Disinggung Gibran Saat Debat Cawapres, Intip Pengertian Demo Rompi Kuning

AKURAT.CO redaksi
Mulanya, Gibran melontarkan pertanyaan kepada cawapres nomor urut 3 Mahfud MD, mengenai cara mengatasi greenflation pada segmen tanya jawab antar cawapres.
Mahfud kemudian mengaitkannya dengan ekonomi hijau. Namun rupanya,Gibran kurang puas atas jawaban Mahfud, sehingga Gibran menanggapinya dengan membeberkan tentang inflasi hijau yang terkait dengan demo rompi kuning di Prancis.
Baca Juga: Bertemu Kelompok Rompi Kuning, Wakil PM Italia Dikecam
Lantas, apa yang dimaksud dengan demo rompi kuning?
Dilansir dari Aljazeera, demo rompi kuning atau ‘the yellow vest movement’ merupakan aksi protes yang terjadi pada November 2018 di Prancis, sebagai respon atas adanya kenaikan harga bahan bakar mobil. Para demonstran aksi ini nampak mengenakan properti rompi keselamatan berwarna kuning neon yang wajib dibawa bagi seluruh pengendara sesuai dengan hukum yang berlaku di Prancis.
Para demonstran merasa marah akan adanya peningkatan harga bensin di pom bensin, dengan biaya diesel yang meningkat sekitar 20 persen setahun terakhir menjadi 1,49 Euro per liter.
Macron kemudian mengumumkan pajak lebih lanjut untuk bahan bakar, yang akan mulai berlaku pada 1 Januari 2019, dalam sebuah langkah yang menurutnya diperlukan untuk memerangi perubahan iklim dan melindungi lingkungan.
Aksi ini kemudian kian meluas guna melawan bias Macron yang dianggap berpihak pada para elit dan penduduk kota yang kaya.
Menurut para analis, aksi protes ini banyak diikuti oleh para pekerja dengan penghasilan menengah ke bawah yang mengatakan bahwa mereka hampir tidak mendapatkan penghasilan dan mendapatkan layanan publik yang minim sebagai imbalan atas beberapa tagihan pajak tertinggi di Eropa. Selain itu, para petugas ambulan dan siswa dari beberapa sekolah menengah atas yang kesal dengan reformasi pendidikan juga ikut bergabung dalam aksi protes ini.
Di Paris, situasi demonstran kian kacau. Arc de Triomphe sebagai salah satu tempat terkenal di Paris pada saat itu diselimuti gas air mata, tak lama setelah para demonstran berkumpul. Polisi berusaha mengendalikan para demonstran dengan menembakkan ratusan tabung gas, meriam air, serta granat setrum tetapi tidak berhasil.
Para demonstran di Champs Elysees membakar barikade dan ratusan kendaraan. Mereka juga menjarah dan merusak toko-toko sekitar. Akibat kericuhan ini, ratusan orang mengalami luka-luka.
Selain itu, aksi protes yang berlangsung selama tiga minggu ini juga berdampak terhadap perekonomian di Prancis. Pendapatan di beberapa sektor mengalami penurunan dengan tingkat 15 hingga 50 persen. (Diana Aslamiyyah)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









