Akurat

Raja Charles III Idap Kanker Prostat, Bagaimana dengan Penerus Tahta?

Iwan Gunawan | 6 Februari 2024, 12:36 WIB
Raja Charles III Idap Kanker Prostat, Bagaimana dengan Penerus Tahta?

AKURAT.CO Raja Charles III telah didiagnosis mengidap kanker dan menunda kegiatan publik untuk menjalani pengobatan. Hal ini dikarenakan kesibukan pemerintahannya yang dimulai kurang dari 18 bulan lalu setelah kematian ibunya, Ratu Elizabeth II.

Pengumuman tersebut dinyatakan oleh Istana Buckingham pada Senin malam, setelah Raja Charles III keluar dari rumah sakit di London usai menjalani prosedur untuk mengobati pembesaran prostat.

Istana tak mengungkapkan jenis kanker apa yang diderita, namun seorang pejabat istana mengatakan bahwa bukan kanker prostat. Dokter menemukan kanker tersebut selama prosedur pengobatan pada hari Senin.

Berita tentang diagnosis Raja Charles III telah menyebar di seluruh Inggris. Setelah tujuh dekade pemerintahan Elizabeth, masyarakat mulai nyaman dengan kepemimpinan sang putra.

Raja Charles III menanti lebih lama untuk naik tahta dibanding siapa pun dalam sejarah monarki Inggris. Sosok Raja Charles akrab dengan kehidupan pribadinya yang tanpa henti menjadi sorotan media Inggris saat menjadi penguasa.

Namun, sebagai Raja, Charles berhasil menjadi negarawan tua yang percaya diri dan memberikan kesan halus namun jelas pada monarki. Raja Charles III sering berpergian dan berbicara mengenai isu-isu seperti perubahan iklim yang sudah lama menjadi hal penting baginya.

Baca Juga: Raja Charles III Didiagnosis Mengidap Kanker, Ini Penjelasan Pihak Istana

Kecemasan Raja Charles III bercampur dengan harapan agar dirinya segera pulih. Karena tidak ada rincian tentang kondisi terkini, spekulasi muncul ketika para pengamat kerajaan menguraikan empat paragraf pengumuman istana.

“Selama prosedur pembesaran prostat jinak yang dilakukan Raja baru-baru ini di rumah sakit, ada masalah terpisah yang menjadi perhatian,” kata istana.

“Tes diagnostik selanjutnya telah mengidentifikasi suatu bentuk kanker. Yang Mulia hari ini telah memulai jadwal perawatan rutin, selama waktu tersebut beliau telah disarankan oleh dokter untuk menunda tugas-tugas yang berhubungan dengan publik.”

Pejabat istana mengatakan raja akan terus melaksanakan tugas-tugas lain, termasuk pertemuan minggunya dengan perdana menteri serta tumpukan dokumen harian yang perlu diselesaikan sebagai kepada negara Inggris. Selain itu juga, tidak ada rencana menunjuk penasihat negara sebagai prosedur atau tanda bahwa penguasa tidak dapat memenuhi tugas karena sakit.

Istana memberi keterangan bahwa Raja Charles III tetap bersikap positif terhadap perlakuan yang diterimanya dan berharap dapat segera melanjutkan keterlibatannya di publik.

Pejabat istana juga menyampaikan, Raja Charles III akan kembali ke London di pedesaan Sandringham untuk memulai perawatan sebagai pasien rawat jalan.

Raja Charles III naik tahta pada September 2022 secara umum dalam kondisi sehat. Dirinya menderita radang amandel berulang saat masih sekolah. Ketika beranjak dewasa dirinya menyukai olahraga berat seperti hiking, polo dan ski.

Kabar tentang pengobatan prostat oleh raja dan diagnosis kanker merupakan hal yang tidak biasa diungkapkan oleh keluarga kerajaan.

Pasalnya keluarga istana hanya mengungkapkan sedikit perihal kesehatan mereka. Setelah kematian Ratu pada usia 96 tahun, istana mengeluarkan sertifikat kematian dengan hanya mencantumkan penyebab kematian adalah "usia tua."

Pejabat istana pada hari Senin menegaskan bahwa mereka tidak akan memberikan kabar terkini secara rutin mengenai kondisi raja.

Pihak istana meminta wartawan untuk mencoba menghubungi mereka yang terlibat dalam perawatannya.

Dalam sebuah pernyataan, Istana menjelaskan, bahwa Raja memilih untuk membagikan diagnosisnya untuk mencegah spekulasi dan harapan dapat membantu pemahaman publik bagi semua orang di dunia yang terkena dampak kanker.

Melansir dari BBC, Putra bungsu Raja Charles III, Pangeran Harry telah menghubungi sang ayah dan berencana melakukan perjalanan ke Inggris untuk mengunjunginya. Harry sebagian besar diasingkan dari keluarga kerajaan sejak dia dan istrinya, Meghan mengumumkan bahwa mereka mengundurkan diri dari tugas resmi dan pindah ke California.

Pejabat Istana mengatakan Ratu Camilla sering berkunjung selama dirawat di rumah sakit ketika dalam perawatan prostat di klinik London, sebuah rumah sakit swasta elit di lingkungan kota Marylebone.

