Donald Trump Berambisi Raih Hadiah Nobel Perdamaian 2025, Pakar Sebut Peluangnya Tipis

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyuarakan ambisinya untuk meraih Hadiah Nobel Perdamaian yang akan diumumkan pada Jumat, 10 Oktober mendatang. Namun, para pengamat menilai peluang Trump sangat kecil karena kebijakan luar negeri dan gaya kepemimpinannya yang kerap dianggap bertolak belakang dengan semangat Nobel.
Trump bahkan menyebut jika dirinya gagal menang, itu akan menjadi “penghinaan” bagi Amerika Serikat.
Peluang Trump Dinilai Tipis
Oeivind Stenersen, sejarawan yang meneliti Hadiah Nobel, menilai Trump sama sekali tidak sesuai dengan prinsip penghargaan bergengsi itu.
“Hadiah Nobel Perdamaian menekankan kerja sama multilateral, sementara Trump lebih memilih jalan unilateral dan kebijakan America First,” ujarnya.
Trump sebelumnya mengklaim telah “mengakhiri enam atau tujuh perang” dalam beberapa bulan terakhir. Namun, menurut para pakar, klaim itu dilebih-lebihkan dan sulit dijadikan dasar penilaian Nobel.
Fokus pada Konflik yang Terlupakan
Karim Haggag, Direktur Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), mengatakan Nobel Perdamaian seharusnya diberikan kepada pihak yang bekerja diam-diam membangun perdamaian di lapangan.
Ia mencontohkan Ruang Tanggap Darurat Sudan, jaringan relawan yang membantu korban perang dan kelaparan, sebagai kandidat layak.
Selain itu, organisasi media internasional seperti Komite Perlindungan Jurnalis dan Reporter Tanpa Batas juga disebut berpeluang besar, terutama setelah tahun paling mematikan bagi jurnalis di Gaza.
Nama lain yang mencuat adalah Yulia Navalnaya, istri mendiang kritikus Kremlin Alexei Navalny, yang kini menjadi salah satu favorit bandar judi.
Nobel Sastra dan Ilmu Pengetahuan
Selain Nobel Perdamaian, perhatian juga tertuju pada Hadiah Nobel Sastra yang akan diumumkan 9 Oktober. Penulis Swiss Christian Kracht digadang-gadang sebagai kandidat kuat, sementara kritikus memperkirakan penghargaan tahun ini akan jatuh kepada penulis dari dunia Anglo-Saxon, Jerman, atau Prancis.
Di bidang sains, musim Nobel akan dibuka dengan penghargaan kedokteran pada Senin, 6 Oktober, diikuti fisika, kimia, dan ditutup dengan Hadiah Nobel Ekonomi pada 13 Oktober. Penemuan terkait sistem kekebalan tubuh, sel punca leukemia, hingga hormon pengatur nafsu makan disebut sebagai kandidat penelitian yang berpeluang menang.
Simbol Prestise Dunia
Hadiah Nobel, yang terdiri dari medali emas, diploma, dan hadiah uang senilai sekitar US$1,2 juta, tetap menjadi simbol prestise tertinggi bagi dunia sains, sastra, dan perdamaian.
Meski Trump berharap besar, para pengamat menegaskan bahwa komite Nobel kemungkinan akan lebih memilih tokoh atau organisasi yang bekerja di medan konflik terlupakan, alih-alih pemimpin dunia yang sarat kontroversi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









