Harga Minyak Melonjak ke USD107,51 Usai Gangguan Pasokan Pipeline Milik Saudi

AKURAT.CO Harga minyak dunia kembali melonjak, terdorong meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan setelah serangkaian serangan di kawasan Timur Tengah, termasuk terhadap fasilitas dan jalur distribusi minyak Arab Saudi.
Dikutip dari Reuters, Senin (14/9/2026) kontrak berjangka minyak mentah Brent naik USD2,90 atau 2,77% menjadi USD107,51 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat USD2,27 atau 2,27% menjadi USD102,32 per barel.
Kenaikan harga minyak bahkan sempat menembus lebih dari 3% pada awal perdagangan. Penguatan harga terjadi setelah serangan baru kelompok Houthi terhadap Arab Saudi serta serangan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk menambah kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan minyak global.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus USD100, Pemerintah Pastikan BBM Subsidi Tak Naik
Media pemerintah Arab Saudi pada Minggu merilis rekaman kerusakan rumah dan sebuah masjid di Provinsi Jazan, wilayah selatan negara tersebut, yang disebut terdampak serangan Houthi. Kelompok Houthi juga mengklaim telah menyerang pangkalan militer Saudi di provinsi lain yang berdekatan.
Di kawasan Selat Hormuz, sebuah kapal dilaporkan terkena proyektil hingga terbakar dan memaksa awak kapal melakukan evakuasi. Informasi tersebut disampaikan UKMTO, badan keamanan maritim Inggris.
Iran juga melaporkan satu orang tewas dan empat awak terluka setelah kapal komersial Iran diserang di lepas pantai negara tersebut.
Pipa Saudi Ditutup
Risiko terhadap pasokan minyak semakin meningkat setelah jalur pipa minyak Timur-Barat atau East-West Pipeline milik Arab Saudi ditutup pada Jumat akibat serangan drone yang berasal dari Irak.
Jalur tersebut memiliki peran strategis karena memungkinkan Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyak agar tidak melalui Selat Hormuz. Gangguan pada infrastruktur ini diperkirakan berpotensi memengaruhi pasokan yang setara dengan sekitar 4% konsumsi minyak global.
Situasi tersebut menjadi perhatian pasar karena Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia.
Di sisi lain, kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan berafiliasi dengan Iran dilaporkan mencapai Pulau Perim pada Jumat. Langkah tersebut dinilai berpotensi memperketat kendali terhadap Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








