Tanah Masih Bergerak, Gibran Minta Warga Tegal Tak Kembali ke Rumah

AKURAT.CO Wakil Presiden (Wapres), Gibran Rakabuming Raka, meninjau langsung kondisi pengungsi serta lokasi terdampak bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (6/2/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Wapres memastikan penanganan pengungsi berjalan cepat, terpadu, dan tepat sasaran. Ia menegaskan bahwa keselamatan jiwa warga menjadi prioritas utama pemerintah.
Wapres meminta warga tidak memaksakan diri kembali ke rumah masing-masing karena kondisi tanah masih labil dan sangat berbahaya.
“Sekarang prioritasnya adalah keselamatan warga, keselamatan para santri. Jangan memaksakan diri kembali ke atas atau mengambil barang-barang yang tersisa. Keselamatan semua, terutama para santri, itu nomor satu,” ujar Wapres, dikutip Sabtu (7/2/2026).
Ia menegaskan, kondisi alam di wilayah terdampak sudah tidak memungkinkan untuk dihuni kembali, sehingga relokasi menjadi langkah strategis demi keselamatan bersama.
“Pokoknya sekali lagi, yang nomor satu adalah keselamatan warga dan para santri,” tegasnya.
Selain itu, Wapres juga menjamin pengurusan dokumen penting warga yang hilang akibat bencana, seperti sertifikat tanah, akta kelahiran, dan Kartu Keluarga (KK).
Ia menginstruksikan jajarannya untuk mempercepat proses penerbitan dokumen pengganti.
Baca Juga: Lebih dari 2.400 Warga Desa Padasari Mengungsi Akibat Tanah Bergerak
“Sertifikat atau akta yang hilang nanti langsung diurus, satu hari jadi. Bapak-Ibu tidak perlu risau,” ujarnya.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang mendampingi Wapres memastikan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan hunian relokasi bagi warga terdampak.
“Panjenengan semua sudah disiapkan rumah untuk ditempati, gratis, tidak perlu membayar apa pun,” kata Luthfi.
Senada, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menegaskan bahwa wilayah terdampak masih sangat berbahaya karena pergerakan tanah masih berlangsung.
“Wilayah tersebut sangat berbahaya untuk ditinggali kembali. Mohon jangan dipaksakan,” ujarnya.
Direktur Penanganan Darurat Wilayah I BNPB Agus Riyanto menjelaskan, penanganan bencana dilakukan melalui asesmen terpadu bersama Badan Geologi dan pemetaan wilayah terdampak sebagai dasar penentuan kebijakan relokasi.
“Konsep penanganan ini adalah relokasi. Yang terpenting saat ini masyarakat selamat, dan ke depan akan ditentukan lokasi relokasi berdasarkan rekomendasi teknis Badan Geologi,” jelasnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Adalah, Idatun Nachriyah, menyampaikan bahwa evakuasi santri telah dilakukan lebih awal untuk menghindari risiko korban jiwa.
Ia berharap pemerintah membantu pemulihan sarana pendidikan yang rusak akibat bencana.
“Gedung SMA dan ruang kelas sudah hilang semuanya. Harapannya ada bantuan lokasi ruang kelas dan tempat tinggal sementara bagi para santri,” ungkapnya.
Sebagai informasi, jumlah pengungsi di Posko Pengungsian Pondok Pesantren Al-Adalah 2 mencapai 526 jiwa, terdiri dari 234 santri putra dan 292 santri putri dari Pondok Pesantren Dawuhan Padasari.
Seluruh santri saat ini berada dalam penanganan terpadu pemerintah pusat dan daerah, dengan pemenuhan kebutuhan dasar meliputi hunian sementara, logistik, layanan kesehatan, serta pendampingan psikososial.
Baca Juga: Kenapa Orang Suka Ghosting Tanpa Penjelasan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










