Akurat

PBSI Masih Yakin Bisa Raih Emas Olimpiade Setelah Tampil Buruk di Indonesia Terbuka 2024

Herry Supriyatna | 10 Juni 2024, 00:00 WIB
PBSI Masih Yakin Bisa Raih Emas Olimpiade Setelah Tampil Buruk di Indonesia Terbuka 2024

AKURAT.CO Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) masih merasa optimistis tim bulutangkis Indonesia mampu menggondol medali emas pada Olimpiade 2024 Paris.

Hal tersebut diungkapkan Kabid Binpres PBSI, Ricky Subagja, setelah hasil buruk yang didapatkan skuad pelatnas saat tampil di Turnamen Super 1000 Indonesia Terbuka 2024, 4-9 Juni.

"Dengan (menurunkan) sembilan atlet ke Olimpiade, saya punya keyakinan besar di lima sektor yang ada ini," jelas Ricky di sela-sela final Indonesia Terbuka 2024 yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (9/6).

"Potensi meraih medali (emas) pun sangat besar. Kalau bicara target untuk lima sektor ini, semua punya peluang. Tinggal bagaimana para pemain ini mau atau tidak meraih medali."

Baca Juga: Jakarta LavAni Pastikan Tempat di Final Four, Bandung BJB Tetap Jaga Peluang

Walau punya potensi, tapi tampaknya untuk mewujudkan medali emas Olimpiade 2024 Paris bukan pekerjaan mudah jika menilik hasil dari Indonesia Terbuka 2024.

Pasalnya, dari sembilan wakil Indonesia yang tampil di Olimpiade, hanya Gregoria Mariska Tunjung yang mampu bertahan hingga akhir.

Itupun Gregoria hanya mampu melangkah sampai babak perempat final. Sementara lima wakil lainnya sudah lebih dulu tersingkir di babak pertama dan kedua.

Bahkan wakil tunggal putra seperti Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting sudah takluk sejak babak pertama, sama seperti ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.

Disinggung kekalahan tersebut lantaran masih menyimpan 'senjata pamungkas' untuk tampil di Olimpiade, Ricky membantah hal tersebut.

Baca Juga: Polwan yang Bakar Suaminya Ditetapkan Sebagai Tersangka

Menurutnya, gelar di Indonesia Terbuka 2024 ini cukup penting bagi mereka. Apalagi turnamen berlevel 1000 ini berlangsung di kandang sendiri, di Istora Senayan.

"Tidak seperti itu, karena ini Super 1000. Paling tidak harus meraih gelar di Indonesia Open," jelas Ricky.

"Target kitapun sebagai tuan rumah berharap bisa tampil maksimal. Berharap sebanyak mungkin masuk final dan meraih gelar, itu (target) utamanya."

Sayang, apa yang ditargetkan PBSI tidak bisa terealisasi. Bahkan, satu-satunya wakil yang mampu melangkah jauh sampai babak semifinal adalah pemain non-pelatnas Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani.

Kegagalan di Indonesia Terbuka 2024 menunjukkan ketidakkonsistenan para pemain-pemain elit bulutangkis Indonesia.

Ricky bahkan mengakui bahwa kemungkinan ada faktor-faktor nonteknis yang mempengaruhi permainan pasukannya di turnamen terakhir mereka jelang Olimpiade 2024 Paris mendatang.

Baca Juga: Jay Idzes Pastikan Skuad Garuda dalam Keadaan Siap, Tak Mau Anggap Remeh Tim Juru Kunci

Namun, mereka tidak akan berkecil hati dan bakalan berusaha memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk melakukan persiapan terbaik demi meraih emas Olimpiade.

"Hasil yang tidak memuaskan ini, pasti ada terjadi (masalah) non teknis. Kami harus tahu betul apa yang dirasakan para pemain sehingga hasilnya seperti ini," beber Ricky.

"Karena, seorang pemain top (level) seharusnya lawan siapapun bisa diatasi. tapi, faktanya ini masih naik-turun (performanya)."

Kekalahan di babak-babak awal memastikan Indonesia tanpa gelar di rumah sendiri. Sementara juara umum mampu direbut China dengan koleksi empat gelar juara, hanya kehilangan sektor ganda putra yang direbut wakil Korea Selatan Baek Ha Na/Lee So Hee.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.