Pemda Harus Kawal Distribusi dan Harga Beras Lewat 7 Kanal SPHP

AKURAT.CO Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian, meminta pemerintah daerah (Pemda) untuk menjaga suplai dan stabilitas harga beras melalui penguatan jalur distribusi. Hal ini dilakukan guna menekan potensi kenaikan harga beras di sejumlah daerah.
Tito menjelaskan, pengendalian harga dapat dioptimalkan lewat tujuh kanal penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), yakni:
-
Pengecer di pasar rakyat,
-
Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdeskel) Merah Putih,
-
Outlet pangan binaan dan Gerakan Pasar Murah (GPM) Pemda,
-
Outlet Badan Usaha Milik Negara (BUMN),
-
Outlet instansi pemerintahan,
-
Rumah Pangan Kita (RPK) Perum Bulog, dan
-
Toko swalayan atau ritel modern.
“Pemda harus rutin melakukan operasi pasar dengan mengeluarkan beras SPHP melalui tujuh jalur yang telah ditetapkan. Tadi Pak Kapolri juga mengusulkan agar kepala pasar digerakkan lebih aktif,” ujar Tito, dikutip Selasa (21/10/2025).
Mendagri menekankan agar Pemda yang memiliki Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pangan serta program GPM terus mengoptimalkan perannya.
Ia juga mendorong sinergi dengan BUMN pangan seperti ID Food, serta instansi pemerintah yang memiliki jaringan distribusi kuat, seperti TNI, Polri, dan Kejaksaan.
Baca Juga: SEA Games: Erick Thohir Targetkan Minimal 82 Emas, Ogah Kirim Atlet 'Coba-Coba'
Selain itu, promosi beras SPHP oleh Perum Bulog dan dukungan distribusi dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) serta ritel modern harus dimaksimalkan untuk mempercepat penyaluran ke masyarakat.
“Nanti juga dilakukan operasi khusus di daerah-daerah yang mengalami kenaikan harga di atas 1 persen. Berdasarkan data, jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 16 daerah,” kata Tito.
Selain menyoroti stabilitas harga beras, Tito juga memaparkan perkembangan inflasi nasional.
Ia menyebut inflasi Indonesia secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2025 tercatat sebesar 2,65 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini dinilai masih stabil dari sisi produsen maupun konsumen.
“Dua penyumbang utama inflasi nasional adalah sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya, serta sektor makanan, minuman, dan tembakau,” jelasnya.
Beberapa komoditas penyumbang inflasi, lanjut Tito, antara lain emas perhiasan, cabai merah, bawang merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras.
“Harga emas naik sekitar 40 persen, tertinggi dalam sejarah. Kenaikan ini memicu lonjakan pembelian di banyak negara, termasuk Indonesia,” ungkapnya.
Adapun daerah yang perlu mendapat perhatian khusus karena mencatat kenaikan harga beras di atas 2 persen antara lain Kabupaten Intan Jaya, Barito Timur, Pulang Pisau, Bima, Puncak Jaya, Tangerang, Sukabumi, dan Sumba Tengah.
Baca Juga: Susunan Acara Upacara Hari Santri Nasional 2025 Resmi dari Kementerian Agama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi







