Kesehatan Mental Remaja Bukan Hanya Tanggung Jawab Individu, Keluarga dan Sekolah Punya Peran

AKURAT.CO Kesehatan mental remaja tidak hanya bergantung pada kemampuan individu menghadapi tekanan, tetapi juga dipengaruhi lingkungan tempat mereka tumbuh, belajar, dan membangun hubungan sosial. Keluarga dan sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang aman agar remaja dapat menyampaikan perasaan, menghadapi tantangan, serta memperoleh bantuan ketika membutuhkannya.
Tekanan akademik, persoalan pertemanan, ekspektasi orang tua, hingga pengalaman di media sosial dapat menjadi tantangan bagi sebagian anak muda. Dalam situasi tersebut, meminta remaja untuk lebih kuat atau menyelesaikan masalahnya sendiri tidak selalu cukup. Mereka juga membutuhkan orang-orang di sekitarnya yang bersedia mendengarkan dan memberikan dukungan tanpa menghakimi.
Pentingnya lingkungan yang suportif menjadi salah satu perhatian dalam program Thriving Together, kemitraan antara Z Zurich Foundation dan UNICEF yang diluncurkan pada 2021. Di Indonesia, program ini dilaksanakan oleh UNICEF bersama pemerintah dengan dukungan Zurich dan Z Zurich Foundation untuk mendukung kesehatan mental serta kesejahteraan psikososial remaja.
Melalui pendekatan yang melibatkan keluarga, sekolah, dan komunitas, program tersebut berupaya memperkuat lingkungan pendukung bagi generasi muda. Upaya ini menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental remaja bukan hanya urusan individu, melainkan tanggung jawab bersama yang memerlukan keterlibatan berbagai pihak.
Mengapa Kesehatan Mental Remaja Bukan Hanya Tanggung Jawab Individu?
Remaja berada dalam fase kehidupan ketika mereka menghadapi berbagai perubahan, mulai dari perkembangan identitas diri hingga tuntutan pendidikan dan hubungan sosial. Mereka juga mulai membangun kemandirian, mengambil keputusan, serta memikirkan masa depan.
Dalam proses tersebut, pengalaman setiap remaja dapat berbeda. Sebagian mampu membicarakan masalahnya secara terbuka, sedangkan sebagian lainnya mungkin memilih diam karena takut dianggap lemah, berlebihan, atau tidak mampu menghadapi persoalan sendiri.
Misalnya, seorang siswa yang mengalami penurunan nilai belum tentu hanya membutuhkan dorongan untuk belajar lebih giat. Ia mungkin juga membutuhkan kesempatan untuk menjelaskan kesulitannya, dukungan dalam mengatur beban belajar, atau bantuan untuk menghadapi persoalan lain yang memengaruhi konsentrasinya.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak bisa dilepaskan dari konteks kehidupan sehari-hari. Kemampuan individu menghadapi tekanan tetap penting, tetapi dukungan lingkungan turut menentukan apakah seseorang merasa aman untuk bercerita dan mencari pertolongan.
Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia, Muhammad Rafiq Khan, menekankan pentingnya melihat kesehatan mental remaja secara lebih luas.
“Kesehatan mental remaja tidak hanya dipengaruhi oleh resiliensi individu, tetapi juga oleh lingkungan tempat anak-anak dan anak muda tumbuh, berkembang, dan membangun hubungan dengan orang lain,” kata Rafiq.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa ketahanan individu bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan digital juga memiliki peran dalam membentuk pengalaman remaja.
Dengan demikian, mendorong kemandirian remaja perlu berjalan beriringan dengan penyediaan dukungan yang memadai. Remaja dapat belajar memahami perasaannya dan mengambil langkah untuk menghadapi masalah, sementara orang-orang di sekitarnya membantu memastikan bahwa mereka tidak harus menjalani proses tersebut sendirian.
