Serangan di Sinagoge Manchester: Pelaku Teridentifikasi, Polisi Sebut Aksi Terorisme

AKURAT.CO Polisi Inggris akhirnya mengidentifikasi pelaku serangan mematikan di sebuah sinagoge Ortodoks di Manchester pada Kamis (2/10). Pria bernama Jihad Al-Shamie, warga negara Inggris berusia 35 tahun keturunan Suriah, dinyatakan sebagai pelaku tunggal yang menabrakkan mobil ke kerumunan lalu menikam sejumlah orang pada perayaan Yom Kippur, hari paling suci dalam kalender Yahudi.
Al-Shamie masuk ke Inggris saat masih kecil dan memperoleh kewarganegaraan pada 2006. Menurut Kementerian Dalam Negeri Inggris, ia sebelumnya tidak pernah tercatat dalam program Prevent, yaitu sistem nasional untuk memantau potensi radikalisasi. Polisi juga menyebut Al-Shamie mengenakan sabuk yang tampak seperti bom, meski belakangan dipastikan palsu.
Korban Tewas dan Luka-Luka
Kepolisian Greater Manchester mengonfirmasi dua warga lokal tewas dalam insiden tersebut, yakni Adrian Daulby (53) dan Melvin Cravitz (66). Tiga orang lainnya masih dirawat di rumah sakit dalam kondisi serius.
Petugas menembak mati pelaku hanya tujuh menit setelah aksi brutal dimulai. Polisi menegaskan serangan ini sedang diselidiki sebagai aksi terorisme bermotif antisemitisme.
Penangkapan Tambahan
Selain pelaku utama, pihak kepolisian juga menangkap tiga orang lain terkait kasus ini—dua pria berusia 30-an dan seorang wanita 60-an. Mereka diduga terlibat dalam perencanaan atau persiapan serangan.
Reaksi Pemerintah dan Tokoh Agama
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyebut serangan tersebut sebagai aksi “keji” yang ditujukan hanya karena korban beragama Yahudi. Ia berjanji memperkuat keamanan komunitas Yahudi yang berjumlah sekitar 300 ribu orang di Inggris.
Sementara itu, Kepala Rabbi Ephraim Mirvis menilai insiden ini sebagai puncak dari “gelombang antisemitisme yang tak henti-hentinya” baik di jalanan maupun di dunia maya. Ia mendesak pemerintah lebih tegas membatasi demonstrasi yang dianggap menyebarkan kebencian.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya insiden antisemit di Inggris sejak perang Israel–Hamas pecah pada Oktober 2023. Menurut Community Security Trust, lebih dari 1.500 kasus antisemitisme tercatat hanya dalam enam bulan pertama tahun ini—angka tertinggi kedua sepanjang sejarah pencatatan.
Pihak berwenang khawatir demonstrasi pro-Palestina yang rutin digelar sejak konflik Gaza juga ikut memicu kebencian terhadap warga Yahudi. Sejumlah politisi menilai slogan-slogan dalam aksi tersebut dapat memprovokasi kekerasan.
Keterkaitan dengan Isu Global
Selain insiden di Manchester, dunia internasional juga menyoroti berita terbaru dari Sumud Flotilla, yakni penyergapan kapal bantuan ke Gaza oleh angkatan laut Israel pada pekan yang sama. Peristiwa ini, yang melibatkan ratusan aktivis internasional termasuk Greta Thunberg, turut memperkuat tensi politik dan sentimen pro maupun kontra terhadap isu Palestina–Israel di Eropa, termasuk Inggris.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









