Outlook Pangan 2026: Stok Aman, Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan Terbesar
Yosi Winosa | 3 Januari 2026, 11:28 WIB

AKURAT.CO Memasuki 2026, sektor pangan nasional diproyeksikan berada dalam kondisi relatif aman dari sisi ketersediaan pasokan.
Pemerintah menargetkan produksi sejumlah komoditas pangan utama berada di atas kebutuhan konsumsi nasional, sejalan dengan kebijakan penguatan produksi dalam negeri dan pengendalian impor.
Proyeksi tersebut tercermin dalam neraca komoditas pangan yang disusun pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait. Beras, jagung, dan gula konsumsi kembali ditetapkan sebagai komoditas strategis penopang ketahanan pangan nasional pada 2026.
Kebijakan ini diiringi dengan penguatan cadangan pangan sebagai instrumen stabilisasi pasokan dan harga.
Meski demikian, pemerintah mengakui stabilitas pangan sepanjang 2026 tetap dipengaruhi sejumlah faktor kunci, mulai dari kondisi cuaca, efektivitas distribusi antarwilayah, hingga dinamika harga pangan global.
Pasokan Dunia Relatif Mencukupi
Dari sisi global, pasokan pangan utama dunia diproyeksikan berada pada level yang relatif mencukupi pada 2026.
Sejumlah lembaga internasional, termasuk Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), mencatat produksi gandum, beras, dan jagung global masih ditopang oleh stok awal yang besar serta pemulihan hasil panen di sejumlah negara produsen utama.
Stok gandum dunia tercatat berada pada level yang relatif tinggi dibandingkan periode krisis pangan beberapa tahun lalu.
Sementara itu, ketersediaan beras untuk pasar ekspor meningkat seiring pulihnya produksi di kawasan Asia, terutama setelah gangguan cuaca ekstrem pada 2023 mulai mereda.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor penahan kenaikan harga pangan dunia. Indeks harga pangan global menunjukkan tren yang relatif stabil dengan kecenderungan melemah terbatas.
Setelah melonjak signifikan pada periode 2022–2023 akibat gangguan rantai pasok dan konflik geopolitik, harga pangan dunia mulai terkoreksi pada 2024 dan 2025, dan tren ini diproyeksikan berlanjut pada 2026.
Meski demikian, risiko global tetap membayangi. Ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan, perubahan kebijakan ekspor negara produsen, serta potensi cuaca ekstrem masih berpeluang memicu volatilitas harga pangan global secara tiba-tiba.
Bagi negara importir, dinamika tersebut tetap menjadi faktor risiko transmisi harga yang perlu diantisipasi.
Beras, Jagung, dan Gula Jadi Andalan RI
Di dalam negeri, pemerintah menetapkan neraca komoditas pangan 2026 dengan asumsi produksi domestik mampu mencukupi kebutuhan nasional. Beras tetap menjadi komoditas strategis utama dalam sistem pangan nasional.
Mengacu pada proyeksi Kementerian Pertanian, produksi beras nasional pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 34–35 juta ton. Angka tersebut berada di atas kebutuhan konsumsi tahunan nasional yang diperkirakan sekitar 30–31 juta ton.
Produksi jagung diproyeksikan mencapai sekitar 18 juta ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan pakan ternak nasional. Sementara itu, produksi gula konsumsi ditargetkan berada pada kisaran 2,7–3,0 juta ton, sejalan dengan kebutuhan domestik.
Dengan proyeksi tersebut, pemerintah menyatakan tidak merencanakan impor beras dan gula untuk konsumsi, serta jagung pakan, sepanjang 2026.
Kebijakan ini menempatkan produksi dalam negeri sebagai tulang punggung ketahanan pangan nasional, dengan catatan target produksi dapat tercapai sesuai perencanaan.
Selain komoditas utama, produksi hortikultura seperti bawang merah dan cabai juga ditargetkan meningkat. Komoditas hortikultura selama ini dikenal sebagai penyumbang utama volatilitas harga pangan, terutama saat terjadi gangguan cuaca atau distribusi.
Bulog Jadi Penyangga Pasokan
Ketersediaan stok pangan menjadi elemen penting dalam menjaga stabilitas pasar. Pemerintah menargetkan cadangan beras pemerintah yang dikelola oleh Perum Bulog berada pada level jutaan ton sebagai penyangga pasokan dan harga, terutama pada periode rawan seperti awal tahun dan menjelang hari besar keagamaan. Peran Bulog sebagai penyerap atau absorber gabah petani pun kina krusial.