Baca Juga: Maudy Ayunda Bicara Mindfulness, Kenali News Fatigue dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental
Baca Juga: Dokter NU Usulkan Isu Kesehatan Jadi Agenda Strategis Muktamar, Soroti AI hingga Kesehatan Mental
Peran Keluarga dalam Menjaga Kesehatan Mental Remaja
Keluarga merupakan salah satu lingkungan terdekat yang dapat membantu remaja menghadapi tekanan. Hubungan yang suportif memungkinkan anak menyampaikan kekhawatiran, menceritakan pengalaman yang tidak menyenangkan, dan meminta bantuan tanpa merasa langsung disalahkan.
Namun, dukungan keluarga tidak selalu berarti orang tua harus memiliki jawaban untuk setiap masalah. Dalam banyak situasi, kesediaan mendengarkan dan memahami pengalaman anak menjadi langkah awal yang penting.
Mendengarkan tanpa menghakimi
Ketika remaja bercerita tentang kesulitan yang dihadapi, orang tua dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjelaskan situasinya sebelum menawarkan solusi.
Respons seperti membandingkan anak dengan saudara atau teman, meremehkan masalahnya, maupun langsung menyalahkan dapat membuat percakapan menjadi lebih sulit. Sebaliknya, pertanyaan sederhana seperti “Apa yang paling membuat kamu kepikiran?” dapat membuka ruang bagi komunikasi yang lebih baik.
Mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui setiap keputusan anak. Orang tua tetap dapat memberikan arahan dan batasan, tetapi dengan cara yang menunjukkan bahwa perasaan serta pengalaman anak tetap dihargai.
Membedakan dukungan dan tuntutan berlebihan
Orang tua tentu dapat mendorong anak untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan bertanggung jawab. Namun, dorongan tersebut perlu dibedakan dari tuntutan agar anak selalu berprestasi atau tidak boleh melakukan kesalahan.
Ketika pencapaian menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, sebagian remaja mungkin merasa bahwa kegagalan akademik atau penolakan dalam pertemanan mencerminkan nilai dirinya secara keseluruhan.
Keluarga dapat membantu dengan membicarakan proses, usaha, dan pelajaran dari pengalaman, bukan hanya hasil akhir. Pendekatan ini juga memberi kesempatan kepada remaja untuk menyampaikan kesulitan tanpa takut kehilangan penghargaan dari orang-orang terdekat.
Mengenali kebutuhan bantuan lebih lanjut
Orang tua juga dapat memperhatikan perubahan dalam keseharian anak, seperti perubahan pola komunikasi, penarikan diri dari aktivitas, atau kesulitan menjalankan rutinitas.
Perubahan tersebut tidak otomatis menunjukkan gangguan mental. Namun, jika tekanan berlangsung lama, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, keluarga dapat membantu mencari dukungan dari psikolog, psikiater, konselor, atau tenaga kesehatan yang sesuai.
Peran keluarga bukan mendiagnosis anak, melainkan membantu mereka memperoleh dukungan yang dibutuhkan dan memastikan mereka tidak merasa sendirian dalam prosesnya.
Bagaimana Sekolah Dapat Mendukung Kesehatan Mental Remaja?
Selain keluarga, sekolah menjadi lingkungan penting dalam kehidupan remaja. Siswa menghabiskan banyak waktu untuk belajar, berinteraksi dengan teman sebaya, menghadapi evaluasi akademik, dan membangun hubungan dengan guru.
Karena itu, suasana sekolah dapat memengaruhi rasa aman dan kenyamanan siswa dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Lingkungan belajar yang suportif bukan hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga memperhatikan bagaimana siswa diperlakukan dan memperoleh bantuan ketika menghadapi kesulitan.
Menciptakan lingkungan belajar yang aman
Sekolah perlu menjadi ruang tempat siswa dapat belajar dan berinteraksi tanpa takut mengalami perundungan, penghinaan, atau perlakuan diskriminatif.
Perundungan, misalnya, tidak cukup ditangani dengan meminta korban agar lebih kuat. Sekolah perlu memiliki respons yang tepat terhadap perilaku tersebut, memberikan perlindungan kepada siswa yang terdampak, dan memastikan lingkungan belajar tetap aman.
