Wuhan Terbuka: Coco Gauff Raih Gelar WTA 1000 Ketiga dengan Singkirkan Jessica Pegula di Final
Leo Farhan | 13 Oktober 2025, 12:01 WIB

AKURAT.CO, Petenis putri asal Amerika Serikat, Coco Gauff, keluar sebagai juara Wuhan Terbuka 2025 usai menyingkirkan kompatriotnya, Jessica Pegula, di babak final dengan skor 6-4 dan 7-5.
Coco Gauff mengalahkan Jessica Pegula melalui pertandingan berdurasi satu jam 42 menit di Optics Valley International Tennis Center, Wuhan, China, Minggu (12/10).
Dua tahun setelah bersama-sama meraih gelar ganda di WTA 1000 Miami 2023, Coco Gauff dan Jessica Pegula kembali berdiri berdampingan di podium Wuhan. Bedanya, kali ini hanya satu di antara mereka yang bisa mengangkat trofi juara.
Baca Juga: China Terbuka: Coco Gauff Amankan Tiket Perempat Final dengan Drama 3 Set Kontra Belinda Bencic
Gauff tampil solid sejak awal. Servis keras dan agresifitasnya dari baseline membuat Pegula kesulitan mengimbangi ritme permainan. Kemenangan ini menjadi gelar WTA 1000 ketiga bagi Gauff, sekaligus gelar kesebelas di sektor tunggal.
Musim ini, petenis berusia 21 tahun itu juga telah menjuarai Prancis Terbuka 2025. Hal itu menambah daftar pencapaiannya yang kini mencakup dua gelar Grand Slam dan sepuluh gelar ganda profesional.
Dalam seremoni kemenangan, Gauff bahkan menyampaikan apresiasi khusus kepada Pegula, rekan dan juga koleganya yang telah menjadi sosok penting sejak awal kariernya di dunia tenis profesional.
"Ketika saya baru masuk tur, kamu adalah salah satu orang yang bersikap baik dan menyambut saya dengan tangan terbuka. Itu berarti banyak untuk saya. Senang akhirnya bisa bertemu kamu di final," kata Gauff dikutip laman WTA Tennis.
Pertemuan dua kompatriot ini juga menjadi momen bersejarah. Gauff tercatat sebagai pemain pertama dalam sejarah yang mencatat rekor sempurna 9-0 di final hard court dengan semua kekalahannya di final justru terjadi di lapangan tanah liat.
Tak hanya itu, Gauff menjadi juara Wuhan Terbuka pertama yang tak kehilangan satu set pun sejak turnamen ini digelar pada 2014.
Sepanjang perjalanan menuju final, ia hanya kehilangan total 25 gim, catatan paling sedikit dari juara mana pun dalam sejarah Wuhan Terbuka.
Perjalanannya dimulai dengan kemenangan mudah atas Moyuka Uchijima di putaran kedua, hanya dalam 51 menit.
Ia kemudian menyingkirkan Zhang Shuai di putaran ketiga, Laura Siegemund di perempat final, dan Jasmine Paolini—yang sebelumnya menundukkan Iga Swiatek—di semifinal.
Pegula, di sisi lain, datang ke final dengan catatan impresif setelah melewati delapan laga tiga set berturut-turut, memenangi tujuh di antaranya.
Namun, Gauff sudah bertekad untuk tidak memberi kesempatan pada Pegula untuk memperpanjang kebiasaan itu.
"Kamu ratunya tiga set. Jadi saya bertekad untuk tidak membiarkanmu sampai ke set ketiga hari ini," kata Gauff sambil tersenyum.
Kemenangan di Wuhan juga memastikan Gauff menyapu bersih dua turnamen WTA 1000 di Tiongkok setelah tahun lalu merebut gelar China Terbuka di Beijing.
Ia menjadi pemain kedua sepanjang sejarah yang berhasil memenangi keduanya mengikuti jejak Caroline Garcia pada 2017.
Dengan hasil ini, Gauff tetap bertahan di peringkat tiga dunia WTA Rankings, namun memperlebar jarak hampir 2.000 poin dari pesaing terdekatnya, Amanda Anisimova. Ia juga kembali menempati posisi ketiga dalam klasemen WTA Race to Riyadh.
Baik Gauff maupun Pegula kini akan mengalihkan fokus menuju WTA Finals 2025 di Riyadh, Arab Saudi, yang akan digelar November mendatang.
Jika Gauff berhasil mempertahankan gelar di sana, ia akan menutup musim dengan catatan luar biasa, yaitu satu gelar Grand Slam, satu gelar WTA 1000 tunggal, satu gelar WTA 1000 ganda, dan satu trofi WTA Finals.
Ini adalah pencapaian yang hanya bisa diraih oleh sedikit pemain dalam sejarah tenis modern.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









