Akurat

5 Alasan Mengapa Lulusan S1 Masih Nganggur Meski Sudah Punya Ijazah

Eko Krisyanto | 7 Oktober 2025, 19:30 WIB
5 Alasan Mengapa Lulusan S1 Masih Nganggur Meski Sudah Punya Ijazah

AKURAT.CO Sebagian besar orang menganggap gelar sarjana sebagai kunci menuju kesuksesan dan karier yang mapan.
 
Di Indonesia, lulusan S1 yang masih menganggur menjadi persoalan serius yang mencerminkan adanya ketimpangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Meskipun telah menempuh pendidikan tinggi selama bertahun-tahun, masih banyak lulusan yang tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. 
 
Dilansir dari Thomas B. Fordham Institute, Sebagian besar lulusan perguruan tinggi menghadapi underemployment atau bekerja di posisi yang tidak sesuai dengan kualifikasi akademik mereka setelah meraih gelar sarjana. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan yang diajarkan di kampus dan kebutuhan dunia kerja yang dinamis.
 
Di Indonesia, kondisi serupa terjadi karena masih banyak perguruan tinggi yang lebih fokus pada teori dibanding praktik. Lulusan sering kali tidak siap menghadapi tuntutan profesional di lapangan.
 
 
5 Alasan utama mengapa lulusan S1 masih sulit mendapatkan pekerjaan meski sudah berijazah

1. Ketidaksesuaian Jurusan dengan Dunia Kerja

Salah satu penyebab utama banyaknya lulusan S1 yang menganggur adalah ketidaksesuaian antara jurusan kuliah dan kebutuhan industri. Tidak semua bidang studi memiliki peluang kerja yang luas, dan banyak mahasiswa memilih jurusan tanpa mempertimbangkan prospek karier di masa depan.
 
Banyak perusahaan kini mencari tenaga kerja dengan keterampilan teknis dan kemampuan adaptasi yang tinggi, bukan hanya lulusan dengan nilai akademik bagus. Ketidaksesuaian ini membuat banyak sarjana kesulitan bersaing di dunia kerja yang semakin spesifik dan berbasis kompetensi.

2. Minimnya Pengalaman dan Keterampilan Praktis

Sebagian besar perusahaan mencari calon karyawan yang telah memiliki pengalaman kerja, bahkan untuk posisi entry-level. Sayangnya masih banyak mahasiswa tidak mendapatkan pengalaman yang cukup selama kuliah karena terlalu fokus pada teori. Kurangnya kegiatan seperti magang, proyek kolaboratif, atau pelatihan kerja nyata menjadi penyebab utama lulusan belum siap secara profesional. Ketika mereka lulus, pasar kerja justru lebih mengutamakan kandidat yang telah memiliki pengalaman dan keterampilan praktis.

3. Kurangnya Soft Skill dan Kemampuan Komunikasi

Selain kemampuan teknis, dunia kerja modern sangat menuntut soft skill seperti kemampuan komunikasi, kerja sama tim, problem solving, dan leadership. Namun, banyak lulusan yang gagal mengembangkan kemampuan ini selama kuliah. Sedangkan, perusahaan kini lebih menghargai individu yang mampu beradaptasi dan berkontribusi secara aktif dalam lingkungan kerja yang dinamis. Ketika kemampuan interpersonal ini tidak diasah, lulusan akan kalah saing dengan kandidat lain yang lebih siap berinteraksi dan bekerja dalam tim.

4. Persaingan yang Semakin Ketat di Dunia Kerja

Setiap tahun, ribuan sarjana baru memasuki pasar kerja, sementara jumlah lowongan pekerjaan tidak selalu bertambah sebanding. Akibatnya, persaingan menjadi sangat ketat. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya jumlah lulusan dari berbagai bidang yang sama, seperti komunikasi, manajemen, dan teknologi informasi. Dalam situasi seperti ini, hanya mereka yang memiliki nilai tambah yang mampu bertahan.
 

5. Kurangnya Adaptasi terhadap Perkembangan Teknologi

Di era digital saat ini, kemampuan untuk memahami dan menggunakan teknologi menjadi hal yang mutlak. Sayangnya, banyak lulusan perguruan tinggi yang belum mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
 
Beberapa kampus masih tertinggal dalam mengintegrasikan teknologi digital dalam kurikulum mereka, sehingga lulusan kurang siap menghadapi dunia kerja berbasis teknologi.
 
Kebutuhan akan tenaga kerja dengan kemampuan digital terus meningkat, sementara banyak lulusan masih belum memiliki kompetensi di bidang ini.
 
Memiliki ijazah tidak lagi cukup untuk menjamin pekerjaan yang layak. Dunia kerja kini menuntut lulusan yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga adaptif, kreatif, dan berdaya saing tinggi.
 
Mahasiswa perlu mempersiapkan diri sejak dini dengan membangun pengalaman, keterampilan relevan, serta kemampuan digital agar tidak hanya menjadi pencari kerja.
 
Salsabilla Nur Wahdah (Magang) 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R