Pendekatan ini tidak berarti semua persoalan siswa harus diselesaikan oleh sekolah. Namun, sekolah perlu mengambil peran ketika masalah muncul dalam lingkungan pendidikan atau memengaruhi keselamatan dan kesejahteraan siswa.
Mengurangi stigma terhadap masalah kesehatan mental
Kesulitan emosional terkadang dianggap sebagai kelemahan karakter atau sesuatu yang harus disembunyikan. Anggapan seperti ini dapat membuat sebagian remaja enggan bercerita ketika sedang mengalami tekanan.
Sekolah dapat membantu mengurangi stigma melalui edukasi yang sesuai usia, komunikasi yang menghargai siswa, dan budaya belajar yang tidak menjadikan persoalan pribadi sebagai bahan ejekan.
Pemahaman mengenai kesehatan mental juga dapat membantu siswa mengenali kapan mereka atau teman mereka membutuhkan dukungan. Meski demikian, edukasi di sekolah tidak boleh membuat siswa merasa harus mendiagnosis diri sendiri atau teman sebaya.
Memperkuat peran guru dan pendamping
Guru dapat menjadi salah satu orang dewasa yang dipercaya siswa. Ketika melihat siswa mengalami kesulitan, guru dapat membuka ruang percakapan dan membantu menghubungkan mereka dengan orang tua, konselor sekolah jika tersedia, atau tenaga profesional yang sesuai.
Peran ini bukan berarti guru harus menggantikan psikolog atau psikiater. Sebaliknya, sekolah perlu memahami batas perannya dan memiliki mekanisme untuk membantu siswa mendapatkan dukungan lebih lanjut.
Kerja sama antara keluarga dan sekolah juga penting. Dengan komunikasi yang sesuai dan tetap menghormati privasi anak, kedua lingkungan tersebut dapat saling mendukung ketika siswa menghadapi persoalan yang memengaruhi kesehariannya.
Apa yang Bisa Dilakukan Remaja Ketika Menghadapi Tekanan?
Meskipun keluarga dan sekolah memiliki peran penting, remaja tetap dapat dilibatkan secara aktif dalam menjaga kesejahteraan dirinya. Hal yang perlu dihindari adalah membebankan seluruh tanggung jawab kepada mereka, seolah-olah semua masalah dapat diselesaikan hanya dengan berpikir positif atau berusaha lebih keras.
Ada beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan remaja ketika menghadapi tekanan.
Pertama, mencoba mengenali perasaan yang sedang dialami. Menyadari bahwa diri sedang kecewa, khawatir, marah, atau kewalahan dapat menjadi langkah awal untuk memahami kebutuhan pribadi.
Kedua, mencari orang yang dipercaya untuk berbicara. Orang tersebut bisa berupa anggota keluarga, teman, guru, konselor, atau orang dewasa lain yang dapat memberikan dukungan dengan aman.
Ketiga, mengevaluasi beban aktivitas jika memungkinkan. Ketika tuntutan belajar atau pekerjaan terasa berat, remaja dapat mencoba menyusun prioritas dan membicarakan kesulitan yang dihadapi dengan orang yang dapat membantu.
Keempat, mencari bantuan profesional ketika tekanan semakin berat atau mengganggu rutinitas. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan salah satu cara untuk memperoleh dukungan yang sesuai.
Langkah-langkah tersebut tidak selalu cukup untuk setiap situasi. Kebutuhan setiap orang berbeda, sehingga dukungan dari lingkungan dan bantuan profesional perlu disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi.
Inner Noise dan Pentingnya Ruang Aman untuk Bercerita
Salah satu konsep yang berkaitan dengan pembahasan tekanan internal adalah inner noise, istilah yang digunakan dalam kampanye global Turn Down the Noise untuk menggambarkan tekanan internal yang dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri dan dunia di sekitarnya.
Sebagai ilustrasi, seorang remaja mungkin terus memikirkan kesalahan saat presentasi di kelas. Meskipun teman-temannya tidak mempermasalahkan kesalahan tersebut, ia tetap merasa malu dan takut dianggap tidak mampu.
