HPE Tembaga dan Emas Naik di Januari 2026 Imbas Pemelahan Dolar AS
Yosi Winosa | 15 Januari 2026, 20:11 WIB

AKURAT.CO Harga patokan ekspor (HPE) komoditas tambang kembali menunjukkan tren penguatan pada Januari 2026. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat HPE konsentrat tembaga dan emas mengalami kenaikan signifikan seiring permintaan global yang tetap solid.
Penguatan ini tak hanya mencerminkan kebutuhan sektor industri strategis seperti energi listrik dan kendaraan listrik, tetapi juga dipengaruhi dinamika keuangan global, termasuk pelemahan dolar Amerika Serikat.
Kenaikan HPE konsentrat tembaga dan emas menjadi sinyal penting bagi pelaku industri, eksportir, hingga investor yang memantau arah harga komoditas global.
Di tengah transisi energi dan pembangunan infrastruktur besar-besaran di berbagai negara, permintaan terhadap mineral strategis dinilai masih akan berlanjut dalam jangka menengah hingga panjang.
HPE Konsentrat Tembaga Naik 4,51 Persen
Kementerian Perdagangan menetapkan HPE konsentrat tembaga sebesar USD6.133,11 per wet metric ton (WMT) untuk periode kedua Januari 2026.
Angka ini naik 4,51% dibandingkan periode pertama Januari 2026 yang berada di level USD5.868,51 per WMT. Kenaikan tersebut mencerminkan penguatan harga mineral penyusun konsentrat tembaga di pasar global.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, menyebutkan bahwa seluruh komponen mineral utama mengalami kenaikan harga.
“Penguatan HPE konsentrat tembaga dipengaruhi oleh kenaikan harga seluruh mineral penyusunnya, yaitu tembaga, emas, dan perak. Hal ini mencerminkan permintaan global yang tetap kuat,” ujar Tommy di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Harga Emas Ikut Menguat, HR Naik di Atas USD4.400
Selain tembaga, HPE emas juga tercatat mengalami peningkatan. Pada periode kedua Januari 2026, HPE emas ditetapkan sebesar USD141.972,92 per kilogram, naik dari sebelumnya USD138.324,41 per kilogram.
Sejalan dengan itu, harga referensi (HR) emas turut naik menjadi USD4.415,85 per troy ounce (t oz) dari USD4.302,37 per t oz.
Kenaikan harga emas ini memperkuat posisi logam mulia sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Permintaan Industri dan Transisi Energi Jadi Pendorong Utama
Tommy menjelaskan, meningkatnya permintaan global terhadap tembaga dan emas tidak lepas dari kebutuhan sektor riil.
Komoditas ini dibutuhkan untuk mendukung pengembangan industri energi listrik, kendaraan listrik (EV), serta pembangunan infrastruktur strategis di berbagai negara.
Tembaga, khususnya, menjadi material kunci dalam sistem kelistrikan dan teknologi ramah lingkungan, sementara emas dan perak banyak digunakan pada sektor elektronik dan industri bernilai tambah tinggi.
Faktor Global: Dolar AS Melemah, Investasi ke Komoditas Meningkat
Selain faktor permintaan industri, dinamika keuangan global turut memperkuat harga komoditas. Selama periode pengumpulan data, pelemahan dolar Amerika Serikat mendorong peningkatan alokasi investasi ke aset berbasis komoditas, terutama emas dan perak.
Kondisi ini berdampak langsung pada kenaikan harga mineral penyusun konsentrat tembaga.
“Selama periode pengumpulan data, tercatat harga tembaga naik 6,5 persen, emas naik 2,64 persen, dan perak naik 15,95 persen,” jelas Tommy.
Penetapan HPE dan HR Mengacu pada LME dan LBMA
Kemendag menegaskan bahwa penetapan HPE dan HR dilakukan secara objektif dan berbasis data global.
Penetapan tersebut mengacu pada London Metal Exchange (LME) untuk harga tembaga serta London Bullion Market Association (LBMA) untuk harga emas dan perak, dengan masukan teknis dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Proses penetapan juga melibatkan koordinasi lintas kementerian, mulai dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kemendag, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, hingga Kementerian Perindustrian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










