Akurat

Apa Itu 'Block Everything' yang Jadi Gerakan di Prancis? Berikut Latar Belakangnya

Naufal Lanten | 12 September 2025, 19:43 WIB
Apa Itu 'Block Everything' yang Jadi Gerakan di Prancis? Berikut Latar Belakangnya

 

AKURAT.CO Prancis kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah aksi protes besar-besaran yang dikenal dengan sebutan Block Everything atau dalam bahasa Prancis Bloquons tout. Aksi yang memuncak pada 10 September 2025 ini melibatkan ratusan ribu orang di berbagai kota besar. Mereka menutup jalan, memblokir jalur transportasi, hingga menggelar aksi demonstrasi di pusat kota sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan pemerintah Presiden Emmanuel Macron.

Gerakan ini lahir dari keresahan masyarakat atas kebijakan penghematan atau austerity yang dinilai memberatkan, termasuk pemotongan anggaran publik hingga miliaran euro. Tak heran, protes ini bukan sekadar unjuk rasa kecil, melainkan perlawanan masif yang berhasil melumpuhkan aktivitas negara dalam satu hari penuh.

Latar Belakang Munculnya Block Everything

Asal mula gerakan Block Everything tidak bisa dilepaskan dari kebijakan anggaran yang digagas pemerintahan Perdana Menteri François Bayrou. Pada rancangan anggaran 2026, pemerintah mengusulkan pemangkasan pengeluaran publik sebesar 44 miliar euro. Kebijakan ini mencakup penghapusan dua hari libur nasional, pembekuan dana pensiun, serta pemotongan anggaran di sektor kesehatan dan layanan publik.

Rencana itu menimbulkan reaksi keras, terlebih di tengah naiknya biaya hidup dan ketimpangan ekonomi yang semakin terasa. Banyak warga menilai langkah penghematan ini tidak adil karena membebani masyarakat, sementara kelompok berpenghasilan tinggi relatif lebih aman dari dampaknya.

Situasi politik semakin panas ketika pemerintahan Bayrou gagal memperoleh dukungan di parlemen. Setelah jatuhnya kabinet, Emmanuel Macron menunjuk Sébastien Lecornu sebagai Perdana Menteri baru. Namun, bagi banyak warga, pergantian ini hanya dianggap sebagai perpanjangan dari kebijakan lama yang tidak berpihak pada rakyat.

Bagaimana Gerakan Ini Dimulai?

Gerakan Block Everything muncul dari inisiatif akar rumput yang tersebar melalui media sosial. Dengan tagar seperti #BloquonsTout dan #10septembre2025, ajakan untuk melakukan pemblokiran dan aksi solidaritas menyebar cepat. Tidak ada pemimpin tunggal yang mengarahkan, melainkan koordinasi desentralisasi dari berbagai kelompok aktivis, mahasiswa, hingga warga biasa.

Meskipun awalnya bersifat spontan, serikat pekerja besar seperti CGT serta sejumlah partai politik kiri kemudian ikut memberikan dukungan. Inilah yang membuat protes menjadi semakin masif dan terorganisir, dengan target jelas: melumpuhkan aktivitas normal negara untuk memaksa pemerintah mendengar suara rakyat.

Skala Aksi Block Everything

Puncak aksi terjadi pada 10 September 2025 dengan dampak luar biasa di seluruh Prancis. Data dari Kementerian Dalam Negeri mencatat sekitar 200 ribu orang turun ke jalan, sementara serikat pekerja menyebut jumlahnya bisa mencapai 250 ribu.

Menurut laporan resmi, terdapat lebih dari 800 aksi di seluruh negeri, terdiri atas lebih dari 500 pertemuan massa dan 262 pemblokiran. Pemerintah mengerahkan sekitar 80 ribu aparat keamanan untuk mengendalikan situasi. Meski begitu, ratusan orang tetap ditangkap, baik di Paris maupun kota-kota lain.

Dampaknya terasa luas. Jalan raya utama ditutup, transportasi publik terganggu, lalu lintas lumpuh, hingga layanan publik terhambat. Di beberapa tempat, terlihat barikade dari tong sampah yang dibakar, menandai intensitas protes yang tinggi.

Tuntutan Utama Para Demonstran

Protes Block Everything tidak hanya menolak rencana pemotongan anggaran. Gerakan ini membawa tuntutan yang lebih luas, seperti:

  • Menolak langkah austerity yang memangkas layanan publik.

  • Menuntut peningkatan dana untuk kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur sosial.

  • Menuntut keadilan ekonomi, termasuk sistem pajak yang lebih adil dengan beban lebih besar pada kelompok kaya.

  • Mendesak pemerintah untuk mendengarkan suara masyarakat bawah yang paling terdampak oleh krisis biaya hidup.

  • Sebagian kelompok bahkan menyerukan agar Emmanuel Macron mundur dari jabatannya.

Tuntutan-tuntutan ini menunjukkan bahwa gerakan Block Everything tidak hanya sebatas menolak anggaran, tetapi juga simbol perlawanan terhadap sistem yang dianggap tidak adil.

Respons Pemerintah dan Kritik yang Muncul

Pemerintah Prancis merespons aksi ini dengan pendekatan keamanan ketat. Ribuan aparat dikerahkan, ratusan demonstran ditangkap, dan beberapa aksi pemblokiran dibubarkan secara paksa. Namun, langkah ini menuai kritik, terutama terkait kebebasan pers. Organisasi seperti Reporters Without Borders (RSF) menuding polisi melakukan kekerasan terhadap jurnalis yang meliput, termasuk perusakan alat kerja dan intimidasi.

Selain itu, pemerintah berusaha menepis kesan bahwa negara lumpuh total. Menurut mereka, meski ada gangguan besar, kegiatan vital tetap berjalan. Namun, narasi ini tidak banyak membantu meredam kemarahan publik yang merasa diabaikan.

Perbandingan dengan Protes Yellow Vests

Banyak pengamat membandingkan Block Everything dengan gerakan Yellow Vests (Gilets Jaunes) yang meletus pada 2018. Keduanya lahir dari rasa frustrasi masyarakat terhadap kebijakan ekonomi yang dianggap tidak adil. Bedanya, Yellow Vests dipicu kenaikan harga bahan bakar, sementara Block Everything lebih berfokus pada pemotongan anggaran publik.

Kesamaan keduanya terletak pada pola perlawanan akar rumput yang meluas dengan cepat, serta kemarahan generasi muda yang merasa masa depan mereka semakin sulit. Hal ini membuat Block Everything berpotensi berkembang menjadi gerakan sosial jangka panjang jika tuntutan tidak dipenuhi.

Dampak Politik dan Arah ke Depan

Gerakan ini memperdalam krisis politik di Prancis. Jatuhnya kabinet Bayrou, penunjukan PM baru, hingga protes masif yang melibatkan ratusan ribu orang memperlihatkan rapuhnya dukungan terhadap pemerintahan Macron. Jika aksi terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan akan ada tekanan politik lebih besar, baik berupa reformasi kebijakan maupun perubahan dalam struktur kekuasaan.

Selain itu, Block Everything juga menjadi refleksi dari meningkatnya ketidakpercayaan publik terhadap elit politik. Generasi muda khususnya menunjukkan bahwa mereka tidak ragu turun ke jalan untuk menuntut perubahan, dan pemerintah tidak bisa lagi mengabaikan suara mereka.

Kesimpulan

Block Everything adalah lebih dari sekadar protes jalanan. Ia merupakan cerminan keresahan mendalam rakyat Prancis terhadap ketidakadilan sosial, kebijakan austerity, dan krisis representasi politik. Gerakan ini menunjukkan bahwa ketika suara masyarakat tidak didengar melalui jalur formal, mereka akan mencarinya lewat aksi langsung.