Contoh lainnya adalah remaja yang merasa dirinya tertinggal setelah melihat pencapaian orang lain di media sosial. Ia mungkin kesulitan menghargai kemajuan sendiri karena terus membandingkan dirinya dengan orang lain.
Inner noise bukan diagnosis klinis atau nama gangguan mental tertentu. Istilah ini digunakan dalam konteks kampanye untuk mengajak anak muda mengenali tekanan yang mereka rasakan dan membangun hubungan sosial yang bermakna.
Kampanye Turn Down the Noise diluncurkan oleh Global Youth Mental Health Coalition, dengan Zurich dan Z Zurich Foundation sebagai anggota pendiri. Kampanye tersebut mendorong generasi muda mengenali tekanan internal, membangun koneksi sosial yang positif, dan mencari dukungan ketika diperlukan. Platform interaktifnya tersedia melalui Turn Down the Noise.
Pesan mengenai pentingnya koneksi sosial juga berkaitan dengan peran keluarga dan sekolah. Ketika remaja memiliki ruang aman untuk menyampaikan kekhawatiran, mereka dapat lebih leluasa membicarakan kesulitan yang dihadapi dan mempertimbangkan langkah berikutnya.
Zurich, UNICEF, dan Pemerintah Indonesia Dukung Kesehatan Mental Remaja
Pentingnya lingkungan yang mendukung menjadi bagian dari program Thriving Together, kemitraan global Z Zurich Foundation dan UNICEF yang diluncurkan pada 2021.
Di Indonesia, program ini dilaksanakan UNICEF bersama pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dengan dukungan Zurich dan Z Zurich Foundation.
Program tersebut berfokus pada kesehatan mental dan kesejahteraan psikososial remaja melalui keluarga, sekolah, dan komunitas. Salah satu upayanya adalah mendukung peningkatan kapasitas Forum Generasi Berencana (GenRe) bersama BKKBN di 34 provinsi.
Pada fase pertama yang berlangsung pada 2021–2024, Thriving Together dilaporkan telah menjangkau 318.048 individu di Indonesia. Fase kedua dimulai pada September 2024 dan dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2027, dengan perluasan program serta integrasi ke dalam inisiatif pemerintah, termasuk program pembinaan keluarga yang menyasar remaja dan orang tua.
Direktur PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Tini Nurianto, menekankan pentingnya keterlibatan lingkungan sekitar dalam mendukung perkembangan anak muda.
“Di Zurich, kami percaya bahwa tumbuh kembang anak muda, termasuk kesehatan mentalnya, membutuhkan kontribusi aktif dari lingkungan di sekitar mereka,” kata Tini.
Ia menjelaskan bahwa melalui Thriving Together, Zurich ingin mendorong terciptanya ruang yang aman dan suportif bagi remaja serta memperkuat peran keluarga, sekolah, dan komunitas dalam mengenali tantangan kesehatan mental, mengurangi stigma, dan mendorong keberanian mencari bantuan.
Sementara itu, Rafiq Khan menyoroti pentingnya memastikan setiap anak merasa aman, dihargai, didengar, dan didukung. Menurutnya, keluarga, sekolah, masyarakat, serta platform digital memiliki peran penting dalam mendorong hubungan positif dan melindungi anak dari kekerasan.
Rafiq mengatakan UNICEF bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan para mitra untuk memperkuat sistem dukungan tersebut, meningkatkan literasi kesehatan mental, mendorong lingkungan digital yang lebih aman, serta membantu remaja mengakses layanan yang sesuai ketika dibutuhkan.
Capaian jangkauan program dan luas wilayah pelaksanaan memberikan gambaran tentang skala kegiatan. Namun, angka tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh persoalan kesehatan mental remaja telah teratasi. Keberlanjutan dukungan, akses terhadap layanan, dan evaluasi dampak tetap penting untuk diperhatikan.