Cadangan tersebut digunakan sebagai instrumen stabilisasi melalui berbagai mekanisme, antara lain operasi pasar dan penyaluran bantuan pangan. Dengan stok yang memadai, pemerintah memiliki ruang untuk melakukan intervensi guna meredam gejolak harga akibat lonjakan permintaan atau gangguan distribusi.
Selain beras, penguatan cadangan juga diarahkan pada komoditas lain seperti gula dan jagung, meskipun mekanisme pengelolaannya disesuaikan dengan karakteristik masing-masing komoditas. Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi menjaga inflasi pangan tetap terkendali.
Waspadai Disparitas Harga Antarwilayah
Dari sisi harga, kondisi pangan nasional menjelang 2026 menunjukkan tren yang relatif terkendali secara agregat. Harga beras medium dan premium bergerak dalam rentang yang diawasi pemerintah, sementara harga komoditas hortikultura masih menunjukkan fluktuasi musiman.
Meski pasokan nasional dinilai cukup, disparitas harga antarwilayah tetap menjadi tantangan struktural. Faktor geografis, keterbatasan infrastruktur distribusi, serta biaya logistik menyebabkan harga pangan di sejumlah wilayah, khususnya daerah kepulauan dan terpencil, berada di atas rata-rata nasional.
Untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah mengandalkan sejumlah instrumen, antara lain penetapan harga eceran tertinggi (HET), pengawasan distribusi, serta intervensi pasar. Efektivitas kebijakan tersebut di lapangan akan menjadi faktor penentu stabilitas harga pangan sepanjang 2026.
Kemudian kondisi iklim juga masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi Sektor pangan di tahun 2026. Fenomena cuaca ekstrem, termasuk potensi El Niño dan La Niña, dapat berdampak langsung pada produktivitas pertanian, khususnya tanaman pangan musiman.
Gangguan cuaca berpotensi menurunkan hasil panen, menggeser musim tanam, serta meningkatkan risiko gagal panen di sejumlah wilayah.
Komoditas hortikultura dan jagung dinilai paling rentan terhadap perubahan cuaca, sementara produksi padi sangat bergantung pada ketersediaan air dan kondisi jaringan irigasi.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah mendorong penguatan sistem peringatan dini iklim, rehabilitasi irigasi, serta pemanfaatan teknologi pertanian. Meski demikian, dampak cuaca ekstrem tetap menjadi variabel yang sulit diprediksi sepenuhnya.
Protein Hewani dan Inflasi Pangan
Sektor protein hewani juga menjadi bagian penting dari sistem pangan nasional. Stabilitas pasokan dan harga komoditas seperti daging ayam, telur, dan daging sapi berkontribusi langsung terhadap pembentukan inflasi pangan.
Produksi protein hewani sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pakan, yang sebagian besar bergantung pada jagung. Dengan proyeksi produksi jagung yang mencukupi kebutuhan nasional, pasokan pakan diharapkan tetap terjaga.
Namun, gangguan pada rantai pasok atau faktor non-produksi tetap berpotensi memengaruhi stabilitas harga di tingkat konsumen. Pangan tetap menjadi komponen utama pembentuk inflasi di Indonesia. Oleh karena itu, stabilitas harga pangan pada 2026 akan berperan penting dalam menjaga inflasi tetap terkendali.
Arah Kebijakan Pangan 2026
Secara umum, arah kebijakan pangan pada 2026 difokuskan pada tiga aspek utama. Pertama, peningkatan produksi domestik melalui intensifikasi, modernisasi pertanian, dan penguatan infrastruktur.
Kedua, penguatan cadangan dan stabilisasi harga untuk melindungi daya beli masyarakat. Ketiga, perbaikan sistem distribusi guna memastikan pemerataan pasokan antarwilayah.
Dengan produksi yang diproyeksikan mencukupi dan kebijakan yang dijalankan secara konsisten, sektor pangan diharapkan mampu menopang stabilitas ekonomi nasional sepanjang 2026, meskipun tetap menghadapi tantangan dari faktor iklim dan dinamika global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










