Akurat

6 Kontroversi Mahmud Ahmadinejad Saat Menjadi Presiden Iran

Fajar Rizky Ramadhan | 5 Juni 2024, 08:00 WIB
6 Kontroversi Mahmud Ahmadinejad Saat Menjadi Presiden Iran

AKURAT.CO Mahmud Ahmadinejad, yang menjabat sebagai Presiden Iran dari tahun 2005 hingga 2013, adalah salah satu pemimpin yang paling kontroversial dalam sejarah modern Iran.

Selama masa jabatannya, Ahmadinejad terlibat dalam berbagai perdebatan dan tindakan yang menimbulkan banyak kontroversi baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.

Berikut adalah beberapa kontroversi utama yang terjadi selama kepemimpinan Ahmadinejad.

1. Pemilihan Presiden 2009

Pemilihan presiden Iran pada tahun 2009 menjadi salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah politik Iran. Kemenangan Ahmadinejad atas kandidat reformis Mir-Hossein Mousavi memicu tuduhan kecurangan yang meluas.

Baca Juga: Siapa Orang yang Pertamakali Melakukan Kurban dalam Islam?

Hasil pemilihan ini memicu protes besar-besaran yang dikenal sebagai Gerakan Hijau, di mana ribuan warga Iran turun ke jalan menuntut penghitungan suara yang adil. Respons keras pemerintah terhadap demonstrasi ini, termasuk penangkapan massal dan tindakan kekerasan oleh pasukan keamanan, mengundang kritik internasional dan mencoreng citra Ahmadinejad di mata dunia.

2. Pernyataan Mengenai Holocaust dan Israel

Salah satu pernyataan Ahmadinejad yang paling kontroversial adalah penolakannya terhadap Holocaust. Ia sering menyebut Holocaust sebagai "mitos" dan mengadakan konferensi yang mendukung pandangan revisionis mengenai peristiwa tersebut. Selain itu, Ahmadinejad sering kali mengeluarkan retorika yang sangat keras terhadap Israel, termasuk seruan untuk "menghapus Israel dari peta." Pernyataan-pernyataan ini mengundang kecaman keras dari komunitas internasional dan memperburuk hubungan Iran dengan negara-negara Barat.

3. Program Nuklir Iran

Di bawah kepemimpinan Ahmadinejad, Iran memperluas program nuklirnya, yang menimbulkan kecurigaan di kalangan komunitas internasional bahwa negara tersebut mungkin sedang mengembangkan senjata nuklir. Meskipun Iran bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai untuk menghasilkan energi, Dewan Keamanan PBB memberlakukan serangkaian sanksi terhadap Iran. Kontroversi ini meningkatkan ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, dan berdampak pada ekonomi Iran yang semakin terisolasi.

4. Kebijakan Ekonomi

Kebijakan ekonomi Ahmadinejad juga menjadi sumber kontroversi. Meskipun pada awalnya ia mendapatkan dukungan dari kalangan miskin dengan janji-janji populis, seperti distribusi pendapatan minyak kepada rakyat, pelaksanaan kebijakan tersebut dinilai tidak efektif. Subsidi bahan bakar yang besar dan pengelolaan ekonomi yang buruk menyebabkan inflasi tinggi dan masalah ekonomi lainnya. Kebijakan-kebijakan ini memperburuk kondisi ekonomi Iran dan mengundang kritik dari para ekonom dan oposisi politik.

Baca Juga: 5 Sumber yang Menyatakan bahwa Pedagang Indonesia Sudah Berhubungan dengan Pedagang Islam Sejak Abad ke 7

5. Hubungan dengan Pemimpin Tertinggi

Selama masa jabatan keduanya, Ahmadinejad terlibat dalam perselisihan dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Salah satu insiden terkenal adalah ketika Ahmadinejad menolak perintah Khamenei untuk memulihkan posisi Menteri Intelijen yang ia pecat. Ketegangan ini menunjukkan adanya perpecahan dalam pemerintahan Iran dan menimbulkan spekulasi mengenai stabilitas politik di negara tersebut.

6. Kebijakan Sosial dan Hak Asasi Manusia

Ahmadinejad juga dikritik karena kebijakan sosialnya yang konservatif dan pelanggaran hak asasi manusia. Selama masa kepemimpinannya, ada peningkatan dalam penangkapan aktivis politik, jurnalis, dan blogger. Kebebasan pers dibatasi, dan sensor terhadap media semakin ketat. Selain itu, kebijakan terhadap perempuan, termasuk penegakan ketat kode berpakaian Islami, menjadi sorotan dan memicu kritik dari organisasi hak asasi manusia internasional.

Masa jabatan Mahmud Ahmadinejad sebagai Presiden Iran dipenuhi dengan kontroversi yang berdampak luas baik secara domestik maupun internasional.

Dari tuduhan kecurangan dalam pemilu hingga kebijakan yang memicu sanksi ekonomi, kepemimpinannya telah meninggalkan warisan yang kompleks dan penuh dengan perdebatan.

Meski ia mendapatkan dukungan dari sebagian rakyat Iran, banyak tindakannya yang menimbulkan kritik tajam dan memperburuk hubungan Iran dengan dunia luar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.