Kesehatan Mental Remaja Membutuhkan Tanggung Jawab Bersama
Kesehatan mental remaja tidak dapat dipisahkan dari lingkungan tempat mereka tumbuh dan menjalani kehidupan sehari-hari. Kemampuan individu menghadapi tekanan tetap penting, tetapi keluarga dan sekolah juga perlu menyediakan ruang yang aman agar remaja dapat bercerita, memperoleh arahan, dan meminta bantuan.
Keluarga dapat membangun komunikasi yang terbuka serta mendengarkan tanpa menghakimi. Sekolah dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman, mencegah perundungan, dan membantu siswa mengakses dukungan yang sesuai. Sementara itu, tenaga profesional memiliki peran ketika persoalan yang dihadapi memerlukan penanganan lebih lanjut.
Head of the Z Zurich Foundation, Gregory Renand, mengingatkan bahwa tantangan kesehatan mental generasi muda membutuhkan kerja sama banyak pihak.
“Tidak ada satu organisasi pun yang dapat mengatasi tantangan kesehatan mental generasi muda sendirian,” kata Gregory.
Pernyataan tersebut sejalan dengan pentingnya kolaborasi antara individu, keluarga, sekolah, komunitas, pemerintah, dan mitra lainnya. Tidak ada satu pihak yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan remaja sendirian.
Pada akhirnya, mendukung kesehatan mental remaja bukan sekadar meminta mereka agar lebih kuat menghadapi tekanan. Upaya tersebut juga berarti membangun lingkungan yang membuat mereka merasa aman untuk menyampaikan masalah, memperoleh dukungan, dan mencari bantuan tanpa takut dihakimi.
Baca Juga: Selalu Terhubung di Media Sosial, Mengapa Anak Muda Masih Merasa Kesepian?
Baca Juga: Terungkap Alasan Anak Muda Korea Selatan Memilih Masuk Islam
FAQ
1. Mengapa kesehatan mental remaja bukan hanya tanggung jawab individu?
Karena pengalaman remaja juga dipengaruhi lingkungan keluarga, sekolah, pertemanan, dan masyarakat. Dukungan dari lingkungan dapat membantu remaja merasa aman untuk bercerita dan mencari bantuan ketika diperlukan.
2. Apa peran keluarga dalam menjaga kesehatan mental remaja?
Keluarga dapat mendengarkan tanpa menghakimi, membangun komunikasi terbuka, menghindari tuntutan yang tidak realistis, dan membantu remaja mendapatkan dukungan profesional jika dibutuhkan.
3. Bagaimana sekolah dapat mendukung kesehatan mental siswa?
Sekolah dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman, mencegah perundungan, mengurangi stigma, serta membantu siswa mengakses konselor atau tenaga profesional yang sesuai.
4. Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika remaja mengalami tekanan?
Orang tua dapat mendengarkan pengalaman anak, menanyakan dukungan yang dibutuhkan, menghindari meremehkan masalah, dan membantu mencari bantuan lebih lanjut jika tekanan mengganggu keseharian.
5. Kapan remaja perlu mendapatkan bantuan profesional?
Bantuan profesional patut dipertimbangkan ketika tekanan berlangsung lama, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, tidur, maupun pendidikan.
6. Bagaimana program Thriving Together mendukung kesehatan mental remaja di Indonesia?
Program ini dilaksanakan UNICEF bersama pemerintah dengan dukungan Zurich dan Z Zurich Foundation. Pendekatannya berfokus pada penguatan kesehatan mental dan kesejahteraan psikososial melalui keluarga, sekolah, dan komunitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Prancis Terbuka: Ganda Putra Indonesia Menggila, Leo/Daniel dan Raymond/Joaquin Melesat ke Perempat Final
- 3Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 420 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 5Megawati Hangestri Dapat Julukan Baru dari Media Korea, Apa Artinya?
- 6Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 7Prediksi Skor Napoli vs Roma 24 Oktober 2026: Derby del Sole Diprediksi Sengit
- 8Real Madrid vs PSG: Jose Mourinho Senang dengan Wasit yang Pimpin Laga Malam Ini
- 9KPK Sita BMW Milik Richard Erlangga dalam Korupsi BNPB, Total Ada Empat Mobil
- 10KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot







