AKURAT.CO, Bagi suporter Tim Nasional Indonesia, frase tua populer dari Bahasa Spanyol berbunyi "Que Sera, Sera" adalah ungkapan yang paling pas untuk diterima hari-hari belakangan ini.
Secara sederhana, "que sera, sera" bisa diartikan "apa yang akan terjadi, terjadilah". Demikianlah hendaknya pemecatan Shin Tae-yong dari jabatan kepelatihan Timnas Indonesia diterima oleh suporter.
Mesti menunggu setidaknya tiga hari untuk mempertimbangkan menulis artikel mengenai pemecatan Shin Tae-yong dengan sudut pandang ini. Butuh jeda agar tak terbawa emosi untuk situasi yang ternyata mengaduk emosi ini.
Baca Juga: PSSI Resmi Pecat Shin Tae-yong dari Timnas Indonesia, Penggantinya Tiba di Indonesia 11 Januari
Reaksi publik yang besar mungkin sudah diperhitungkan oleh Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dan koleganya saat memutuskan untuk memecat Shin Tae-yong.
Pun begitu, yang sepertinya tidak terprediksi oleh Erick dan elite PSSI adalah bahwa pemecatan Shin Tae-yong ternyata memberikan dampak yang menyentuh perasaan suporter yang gemanya cukup panjang. Baik terhadap yang anti Shin apalagi yang mendukungnya.
Sepanjang ingatan menyimak perjalanan Timnas Indonesia, hanya ada dua pelatih yang perpisahan dengannya terasa begitu emosional bagi publik. Yang pertama Luis Milla pada 2018 dan kemudian Shin Tae-yong.
Dua pelatih ini berhasil menjalin hubungan yang khas dengan suporter. Seakan-akan, federasi adalah "orang ketiga" yang terkadang "usil" dalam hubungan pelatih dan suporter Garuda.
Jika Erick Thohir dan elite PSSI berulangkali menyebut "dinamika" sebagai ungkapan yang diplomatis untuk memecat Shin Tae-yong, hubungan sang pelatih dengan suporternya juga datang dari dinamika yang bahkan terjadi secara natural.
Untuk negara dengan skala dan sebergairah Indonesia terhadap sepakbola, ada semacam psyche bawaan warga negara secara umum yang menganggap negara mereka adalah negara besar dan sebab itu mereka percaya bahwa mereka bisa melakukan hal-hal besar.
Baca Juga: Publik Terpecah Pergantian Shin Tae-yong ke Patrick Kluivert, Pengamat: Sah Saja Dalam Sepakbola
Maka ketika PSSI pasca pencabutan sanksi FIFA pimpinan Edy Rahmayadi merekrut Luis Milla pada 2017, sifaat bawaan itu mendapatkan respons sepadan mempertimbangkan apa yang disebut oleh Pelatih Timnas Indonesia U-19 ketika itu, Fakhri Husaini, dengan ungkapan "pelatih kaliber Milla".
Suporter yang tumbuh dengan sejarah kekecewaan karena hasrat menjadi besar selalu kandas bahkan di level Asia Tenggara, kini mendapatkan harapan baru dengan Luis Milla yang punya rekam jejak membawa Spanyol menjuarai Piala Eropa U-21 2011 dengan pemain-pemain seperti Juan Mata, Thiago Alcantara, dan David De Gea.
Targetnya ketika itu adalah membawa Indonesia ke delapan besar Asian Games 2018 sebagai tuan rumah. Target itu gagal tercapai karena Indonesia terhenti di 16 besar.
Hanya saja, di tangan Milla ada semacam secercah harapan melihat Timnas Indonesia mulai menunjukkan kemampuan bermain dengan gaya ala Spanyol yang digandrungi sepanjang dekade itu.
Kepergian Milla disesali setelah kontraknya tak diperpanjang pasca Asian Games karena sejatinya suporter melihat ada kemajuan positif dalam permainan Garuda.
Dan secara emosi, gestur dan gerak-gerik yang ditunjukkan eks pemain Barcelona dan Real Madrid itu bisa dirasakan oleh suporter sebagai hal yang tulus. Ketulusan itulah yang membangun "perasaan" antara suporter dan sang entrenador.
Adapun Milla tidak sulit untuk tersentuh ketika ia melihat betapa ramainya suporter Indonesia di setiap pertandingan pasukannya di SEA Games Kuala Lumpur 2017 yang notabene sepenuhnya pertandingan tandang. Sayangnya, Milla hanya bisa membawa Indonesia meraih perunggu setelah disingkirkan tuan rumah Malaysia di semifinal.
Ketika PSSI akhirnya memilih Shin Tae-yong pada 2019 sementara Luis Milla juga sudah melakukan wawancara di Manila, Filipina, di sela SEA Games 2019, suporter sebenarnya mengkehendaki pelatih asal Spanyol itu kembali.
Mereka beranggapan bahwa Milla dipecat ketika pekerjaannya belum selesai. Dan agaknya, perasaan yang sama muncul ketika PSSI memecat Shin Tae-yong di mana kontraknya baru berakhir pasca Piala Asia 2027 dan Timnas Indonesia sedang di jalur berpeluang lolos ke Piala Dunia 2026.
Akan halnya Milla, Shin Tae-yong juga tidak sulit untuk merasakan besarnya harapan suporter agar pelatih yang pernah membawa Korea Selatan mengalahkan Jerman di Piala Dunia 2018 itu bisa melakukan hal yang sama bersama Garuda.
Kemudian pandemi Covid-19 datang, konflik dengan Indra Sjafri, dan Shin Tae-yong sukses mengambil hati suporter ketika ia membawa Indonesia mengalahkan Malaysia 4-1 di penyisihan Piala AFF 2020 pada Desember 2021.
Kemenangan itu membuat Shin Tae-yong dianggap berhasil melepas kutukan selalu kalah atas Malaysia yang sudah berlangsung selama satu dekade.
Baca Juga: Dari Bayar Puluhan Miliar Sampai Dikecam, PSSI Tegaskan Ambil Risiko Memecat Shin Tae-yong
Sejak itu, popularitasnya meningkat dan Shin Tae-yong mulai mendapat serangan dari beberapa Exco PSSI karena Indonesia kalah di final Piala AFF atas Thailand.
Dalam situasi itu, Shin Tae-yong menunjukkan karakter yang membuatnya disukai oleh suporter: berani berkonfrontasi.
Ya, dengan pengalaman panjang suporter melihat politik di PSSI yang sering berdampak pada buruknya capaian Timnas, Shin Tae-yong tidak takut untuk berhadap-hadapan dengan elite PSSI.
Termasuk ketika ia bicara di media Korea Selatan soal berubahnya sikap Ketua Umum PSSI saat itu, Mochamad Iriawan, ketika Indra Sjafri yang semula adalah asistennya digeser ke posisi direktur teknik.
Sikap keras itu juga ditunjukkan Shin dengan tak segan mencoret pemain yang tak sesuai standar disiplinnya. Dan dengan watak yang seperti itu, ia meraih sejumlah pencapaian yang belum pernah dicicipi oleh Timnas Indonesia.
Indonesia lolos ke Piala Asia, nyaris lolos ke Olimpiade Paris, dan terakhir bertahan di putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia dengan kemenangan bersejarah melawan Arab Saudi, November lalu.
Banyak pihak yang mengatakan bahwa yang salah dari pemecatan Shin Tae-yong adalah soal "timing". Hubungan antara Shin dan suporter membuat pemilihan momen tersebut menempatkan PSSI memperlakukan sang pelatih dengan tidak hormat.
Bagi suporter, ada semacam profil "teraniaya" pada Shin Tae-yong dalam kasus pemecatannya oleh PSSI.
Karena membawa-bawa perasaan, maka respons publik yang diwakili oleh beberapa pengamat dan mantan pelatih juga mengandung emosi. Yakni, jika pelatih baru pilihan PSSI tak lebih baik dari Shin Tae-yong, maka, dalam ungkapan salah seorang eks Pelatih Timnas Indonesia, "pisau akan mengarah ke Erick Thohir."
Untungnya Erick Thohir memilih Patrick Kluivert. Orang Indonesia, dengan bawaan ingin melakukan hal-hal besar, untuk sementara bisa mendapatkan penyeimbang karena popularitas Kluivert.
Silau karena Patrick Kluivert adalah legenda Timnas Belanda dan bermain untuk klub sekelas Barcelona sudah menjadi umum bagi orang Indonesia. Sekalipun keraguan tetap muncul karena Kluivert tak punya rekam jejak meyakinkan sebagai pelatih.
Tak ada jalan kembali. Standar sudah dinaikkan dari sekadar lolos ke putaran ketiga, finish di empat besar, kini mesti melaju ke Piala Dunia 2026.
Tersisa empat laga lagi di Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026 sampai Juni nanti, tekanan besar sekarang ada di pundak Kluivert dan juga Erick Thohir untuk menjawab emosi suporter karena pemecatan Shin Tae-yong.
Que sera, sera! Suporter jelas mengharapkan Indonesia lolos ke Piala Dunia yang didamba-dambakan itu. Pada saat yang sama, dambaan itu berarti mengandaikan Kluivert sukses.
Mari doakan yang terbaik! Jika Garuda lolos ke Piala Dunia, maka Patrick Kluivert akan mendapatkan jalinan perasaannya dengan suporter Indonesia sebagaimana yang pernah didapatkan Luis Milla dan Shin Tae-yong.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 2Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 3ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 4Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 5Persija Terpaksa Jamu Java United di Bali, Terancam Pengurangan Poin Jika 4 Kali Musafir
- 6Prediksi Skor Sunderland vs AZ Alkmaar 17 September 2026: The Black Cats Bisa Tahan Tim Belanda?
- 7Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 8Kenapa Thailand Ingin Berantas Ikan Nila Hitam? Ini 5 Alasannya
- 9Prabowo Pimpin Sidang DEN di Istana, Instruksikan Persiapan E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi
- 10Terungkap di Sidang Korupsi Kuota Haji: Anak Buah Bos Maktour Setor USD10 Ribu ke Pejabat Kemenag