Bagaimana pemerintah Macron merespons akan sangat menentukan arah masa depan politik Prancis. Apakah akan terjadi perubahan kebijakan, atau justru eskalasi konflik yang lebih besar, masih harus ditunggu.

Kalau kamu tertarik dengan perkembangan gerakan Block Everything di Prancis, pantau terus update selanjutnya di media ini agar tidak ketinggalan informasi terbaru.

Baca Juga: Gerakan “Block Everything” di Prancis: 100 Ribu Orang Siap Turun ke Jalan 10 September

Baca Juga: Prancis dan Jerman Tolak Ancaman Trump Soal Aturan Teknologi Uni Eropa

FAQ

1. Apa itu gerakan Block Everything di Prancis?
Gerakan Block Everything atau Bloquons tout adalah aksi protes nasional yang menolak kebijakan pemotongan anggaran publik dan langkah penghematan (austerity) pemerintah Presiden Emmanuel Macron. Aksi ini dilakukan dengan memblokir jalan, melumpuhkan transportasi, hingga menggelar demonstrasi di berbagai kota.

2. Kapan puncak aksi Block Everything terjadi?
Puncak aksi terjadi pada 10 September 2025, di mana ratusan ribu orang turun ke jalan di seluruh Prancis untuk memprotes kebijakan pemerintah.

3. Apa pemicu utama munculnya gerakan ini?
Gerakan ini dipicu rencana pemerintah memotong anggaran publik sebesar 44 miliar euro, termasuk penghapusan hari libur nasional, pembekuan pensiun, dan pemangkasan dana kesehatan. Kebijakan tersebut memicu kemarahan publik di tengah biaya hidup yang terus naik.

4. Berapa jumlah peserta aksi Block Everything?
Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sekitar 200 ribu orang terlibat, sementara serikat pekerja menyebut jumlahnya bisa mencapai 250 ribu peserta di seluruh negeri.

5. Apa saja tuntutan utama demonstran?
Tuntutan mereka meliputi penolakan terhadap pemotongan anggaran, peningkatan layanan publik seperti kesehatan dan pendidikan, keadilan ekonomi, serta sistem pajak yang lebih adil. Sebagian kelompok juga mendesak agar Presiden Macron mundur.

6. Bagaimana respons pemerintah terhadap aksi ini?
Pemerintah mengerahkan sekitar 80 ribu aparat keamanan untuk mengendalikan situasi. Ratusan demonstran ditangkap, dan beberapa aksi dibubarkan secara paksa. Namun, langkah ini menuai kritik dari kelompok masyarakat sipil dan organisasi kebebasan pers.

7. Apa dampak aksi Block Everything terhadap kehidupan sehari-hari di Prancis?
Aksi ini menyebabkan transportasi lumpuh, jalan raya utama ditutup, lalu lintas macet, dan sejumlah layanan publik terganggu. Di beberapa kota, demonstran membuat barikade dengan membakar tong sampah.

8. Apakah gerakan Block Everything mirip dengan Yellow Vests?
Keduanya sama-sama lahir dari rasa frustrasi publik terhadap kebijakan ekonomi. Namun, Yellow Vests dipicu kenaikan harga bahan bakar pada 2018, sementara Block Everything fokus pada pemotongan anggaran publik dan kebijakan austerity.

9. Siapa yang mengorganisir Block Everything?
Gerakan ini awalnya muncul secara spontan dari media sosial tanpa pemimpin tunggal. Setelah mendapat momentum, serikat pekerja seperti CGT dan partai politik kiri ikut memberikan dukungan.

10. Apa dampak politik jangka panjang dari Block Everything?
Gerakan ini memperdalam krisis politik di Prancis. Jika tuntutan tidak dipenuhi, protes bisa berkembang menjadi gerakan sosial jangka panjang yang berpotensi mengguncang stabilitas pemerintahan Macron.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.