Akurat

Baby Boomers, Milenial Dan Gen-Z Sama-sama Mental Bullying?

Eko Krisyanto | 13 September 2023, 12:06 WIB
Baby Boomers, Milenial Dan Gen-Z Sama-sama Mental Bullying?

 

 

AKURAT.CO Dalam teori generasi yang dibawakan oleh Natali Yutisia, penamaan generasi dimulai pasca-perang dunia kedua lho. Beberapa di antaranya ada Baby Boomers, Milenial dan Gen-Z.

Perbedaan zaman dan peristiwa yang terjadi di setiap generasi tentu mempengaruhi seseorang dalam menjalani hidupnya.

Oleh karena itu, hat tersebut secara tidak langsung dapat memberi pengaruh terhadap pembentukan karakter maupun cara pandang setiap individu mengenai suatu hal.

Di lain sisi, ketiga generasi tersebut mempunyai kesamaan lho. Kesamaannya adalah sebagai mental bullying yang sebenarnya selalu ada, bahkan di Gen-Z sekalipun. Ketiganya mempunyai mental bullying yang bisa dilihat dari karakteristik candaan atau komunikasi mereka.

Karakteristik Bullying di Setiap Generasi

Dikutip dari beberapa sumber, Rabu (13/9/2023), berikut karakteristik bullying pada setiap generasi:

1. Generasi Baby Boomers

Generasi ini lahir pada tahun 1946-1964. Mereka dikatakan sebagai baby boomers karena pada saat itu terjadi lonjakan kelahiran yang tinggi setelah perang dunia kedua. Generasi ini lahir dan tumbuh ketika zaman belum modern dan minim lapangan pekerjaan, sehingga membuat masa muda generasi baby boomers memiliki sifat yang kompetitif.

Dari hal tersebut, baby boomers biasanya lebih perduli terhadap pencapaian mereka. Orang-orang yang tidak bisa mencapai pencapaian standar kebanyakan orang lain bakal dianggap orang yang gagal lho!

Misalnya ada orang sudah berumah tangga tapi masih menumpang di rumah orang tua, jadi pegawai tapi tidak memiliki mobil atau berpendidikan tapi tidak menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) akan dipandang sebagai orang yang gagal, tidak berprestasi dan dianggap sebagai manusia kelas dua.

Generesi mereka juga sering memandang jabatan dan kekayaan sebagai sebuah pencapaian yang akan menjadi nilai yang paling dihargai dalam pergaulan.

2. Generasi Milenial

Generasi Y atau Milenial lahir pada rentan tahun 1981-1996. Kata milenial diciptakan oleh William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Alasan kenapa generasi Y disebut sebagai generasi milenial karena generasi ini pernah melewati millennium kedua, yang dikemukakan oleh Karl Mannnheim pada tahun 1923.

Sebagai penduduk asli era digital yang tumbuh bersamaan dengan munculnya teknologi informasi dan komunikasi, membuat generasi milenial mengenal ponsel, mengakses komputer dan memiliki media sosial.

Hal tersebut membentuk karakter yang kreatif dan inovatif dalm pemanfaatan teknologi di segala aspek kehidupan, mulai dari mengakses portal pendidikan, belanja online sampai ke pemesanan transportasi online.

Ciri yang bisa dipelajari dari mereka adalah obsesinya yang tinggi pada standarisasi masyarakat.

Sebut saja seseorang tidak berprilaku seperti kebanyakan orang lainnya, makan akan dianggap aneh. Misalnya, si A yang tidak bisa memenuhi standar berat badan, kecantikan, maskulinitas atau bahkan percintaan. Maka akan dinyatakan tidak mirip dengan lainnya dan akan menjadi target sasaran bullying.

3. Generasi Z

Generasi ini didominasi oleh kelahiran tahun 1997-2012. Gen-z memiliki karakter yang berbeda dari generasi lainnya, generasi ini punya karakter yang fleksibel, lebih cerdas dan toleran pada perbedaan budaya. Serupa dengan Generasi milenial, Gen-Z juga tumbuh dengan teknologi, internet dan mereka menguasai segala jenis sosial media, sehingga dikenal sebagai generasi pecandu teknologi dan cenderung anti sosial.

Akrab dengan teknologi dan internet membuat generasi Z kaya akan informasi tentunya. Namun ketergantungan terhadap teknologi membentuk karakter yang keras kepala, suka sesuatu yang instan dan selalu terburu-buru.

Gen-Z ini terbiasa berinteraksi dengan siapapun tanpa batasan usia, gender, pekerjaan dan bidang lainnya yang membuat Gen Z lebih demokratis dan sangat kreatif dibanding dengan generasi sebelumnya.

Sebenarnya hampir mirip dengan generasi milenial, perbedaannya kalau Gen-Z seseorang akan di bully ketika tidak bisa memenuhi standar mereka. Gen-z dicap sebagai liberalis atau mempunyai kebebasan berekspresi, mereka lebih cenderung westernis atau budaya barat yang mereka normalisasi.

Kalau seseorang tidak bisa mengikuti standar Gen-z artinya akan dianggap orang yang konservatif, kolot, ekstremis atau jika seseorang berasal dari generasi milenial maupun generasi baby boomers yang Gen-z anggap sebagai seseorang suka asal berbicara. Itu bakal menjadi sasaran olok-olokan Gen-Z di kehidupan media sosial, yang sangat nyaman untuk membuat kampanye bully.

Ketiganya memang mempunyai sikap dan cara pandang yang berbeda, namun di tahun berapa pun kalian lahir, perundungan atau pem-bully-an tentu bukan hal yang baik untuk dilakukan. Untuk itu, hati-hatilah dalam berkata dan bermedia sosial. (Ami Fatimatuz Zahro')

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK