Akurat

Ingin Sukses Tanpa Burnout? Yuk, Bangun Work-Life Balance yang Realistis!

Eko Krisyanto | 12 Juni 2025, 23:11 WIB
Ingin Sukses Tanpa Burnout? Yuk, Bangun Work-Life Balance yang Realistis!

AKURAT.CO Di era serba cepat dan penuh tekanan, meraih sukses tanpa mengorbankan kesehatan mental jadi tantangan besar.

Tapi tenang—work-life balance bukan hal mustahil, asal kamu tahu cara membangunnya secara realistis.

Apa Itu Work-Life Balance?

Work-life balance adalah kondisi ketika kamu bisa membagi waktu, energi, dan fokus antara pekerjaan dan kehidupan pribadi secara seimbang.

Artinya, kamu tetap produktif tanpa melupakan waktu istirahat, hobi, atau hubungan sosial yang sehat.

Ini bukan soal membagi waktu secara kaku, tapi tentang menciptakan kualitas hidup yang sehat dan berkelanjutan.

Mengapa sulit menjaga keseimbangan? Karena banyak tekanan eksternal yang bikin batas kerja dan hidup pribadi jadi kabur:

  • Budaya hustle & toxic productivity
    Seolah-olah sibuk = sukses. Padahal, produktif tidak selalu berarti harus terus bekerja.

  • Media sosial
    Melihat pencapaian orang lain bisa menimbulkan rasa tidak cukup dan memicu overworking.

  • Sistem kerja hybrid/WFH
    Rumah berubah jadi tempat kerja, bikin sulit “benar-benar berhenti” dari pekerjaan.

  • FOMO (Fear of Missing Out)
    Takut kehilangan peluang karier, pertemanan, atau proyek baru bikin kita susah menolak pekerjaan tambahan.

Tanda Kamu Kehilangan Work-Life Balance

Baca Juga: Menjaga Kesehatan Mental di Era Serba Cepat

Coba cek kondisi kamu—apakah ada tanda-tanda berikut?

  • Lelah terus-menerus, baik fisik maupun emosional

  • Jarang punya waktu untuk keluarga, teman, atau diri sendiri

  • Merasa bersalah saat istirahat atau tidak produktif

  • Tidur terganggu dan bangun tanpa semangat

Kalau kamu mengalaminya, bisa jadi waktunya untuk evaluasi ulang keseimbangan hidupmu.

Cara Membangun Work-Life Balance

Mulai dari langkah kecil yang bisa kamu lakukan setiap hari:

  • Tetapkan jam kerja yang jelas
    Jangan biasakan kerja sampai larut malam. Belajar bilang "cukup untuk hari ini."

  • Prioritaskan tugas harian
    Jangan semuanya dijadikan “urgent”. Fokus pada yang penting dan realistis.

  • Gunakan waktu istirahat dengan maksimal
    Jauhkan diri dari laptop saat break. Coba jalan-jalan sebentar, dengarkan musik, atau sekadar tarik napas.

  • Luangkan waktu untuk diri sendiri
    Nonton film, baca buku, olahraga, atau nongkrong bareng teman bisa bantu recharge energi.

  • Belajar manajemen waktu dan delegasi
    Tidak semua hal harus kamu tangani sendiri. Pintar membagi tugas juga bagian dari profesionalisme.

Tips Jangka Panjang

Baca Juga: Prabowo Akan Bentuk Badan Otorita Percepat Pembangunan Giant Sea Wall Pantura

Untuk menjaga work-life balance dalam jangka panjang:

  • Komunikasikan batasan kerja kepada atasan atau rekan kerja
    Jangan ragu bilang tidak jika sudah di luar jam kerja atau kapasitasmu.

  • Evaluasi rutinitas secara berkala
    Apakah kamu merasa seimbang atau justru makin stres? Review tiap bulan bisa membantu.

  • Jangan takut ambil cuti
    Liburan bukan kemewahan—itu kebutuhan. Ambil waktu untuk pulih, bukan hanya saat sakit.

  • Gunakan teknologi secara bijak
    Manfaatkan aplikasi untuk bantu produktivitas, bukan untuk membuatmu terus online.

Work-life balance bukan tentang membagi waktu secara sempurna, melainkan tentang menjaga keseimbangan agar kamu tetap sehat, bahagia, dan punya ruang untuk berkembang.

Sebagai anak muda, penting untuk belajar menjaga batas sejak dini.

Ingat, kamu tidak harus membuktikan apa-apa ke siapa-siapa—keseimbangan hidupmu adalah fondasi kesuksesan jangka panjang. (Hansel Finnegan/magang)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.