Menara Big Tree di Changwon, Proyek Wisata Rp400 Miliar yang Menuai Kontroversi

AKURAT.CO Upaya pemerintah Kota Changwon, Korea Selatan, menghadirkan ikon wisata baru justru menuai kecaman publik. Menara observasi Big Tree yang menelan biaya 34,4 miliar won atau sekitar Rp411 miliar itu dianggap gagal memikat hati warga dan wisatawan.
Menara setinggi 46,5 meter ini terinspirasi dari Supertrees di Gardens by the Bay, Singapura, dan dirancang sebagai daya tarik utama di Taman Daesang. Proyek ini merupakan bagian dari pembangunan skala besar bernilai 1 triliun won (sekitar Rp12 triliun) yang digarap lewat skema kemitraan publik-swasta.
Big Tree digadang-gadang menjadi spot wisata dengan pemandangan 360 derajat Pelabuhan Masan, Pulau Dotseom, dan Gunung Muhaksan. Namun, kenyataan di lapangan berbeda jauh dari ekspektasi. Warga menilai menara ini justru terlihat seperti setengah jadi.
Media lokal menggambarkan dedaunan buatan yang terlalu jarang, patung-patung hewan hias yang terasa tidak serasi, serta elemen dekoratif yang "terlalu artifisial". Hanya sedikit detail, seperti tanaman tiruan yang cukup realistis, yang sempat mendapat pujian. Sisanya dianggap tak sepadan dengan biaya fantastis yang digelontorkan.
Menyadari derasnya kritik, pemerintah Kota Changwon memastikan bagian atas Menara Big Tree akan didesain ulang. Namun, proses ini diperkirakan memakan waktu panjang. Desain baru akan dipilih lewat kompetisi nasional dengan melibatkan konsultasi publik, dan konstruksi kemungkinan baru dimulai pada paruh kedua 2026.
Sebagai kompensasi atas kekecewaan publik, Changwon memutuskan tidak akan memungut biaya masuk saat Big Tree mulai beroperasi resmi pada 1 Oktober mendatang.
Proyek Lain: "Zona Bebas Ibu" yang Terlantar
Selain Big Tree, Taman Daesang juga memiliki fasilitas lain bernama "Zona Bebas Ibu". Konsepnya adalah ruang dalam ruangan untuk para ibu yang ingin beristirahat sementara anak-anak mereka bermain. Proyek senilai 25 miliar won atau sekitar Rp299 miliar ini dibangun sejak 2020 dengan harapan menjadi ruang keluarga yang sehat dan bebas polusi.
Namun, hampir lima tahun berselang, bangunan seluas 5.000 meter persegi itu masih terbengkalai. Tanpa pengelola, tanpa isi, bahkan tanpa area parkir. Pemerintah baru berencana melakukan studi lanjutan pada September ini untuk memutuskan apakah akan dijadikan kafe anak, perpustakaan, atau ruang publik lainnya.
Latar Belakang Proyek
Changwon, kota berpenduduk lebih dari 1 juta jiwa di bagian tenggara Korea Selatan, sejak 2022 menyandang status "kota khusus" dengan kewenangan otonomi pembangunan lebih luas. Lewat status ini, pemerintah kota mencoba menepis masalah klasik pariwisata Korea Selatan yang terlalu terpusat di Seoul.
Menurut data Institut Kebudayaan dan Pariwisata Korea, hingga 78% wisatawan mancanegara lebih memilih berkunjung ke Seoul, sedangkan daerah lain seperti Busan (16,5%), Provinsi Gyeonggi (11,2%), dan Pulau Jeju (10,9%) masih jauh tertinggal. Dengan fakta itu, Changwon pun mencari cara untuk mengerek citra kota tersebut agar lebih menarik wisatawan. Big Tree dianggap sebagai solusi, meski kenyataanya, dampaknya tidak seindah yang dibayangkan pemerintah kotanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









