam bidang ekonomi dan perdagangan. Ia mengatakan, “Tim ekonomi dan perdagangan kedua negara saling bertukar pandangan mendalam mengenai isu-isu penting dan mencapai konsensus untuk menyelesaikannya.”

Xi menambahkan bahwa masih ada pekerjaan lanjutan yang harus dilakukan tim ekonomi kedua negara untuk menyempurnakan kesepakatan tersebut. “Kedua tim harus menyempurnakan dan memfinalisasi pekerjaan lanjutan sesegera mungkin, mempertahankan dan menerapkan konsensus, serta memberikan hasil nyata untuk menenangkan perekonomian China, Amerika Serikat, dan dunia,” ujarnya, seperti dikutip Xinhua dan AFP.

Dalam pertemuan itu, Xi juga menyampaikan bahwa China dan AS harus menjadi mitra dan sahabat, meskipun tidak selalu sependapat dalam berbagai isu. “China dan AS dapat bersama-sama memikul tanggung jawab kita sebagai negara besar dan bekerja sama untuk mencapai hal-hal besar demi kebaikan kedua negara dan dunia,” kata Xi.

Pertemuan di Busan ini digelar di tengah ketegangan panjang akibat perang dagang yang telah mengguncang perekonomian global. Kedua negara selama ini terlibat aksi saling balas tarif, pembatasan ekspor, hingga sanksi ekonomi yang memengaruhi sektor teknologi tinggi dan logistik laut lepas.

Di antara isu-isu utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah ketidakseimbangan perdagangan, tarif ekspor, pembatasan akses China terhadap teknologi tinggi AS, serta peran Beijing dalam perdagangan fentanyl ilegal. Pembatasan ekspor besar-besaran China terhadap logam tanah jarang dan kebijakan Washington terhadap ekspor teknologi juga menjadi bagian penting dalam diskusi.

Setelah pembicaraan berakhir, Trump langsung meninggalkan lokasi dan menaiki Air Force One yang menunggunya di Bandara Busan. Ia melambaikan tangan dan mengepalkan tinju sebelum pesawatnya lepas landas menuju tujuan berikutnya. Xi terlihat meninggalkan lokasi menggunakan limusinnya beberapa saat kemudian.

Pertemuan Trump dan Xi ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan Trump ke Asia yang dimulai dari Malaysia, kemudian Jepang, dan berakhir di Korea Selatan. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk menstabilkan hubungan AS-China yang tegang sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.