AKURAT.CO, Menteri Luar Negeri Prancis, Jean Yves Le Drian mengecam Wakil Perdana Menteri Italia, Luigi Di Maio setelah ia menggelar pertemuan dengan pemimpin kelompok Rompi Kuning, kelompok yang dianggap bertanggung jawab atas serangkaian aksi anarkis di Prancis tahun lalu.
Jean mengatakan apa yang dilakukan di Maio merupakan sebuah tindakan provokasi yang tidak dapat diterima. Selain itu, pertemuan tersebut juga dikatakan merusak hubungan dua negara Eropa.
"Provokasi baru ini tidak dapat diterima antara negara-negara tetangga dan mitra di jantung Uni Eropa," seorang juru bicara kementerian mengatakan dalam sebuah pernyataan, dilansir dari laman The Local Italy, Kamis (7/2).
"Di Maio, yang memiliki tanggung jawab pemerintah, harus memastikan bahwa dia tidak mengganggu dengan berulangnya campur tangan hubungan bilateral kita, demi kepentingan Prancis dan Italia," kata juru bicara itu.
Di Maio yang merupakan pemimpin Partai M5S mengatakan pada hari Selasa lalu bahwa dirinya bertemu dengan pemimpin kelompok Rompi Kuning, Christophe Chalencon dan Ingrid Levavasseur pada bulan Mei. Ia juga mengatakan bahwa dirinya mengundang mereka dan anggota kelompok Rompi Kuning lainnya ke Roma.
Di Maio berdalih bahwa partainya dan kelompok Rompi Kuning memiliki pandangan yang sama.
"Kami memiliki banyak posisi dan nilai yang sama, seperti membela warga negara, hak-hak sosial, demokrasi langsung dan lingkungan," katanya dalam sebuah tweet.
"Ada antusiasme, kita akan segera bertemu di Roma," tambahnya.
Di Maio sebelumnya sempat menyatakan kekagumannya pada kelompok Rompi Kuning dan meminta mereka untuk tidak menyerah dalam "perjuangan" mereka.
Ini bukanlah pertama kalinya Di Maio memancing kemarahan Prancis, sebelumnya ia mengatakan Prancis sebagai biang keladi banjirnya imigran di Italia. Rekan Di Maio, Matteo Salvini, menambah panas situasi dengan mengatakan bahwa rakyat Prancis hidup di bawah kekuasaan seorang presiden yang mengerikan-merujuk pada kepemimpinan Emmanuel Macron.
Kelompok Rompi Kuning adalah kelompok di Prancis yang dianggap sebagai provokator dalam serangkaian aksi unjuk rasa di Paris yang berlangsung selama 4 minggu. Aksi unjuk rasa yang semula memprotes kenaikan harga BBM berubah menjadi aksi untuk menuntut Macron mundur dari kursi presiden. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 7KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 8Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon




