Akurat

Kemendukbangga: Ada 331.000 Keluarga Risiko Stunting di NTT

Ahada Ramadhana | 20 Maret 2025, 18:50 WIB
Kemendukbangga: Ada 331.000 Keluarga Risiko Stunting di NTT

AKURAT.CO Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Wihaji menyampaikan dari data yang ada, sebanyak 331 ribu keluarga berisiko stunting (KRS) di Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Baca Juga: BNI Beri Makan Bergizi hingga Smart Parenting di Tasikmalaya, Cegah Stunting

Selain itu, terdapat 81 ribu masyarakat di NTT yang membutuhkan jamban. Di antaranya 157 ribu keluarga yang tidak memiliki jamban, bahkan 103 ribu keluarga yang tidak memiliki air minum utama yang layak dikonsumsi.

“Ini sangat membutuhkan campur tangan pemerintah, sekitar 81.984 untuk pra sejahtera, miskin ekstrim, kira-kira gitu,” sebutnya di Jakarta, Kamis (20/3/2025).

Wihaji menegaskan bahwa bonus demografi di Indonesia itu ada 70,72%. Artinya orang Indonesia yang produktif itu lumayan banyak. Perbandingan jika dalam 10 orang berarti ada 6 atau 7 yang produktif.

“Untuk apa? Sebenarnya yang 7 atau 6 orang yang produktif ini diharapkan bisa mendapatkan available job atau dapat pekerjaan,” ujarnya.

Bonus demografi tersebut menilai bahwa 7 dari 10 orang Indonesia itu produktif. Masih harus dipastikan bahwa produktif yang dimaksud ialah telah mendapatkan pekerjaan atau belum memiliki pekerjaan.

“Saya kira tantangan di NTT juga ternyata mungkin dari 70% itu bisa juga hanya 30% yang mendapat pekerjaan, yang 40% belum mendapatkan available job atau pekerjaan”, ucap Menteri Wihaji.

Sebelumnya, Menteri Wihaji menerima kunjungan kerja Gubernur NTT beserta jajaran di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta Timur.

Baca Juga: Tanwir Muhammadiyah 2024 Akan Digelar di Kupang NTT

Kunjungan kerja tersebut dilakukan untuk membahas program Kemendukbangga/BKKBN yang disinergikan dengan Pemerintah Provinsi NTT terutama di bidang Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.