Proyek 2025 dan Trump: Masa Depan Pembersihan Limbah Nuklir di Hanford

AKURAT.CO Lalu lintas padat setiap hari terlihat di Highway 240, yang melintasi kompleks industri besar di Situs Hanford, Negara Bagian Washington.
Dulunya Hanford adalah pusat produksi plutonium untuk senjata nuklir selama Perang Dunia II dan Perang Dingin.
Kini, situs tersebut menjadi tempat riset energi dan sains, tetapi lebih dikenal sebagai salah satu lokasi pembersihan limbah radioaktif terbesar di Amerika Serikat.
Hanford adalah salah satu masalah lingkungan paling serius di Washington dan menjadi situs Superfund terbesar di negara itu.
Tantangan lingkungan ini telah berpindah dari satu administrasi presiden ke administrasi berikutnya selama beberapa dekade.
Dengan dimulainya masa jabatan kedua Donald Trump pekan lalu, tim kebijakannya mulai mengkaji masalah Hanford.
Baca Juga: Indonesia Masters: Fikri /Daniel Jadi Ganda Putra Ketiga yang Lolos 16 Besar
Dokumen Proyek 2025, panduan kebijakan konservatif setebal lebih dari 900 halaman, hanya menyebutkan Hanford satu kali di halaman 395.
Proyek ini mengusulkan pembersihan lebih cepat dan agresif, dengan target penyelesaian pada tahun 2060, jauh lebih cepat dari rencana yang ada.
Namun, beberapa pakar mengkritik rencana tersebut. Nikolas Peterson, yang memantau perkembangan di Hanford, menyebut target itu tidak realistis.
"Proyek 2025 hanyalah gangguan besar terhadap pembersihan yang sah dan sedang berlangsung di Hanford," ujar Peterson.
Pembersihan Hanford adalah pekerjaan yang kompleks secara politik, ilmiah, dan hukum. Salah satu perubahan besar yang diusulkan adalah penggunaan metode grouting—campuran seperti semen—untuk menstabilkan limbah radioaktif.
Saat ini, pejabat lebih memilih teknologi vitrifikasi, yaitu pengikatan limbah dengan kaca yang lebih stabil dalam jangka panjang.
Baca Juga: Ini Cara yang Bisa Dilakukan untuk Detoksifikasi Pencernaan
Pengawas lingkungan memperingatkan bahwa grouting mungkin tidak seaman vitrifikasi, terutama mengingat kedekatan situs dengan Sungai Columbia, yang membawa risiko kontaminasi air.
Proyek 2025 juga menyarankan penggunaan Yucca Mountaindi Nevada sebagai tempat penyimpanan limbah nuklir, meskipun lokasi itu telah lama ditentang oleh pejabat setempat.
Di sisi lain, penduduk lokal yang ingin pembersihan dipercepat menghadapi dilema.
“Kami tidak ingin limbah ini mencemari tanah atau wilayah orang lain,” ujar Brian Saluskin, anggota dewan suku Yakama Nation, yang leluhurnya memiliki tanah yang kini menjadi bagian dari Situs Hanford.
Pembersihan Hanford saat ini menghabiskan biaya USD2 hingga USD3 miliar per tahun. Untuk mempercepat prosesnya, Proyek 2025 meminta tambahan pendanaan dari pemerintah federal.
Baca Juga: Dolby Atmos Tingkatkan Pengalaman Audio Premium di Samsung TV dan Soundbar
Namun, meski proyek ini mengusulkan langkah besar, Trump—yang sebelumnya memotong anggaran untuk Hanford—belum memberikan pernyataan resmi terkait komitmennya kali ini.
Pemerintahan Trump sejauh ini belum menanggapi permintaan klarifikasi tentang kebijakan yang akan diambil terkait situs tersebut. (Berlian Rahmah Dewanto)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










