Akurat

Parade Militer Tiongkok 2025: Sinyal Keras untuk Amerika Serikat dan Sekutunya

Kumoro Damarjati | 3 September 2025, 19:47 WIB
Parade Militer Tiongkok 2025: Sinyal Keras untuk Amerika Serikat dan Sekutunya


AKURAT.CO Tiongkok menggelar parade militer besar-besaran yang menampilkan deretan senjata baru, mulai dari rudal balistik, drone bertenaga kecerdasan buatan (AI), hingga robot tempur. Aksi ini dipandang sebagai pesan tegas Beijing kepada Amerika Serikat dan sekutunya di Asia maupun Pasifik.

Parade tersebut turut dihadiri lebih dari 20 pemimpin dunia, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Kehadiran mereka memperlihatkan posisi Tiongkok yang semakin dominan di panggung global, sekaligus menunjukkan dukungan politik dari negara-negara sekutu.

Dalam pertunjukan militer itu, publik disuguhkan rudal “Guam Killer”, drone siluman “loyal wingman”, hingga robot serigala yang digadang-gadang siap digunakan di medan tempur modern. Berikut lima poin penting terkait kekuatan baru militer Tiongkok yang dipamerkan dalam parade:

1. Militer Tiongkok Pamer Produksi Senjata Skala Besar

Parade ini menegaskan kemampuan industri pertahanan Tiongkok yang mampu memproduksi senjata dalam jumlah besar dengan cepat. Jika satu dekade lalu produk militernya dianggap meniru teknologi Amerika Serikat, kini Tiongkok sudah menampilkan inovasi sendiri, terutama di sektor rudal dan drone.

Namun, para ahli menyoroti tantangan utama: seberapa efektif Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) mampu mengintegrasikan persenjataan canggih ini ke dalam strategi tempur, mengingat pasukan mereka belum teruji dalam perang besar selama beberapa dekade.

2. Fokus pada Rudal untuk Hadapi Amerika Serikat

Tiongkok menampilkan berbagai rudal baru, termasuk:

Dongfeng-61 dengan hulu ledak ganda, Dongfeng-5C yang mampu mencapai daratan AS, serta Dongfeng-26D alias “Guam Killer” yang dirancang menghantam pangkalan militer AS di Pasifik.

Selain itu, rudal hipersonik antikapal seperti YJ-17 dan YJ-19 membuat kapal induk AS semakin rentan. Strategi ini memperlihatkan bagaimana Tiongkok mengandalkan kekuatan rudal sebagai penyeimbang dominasi armada laut Amerika.

3. Drone dan AI Jadi Senjata Masa Depan

Parade juga menyoroti ambisi Tiongkok dalam teknologi drone dan kecerdasan buatan. Salah satunya drone bawah laut raksasa AJX-002 sepanjang 20 meter yang bisa dipakai untuk pengawasan dan serangan.

Ada pula drone siluman GJ-11 “loyal wingman” yang dapat terbang bersama jet tempur berawak, serta robot serigala untuk misi pengintaian hingga pertempuran darat.

Para analis menilai Tiongkok belajar banyak dari perang Ukraina, di mana penggunaan drone menjadi kunci dalam melemahkan pertahanan musuh. Integrasi AI membuat keputusan serangan bisa dilakukan dalam hitungan “nanodetik”.

4. Tiongkok Mengejar, AS Masih Unggul di Operasi

Meski Tiongkok berhasil menampilkan teknologi militer canggih, para pakar menilai Amerika Serikat masih unggul dalam hal operasi tempur. Budaya militer AS yang lebih fleksibel memungkinkan unit di lapangan mengambil keputusan cepat, berbeda dengan struktur Tiongkok yang kaku dan top-down.

“Teknologi Tiongkok memang bisa menciptakan efek jera, tetapi kemampuan operasional mereka belum tentu sekuat klaimnya,” ujar Michael Raska, pakar militer dari NTU Singapura.

5. Parade Militer Tiongkok Jadi Etalase Senjata Global

Selain sebagai unjuk kekuatan, parade ini juga menjadi ajang promosi industri pertahanan Tiongkok ke pasar internasional. Sejumlah negara, termasuk Myanmar, sudah menjadi pembeli senjata Tiongkok.

Di sisi politik, tampilnya Xi Jinping bersama Vladimir Putin dan Kim Jong Un mengirim pesan kuat ke Washington bahwa Beijing siap membentuk front persatuan menghadapi tekanan Amerika di berbagai kawasan strategis, mulai dari Semenanjung Korea hingga Selat Taiwan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.