Akurat

Sritex dan Wajah Industri Tekstil Tanah Air

Demi Ermansyah | 13 November 2024, 15:37 WIB
Sritex dan Wajah Industri Tekstil Tanah Air

AKURAT.CO PT Sri Rejeki Isman Tbk, atau yang dikenal dengan nama Sritex, merupakan salah satu perusahaan tekstil dan garmen terbesar di Asia Tenggara. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1966 di Solo, Jawa Tengah.

Dimana perusahaan ini berkembang menjadi pemain utama di industri tekstil Indonesia dengan sistem produksi vertikal, mulai dari pemintalan benang hingga pembuatan garmen siap pakai. Selain menjadi penyedia seragam militer, baik untuk kebutuhan domestik maupun internasional, Sritex juga memiliki pangsa ekspor yang signifikan.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini menghadapi tantangan besar yang memunculkan polemik di berbagai kalangan, mulai dari sektor industri hingga pemerintah. Salah satu isu yang paling mencuat adalah krisis finansial yang membuat Sritex di ambang kebangkrutan.

Baca Juga: Sritex Pailit, Misbakhun: Harus Dimaknai Lebih Luas

Beberapa penyebab utama krisis ini adalah tingginya utang perusahaan, dampak pandemi COVID-19, dan persaingan ketat di industri tekstil global. Berdasarkan laporan, Sritex memiliki utang lebih dari USD1 miliar, yang sebagian besar diambil untuk mendanai ekspansi bisnis.

Namun, ketika pandemi melanda, permintaan tekstil dan garmen turun drastis, sehingga pendapatan Sritex menurun tajam dan membuat mereka kesulitan melunasi kewajiban keuangan.

Ditambah lagi, persaingan dengan negara-negara lain seperti Bangladesh, Vietnam, dan China semakin memperburuk posisi Sritex di pasar internasional, baik di pasar ekspor maupun domestik.

Dalam kondisi ini, peran pemerintah dianggap penting untuk membantu menyelamatkan Sritex dari keterpurukan. Sebagai salah satu perusahaan tekstil terbesar, Sritex mempekerjakan lebih dari 50.000 tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan ini.

Mengapa Sritex Penting?

Sebab apabila Sritex jatuh, maka angka pengangguran di kawasan Solo dan sekitarnya akan melonjak drastis, dan berpotensi menyebabkan dampak sosial-ekonomi yang besar bagi masyarakat setempat.

Di samping itu, kejatuhan Sritex juga akan berimbas pada sektor-sektor lain yang berhubungan dengan perusahaan ini, seperti pemasok bahan baku, transportasi, logistik, hingga UMKM yang menjadi mitra bisnis Sritex.

Selain itu, Sritex memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan industri tekstil nasional. Jika perusahaan ini bangkrut, Indonesia bisa lebih bergantung pada impor bahan baku dan produk tekstil dari luar negeri, yang bisa melemahkan daya saing industri tekstil dalam negeri.

Lebih jauh lagi, mengingat sebagian besar utang Sritex berasal dari pinjaman luar negeri, kegagalan perusahaan ini dalam memenuhi kewajibannya dapat berdampak buruk pada reputasi Indonesia di mata investor internasional. Hal ini bisa memberikan sinyal negatif tentang iklim investasi di Indonesia dan mempengaruhi minat investor asing dalam menanamkan modalnya di sini.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk membantu penyelamatan Sritex. Salah satunya adalah melalui restrukturisasi utang, di mana pemerintah dapat berperan sebagai mediator antara Sritex dan kreditur untuk menegosiasikan perpanjangan jangka waktu atau penurunan beban pembayaran utang.

Selain itu, insentif fiskal atau subsidi bahan baku dapat membantu mengurangi biaya operasional Sritex sehingga dapat bertahan di tengah persaingan global yang semakin ketat. Pemerintah juga bisa mendorong diversifikasi pasar dengan membuka akses bagi Sritex ke negara-negara yang membutuhkan produk tekstil, yang dapat memperbaiki kinerja keuangan perusahaan.

Upaya penyelamatan ini penting karena tidak hanya menjaga kelangsungan Sritex, tetapi juga memperkuat fondasi industri tekstil nasional. Dengan dukungan yang tepat, industri tekstil Indonesia bisa menjadi lebih kompetitif di pasar global dan lebih tahan menghadapi tantangan eksternal.

Dalam jangka panjang, penyelamatan Sritex diharapkan bisa mendorong sektor tekstil dalam negeri untuk terus berkembang, sekaligus menjadi salah satu pilar utama dalam perekonomian nasional.

Upaya Penyelamatan Sritex

Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer Gerungan mengungkapkan, Kemnaker senantiasa memantau dan menaruh atensi baik pekerja maupun buruh perusahaan di Indonesia sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto termasuk soal nasib pekerja PT Sri Rejeki Isman (Sritex).

“Yang pasti kita akan tetap melakukan monitoring ya karena ini terkait kebutuhan kawan-kawan buruh yang harus benar-benar negara harus hadir. Jangan sampai kita abai. Ini kan di persoalan buruh ini kan persoalan kepentingan nasional juga. Karena narasinya Bapak Prabowo kita butuh pengusaha yang patriotik. Kita butuh buruh yang patriotik,” ujar Wamenaker Noel dalam jumpa pers yang digelar di Jakarta, Rabu (13/11/2024).

Terkait PT Sritex yang tengah diputuskan kepailitan namun juga di sisi lain masih menjalankan operasional, Noel menyebut pihaknya akan mengunjungi perusahaan itu pada Jumat pekan ini.

Ia juga menyebut akan menjalin koordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, Sritex serta kurator untuk memperjuangkan puluhan ribu nasib buruh yang bergantung pada perusahaan tekstil itu.

“Ini kepentingan kemanusiaan bangsa, ini kepentingan kemanusiaan. Artinya jangan main-main ya berhadapan dengan puluhan ribu nasib buruh yang bergantung,” tegasnya.

Adapun pagi ini, Wamenaker bersama Direktur Utama PT Sritex Iwan Kurniawan Lukminto melakukan konferensi pers terkait kabar PHK pekerja PT Sritex sebanyak 2.500 orang.

Dalam kesempatan itu, Dirut Sritex menegaskan bahwa tidak ada PHK terhadap ribuan pekerja itu, melainkan diliburkan.

“Sritex tidak melakukan PHK. Sritex tidak melakukan PHK dan dalam status kepailitan ini. Tetapi, Sritex telah meliburkan sekitar 2.500 karyawan kita," ujar Iwan.

Iwan menjelaskan karyawan yang diliburkan karena adanya persoalan mengenai pasokan bahan baku yang tersendat. Ia juga mengakui bahwa pekerja yang diliburkan tetap mendapatkan gaji.

Jumlah itu disebut Iwan akan terus meningkat bila tidak ada keputusan dari kurator dan hakim pengawas untuk izin keberlanjutan usaha, pasalnya ketersediaan baku disebutnya hanya mampu bertahan untuk produksi selama tiga minggu ke depan.

Diketahui bahwa Sritex dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Niaga Semarang melalui putusan perkara dengan Nomor 2/Pdt.Sus Homologasi/2024/PN Niaga Smg oleh hakim ketua Moch. Ansor pada Senin (21/10).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.