Pengkritik Perang Rusia Di Ukraina Terjebak Dalam ‘Kubangan’ Penjara

AKURAT.CO Timofei Rudenko (30) ditangkap dan ditahan lima kali dalam kurun waktu dua bulan selama musim panas karena serangkaian pelanggaran ringan termasuk memaki orang yang lewat dan tidak mematuhi petugas polisi Rusia.
Menurut catatan Pengadilan Rusia, setiap kali dibebaskan, Rudenko segera ditangkap kembali untuk pelanggaran ringan lainnya dan dikembalikan ke tahanan.
Ibu Rudenko, Yulia Kiselyova, mengatakan bahwa dia melihat putranya ditangkap untuk kelima kalinya pada 7 Juli atau beberapa saat setelah keluar dari penjara Rusia.
"Mereka memasukkannya ke dalam mobil di sana dan membawanya ke pengadilan baru," kata Kiselyova, dikutip Kamis (7/9/2023).
Wanita tersebut bersikeras bahwa sang anak tidak melakukan kesalahan dan menjadi sasaran karena telah mengunggah kritik terhadap perang di Ukraina di media sosial pribadinya dalam beberapa bulan terakhir.
Rudenko merupakan seorang mantan psikolog militer Rusia yang ditangkap untuk keenam kalinya pada 21 Juli karena diduga membenarkan terorisme di internet.
Kejahatan tersebut tergolong serius yang dapat dijatuhi hukuman hingga tujuh tahun penjara menurut catatan pengadilan.
Namun, Yulia Kiselyova mengatakan bahwa putranya yang kini dikurung di sebuah fasilitas penahanan pra-persidangan di Rusia membantah semua kejahatan yang dituduhkan kepadanya.
Penangkapan Beruntun bagi 'Pembangkangan Rakyat' di Rusia
Tiga pengacara HAM Rusia menggambarkan pengalaman Rudenko itu sebagai contoh penangkapan beruntun atau penangkapan berkali-kali atas pelanggaran ringan.
Penangkapan beruntun digambarkan dengan setiap penangkapannya dilakukan pada hari yang sama ketika tersangka selesai menjalani hukuman penjara, sehingga mereka berada dalam tahanan yang nyaris konstan.
Pengacara HAM tersebut mengatakan bahwa praktik ini merupakan salah satu alat yang digunakan oleh pihak berwenang Rusia untuk menumpas pembangkangan rakyat terhadap konflik yang telah berlangsung selama 18 bulan di Ukraina.
Badan Investigasi Utama Rusia, Komite Investigasi, Kementerian Dalam Negeri dan Kantor Kejaksaan Agung tidak menanggapi permintaan untuk berkomentar mengenai fenomena penangkapan beruntun atau kasus-kasus individual tersebut.
Sementara, pemenjaraan berturut-turut tidak termasuk perbuatan ilegal di negara tersebut sebab hukum Rusia mengizinkan hakim untuk memerintahkan penahanan administratif hingga 30 hari untuk pelanggaran ringan.
Meskipun demikian, penangkapan beruntun dapat memberikan waktu bagi para penyelidik untuk menggali masa lalu dan aktivitas online seseorang sehingga berpotensi membuka kasus kriminal yang lebih serius.
Dilansir dari Reuters, catatan pengadilan Rusia mengidentifikasi tujuh kasus penangkapan beruntun tahun ini dengan para tersangka yang terlibat lalu ditangkap dan dipenjara antara dua hingga lima kali secara berurutan.
Valeriya Vetoshkina, seorang pengacara dari First Department, sebuah LSM HAM Rusia mengatakan bahwa dia mengetahui sekitar 10 contoh penangkapan beruntun sejauh ini di tahun 2023, termasuk tujuh kasus yang diidentifikasi sebelumnya.
Dia bahkan menambahkan bahwa angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










