Ini yang Terjadi ketika Topan Super Ragasa Terjang Asia

AKURAT.CO Topan Super Ragasa melanda Asia Timur dan Tenggara pekan ini, menimbulkan korban jiwa dan kerusakan luas di China, Taiwan, hingga Filipina. Hampir 1,9 juta penduduk selatan China dievakuasi setelah badai berkekuatan kategori 3 menghantam wilayah pesisir pada Rabu (24/9/2025).
China Lakukan Evakuasi Massal
Pemerintah Provinsi Guangdong mengevakuasi warga di kota-kota pesisir seperti Shenzhen, Guangzhou, dan Zhuhai karena jalur lintasan topan melewati area padat penduduk. Warga yang tinggal di apartemen tinggi di tepi laut diarahkan ke tempat aman seperti gedung olahraga, hotel, dan rumah kerabat. Pemerintah juga memindahkan lebih dari 10.000 kapal ke perairan yang lebih aman dan mengerahkan 38.000 petugas pemadam kebakaran untuk siaga bencana.
Rekaman dari Shenzhen memperlihatkan ombak setinggi gedung menghantam taman pantai, disertai angin kencang hingga 181 km per jam. “Ini pertama kalinya dalam 30 tahun saya harus dievakuasi karena topan,” ujar seorang warga kepada media lokal.
Taiwan Dilanda Banjir dan Longsor Mematikan
Sebelum memasuki China, Topan Ragasa memicu banjir bandang dan tanah longsor di Taiwan. Di Hualien, sedikitnya 17 orang tewas dan 17 lainnya hilang setelah bendungan alami di Kota Guangfu jebol akibat curah hujan ekstrem. Sekitar 68 juta ton air menerjang pemukiman, merendam rumah dan menyeret kendaraan.
Profesor Kuo-Lung Wang dari Universitas Nasional Chi Nan menjelaskan, prediksi awal tidak memperhitungkan hujan ekstrem dari topan sekuat Ragasa. “Topan ini mempercepat keruntuhan bendungan yang diperkirakan baru terjadi bulan depan,” ungkapnya.
Filipina Kehilangan Korban Jiwa
Di Filipina, Ragasa mencapai kategori 5 saat melintasi Luzon pada Senin (23/9). Badai menewaskan sedikitnya tujuh nelayan setelah perahu mereka terbalik di laut lepas. Sejumlah wilayah pesisir juga mengalami kerusakan parah sebelum badai bergerak ke utara menuju Taiwan.
Hong Kong dan Makau Lumpuh
Saat bergerak ke barat laut, Ragasa menumbangkan pohon-pohon dan merobohkan scaffolding bangunan di Hong Kong dengan angin hingga 168 km per jam. Video yang viral menunjukkan air laut menerjang lobi Fullerton Ocean Park Hotel, memecahkan pintu kaca. Pemerintah Hong Kong melaporkan sedikitnya 90 orang terluka dan 885 orang mengungsi. Di Makau, air setinggi pinggang memaksa sekolah, bandara, dan kasino menghentikan aktivitas.
Ancaman Topan Ekstrem Akibat Perubahan Iklim
Ilmuwan atmosfer Johnny Chan menegaskan, pemanasan global meningkatkan energi badai melalui suhu laut yang lebih tinggi dan atmosfer yang lebih lembap. “Data badai masa lalu tak lagi bisa dijadikan patokan. Kota-kota Asia harus memperbarui standar bangunan dan infrastruktur,” katanya. Hong Kong sendiri telah membangun sistem drainase raksasa senilai 3,8 miliar dolar AS untuk menekan risiko banjir besar.
Pergerakan Selanjutnya
Setelah melemah menjadi badai tropis, Ragasa diperkirakan memasuki Vietnam pada Jumat (26/9) dengan hujan deras. Sementara itu, badai baru bernama Opong mulai terbentuk di sekitar Filipina, memicu peringatan dini bagi masyarakat pesisir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