Penyakit Charles menutup berita kesehatan yang meresahkan bagi keluarga kerajaan. Sebelumnya, Catherine istri dari Pangeran Wiliam dirawat di rumah sakit selama hampir dua minggu untuk menjalani operasi perut. Dia telah dipulangkan minggu lalu, namun Istana Kensington hanya merilis sedikit rincian tentang kesembuhannya yang diperkirakan akan berlangsung hingga setelah liburan Paskah.

Sarah Ferguson, Duchess of York dan Mantan Istri Adik Laki-laki Raja, Pangeran Andrew, baru-baru ini mengatakan, bahwa dia didiagnosis menderita melanoma atau sejenis kanker kulit yang cukup serius. Ini merupakan diagnosis kanker kedua dalam satu tahun. Ferguson yang telah berusia 64 tahun, telah menyampaikan secara terbuka akan keputusannya untuk menjalani operasi mastektomi dan rekontruksi tahun lalu setelah didiagnosis kanker payudara pada musim panas.

Berita mengenai sakitnya Raja Charles III mendatangkan banyak doa dari para pemimpin Inggris dan dunia serta tokoh masyarakat lainnya.

“Semoga Yang Mulia segera pulih sepenuhnya,” tulis Perdana Menteri Rishi Sunak di media sosial. “Saya yakin dia akan segera kembali ke kekuatan penuhnya dan saya tahu seluruh negara akan mendoakan yang terbaik untuknya.”

Presiden Biden, dalam perjalanan ke Las Vegas, mengatakan kepada wartawan, “Saya mengkhawatirkan dia. Baru saja mendengar tentang diagnosisnya.” Tuan Biden, yang disambut di Kastil Windsor oleh raja Juli lalu, mengatakan dia berharap untuk segera berbicara dengan Charles.

Michelle O'Neill, pemimpin nasionalis Irlandia yang baru saja ditunjuk sebagai menteri nasionalis pertama di pemerintahan Irlandia Utara, menulis di X, “Saya sangat menyesal mendengar penyakit Raja Charles dan saya ingin mendoakan yang terbaik untuk perawatannya dan pemulihan penuh dan cepat.”

Pengamat kerajaan enggan berspekulasi terkait hubungan penyakit Raja yang akan berdampak pada mahkotanya, terlebih tidak ada informasi rinci mengenai kondisi saat ini. Beberapa orang berharap karakterisasi suasana Raja Charles III yang optimis di istana.

“Jika raja mengalami sakit parah, maka akan ada pertanyaan konstitusional yang harus dijawab,” kata Ed Owens, sejarawan kerajaan yang baru-baru ini menerbitkan buku, “After Elizabeth: Can the Monarchy Save Itself?” “Demikian pula, waktu yang lama untuk tidak terlihat oleh publik akan mengharuskan anggota keluarga kerajaan lainnya yang sudah kewalahan untuk berbuat lebih banyak.”

Owens mengatakan usia raja membuat kekhawatiran mengenai kesehatannya tidak dapat dihindari, dan menambahkan, “Saat-saat seperti inilah, saat yang tepat untuk menyoroti kualitas konstitusi Inggris yang sangat manusiawi dan berpotensi rapuh.”

Selama berada di tahtanya, Raja Cahrles III telah menjadi sosok yang berpengaruh dalam menjalani kehidupan seperti yang dilakukan selama beberapa dekade dan lebih berperan dalam politik dibanding ibunya.

Tahun lalu, Raja Charles III menjadi tuan rumah di Kastil Windsor untuk Presiden Komisi Eropa, Ursula Von der Leven setelah tanda tangan perjanjian perdagangan Irlandia Utara dengan Tuan Sunak. Pemilihan waktu tersebut banyak menuai kritik sebab dinilai memberi izin kerajaan terhadap kesepakatan yang dianggap mengintervensi sebagian orang dan tidak pantas dilakukan oleh seorang Raja dalam politik.

Raja melaksanakan dua kunjungan kenegaraan dengan sukses di Eropa. Berpidato di depan Parlemen Jerman menggunakan bahasa Jerman dapat menarik perhatian banyak orang saat berjalan-jalan dengan Presiden Emmanuel Macron dari Perancis.

Baca Juga: Resep Coronation Quiche, Hidangan Resmi Di Penobatan Raja Charles III

Pada bulan Desember, Raja Charles berpidato di upacara pembukaan KTT iklim PBB di Dubai dengan memaparkan sejumlah bencana alam terkait iklim yang menimpa dunia pada tahun lalu, seperti kebakaran hutan di Kanada, banjir di India, Pakistan, dan Bangladesh, siklon di Pasifik dan kekeringan di Afrika Timur.

“Kita membawa alam keluar dari norma dan batasan yang seimbang, dan memasuki wilayah berbahaya yang belum dipetakan,” katanya. “Pilihan kita sekarang adalah pilihan yang lebih tegas dan kelam: Seberapa berbahayakah persiapan kita untuk menciptakan dunia kita?”

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

I
Reporter
Iwan Gunawan
R