Jejak Karir dan Profil Nikki Haley, Capres Perempuan yang Mundur dari Pilpres AS

AKURAT.CO Capres perempuan, Nikki Haley, telah mengumumkan pengunduran dirinya dari pencalonan presiden Amerika Serikat.
Dikutip dari Reuters, keputusan Haley akan memastikan bahwa Donald Trump akan meraih nominasi presiden dari Partai Republik dan kembali menghadapi Presiden Demokrat Joe Biden dalam pemilihan November.
Haley merupakan lawan terakhir bagi Trump dalam perolehan nominasi Partai Republik.
Sehubungan dengan itu, simak berikut profil dan jejak karir Nikki Haley.
Profil Nikki Haley
Nikki Haley lahir pada 20 Januari 1972 di Bamberg, South Carolina, Amerika Serikat.
Nikki Haley adalah seorang politikus Amerika Serikat. Dia menjabat sebagai duta besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa pada periode 2017-2018 di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Haley mencatat sejarah sebagai wanita pertama yang menjadi gubernur South Carolina dari tahun 2011 hingga 2017.
Dia kemudian mencoba meraih nominasi Partai Republik dalam pemilihan presiden 2024.
Jejak karir Nikki Haley
Pada tahun 2010, Haley mencalonkan diri sebagai gubernur South Carolina dengan dukungan dari gerakan Tea Party, terutama dari Sarah Palin.
Saat itu Haley berhasil mengalahkan kandidat yang lebih berpengalaman dalam pemilihan pendahuluan dan akhirnya memenangkan pemilihan umum.
Ketika ia mulai menjabat pada tahun 2011, Haley membuat sejarah sebagai wanita pertama dan individu pertama dari etnis minoritas yang menjabat sebagai gubernur.
Selama masa jabatannya yang pertama, ekonomi South Carolina berkembang pesat dengan penurunan tingkat pengangguran.
Haley dengan mudah terpilih kembali dalam pemilihan tahun 2014.
Pada tahun 2015, Haley menarik perhatian nasional setelah Dylann Roof, seorang pria kulit putih, melakukan penembakan di sebuah pertemuan studi Alkitab di Gereja Episkopal Metodis Afrika Emanuel di Charleston, yang mengakibatkan kematian sembilan orang Afrika-Amerika.
Roof mengungkapkan niatnya untuk memicu perang rasial dan setelah itu tekanan meningkat untuk menurunkan bendera Konfederasi dari Gedung Capitol, yang beberapa menganggap sebagai simbol rasisme.
Meskipun sebelumnya menolak seruan tersebut, Haley berhasil memimpin upaya untuk menurunkan bendera itu setelah tragedi tersebut.
Pada tahun 2016, posisi Haley dalam Partai Republik semakin meningkat ketika dia dipilih untuk memberikan tanggapan Partai Republik terhadap pidato kenegaraan Presiden AS Barack Obama.
Selama pemilihan presiden tahun itu, Haley mendukung Senator AS Ted Cruz dan mengkritik pemenang nominasi dari Partai Republik, Trump, terutama terkait seruannya untuk melarang Muslim.
Namun, pada November 2016, Presiden terpilih Trump memilihnya sebagai duta besar AS untuk PBB.
Meskipun memiliki pengalaman luar negeri yang terbatas, ia dengan mudah dikonfirmasi oleh Senat pada Januari 2017 dengan suara 96 banding 4.
Ia kemudian mengundurkan diri sebagai gubernur South Carolina.
Di PBB, Haley dikenal sebagai figur yang berani khususnya dalam hal Iran dan Korea Utara yang keduanya memiliki program nuklir.
Pada tahun 2018, ia juga sempat mendukung keputusan Trump untuk menarik Amerika Serikat dari perjanjian nuklir dengan Iran.
Sementara itu, akibat kemunduran Haley dari pencapresan AS, perhatian Donald Trump kini sepenuhnya terfokus pada kemungkinan pertarungan ulangnya dengan Joe Biden pada pemilihan bulan November mendatang.
Mantan Presiden AS tersebut sedang mengumpulkan dukungan yang cukup untuk mencapai ambang batas 1.215 delegasi yang dibutuhkan untuk meraih nominasi Partai Republik pada akhir bulan ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









