BULOG Bangun 100 Gudang Modern, Penggilingan Padi Kecil Diperkuat

AKURAT.CO Perum BULOG meluncurkan langkah strategis untuk memperkuat posisi lebih dari 160.000 penggilingan padi kecil di seluruh Indonesia.
Melalui program kolaboratif yang mulai dijalankan pada 2025, BULOG akan membangun 100 gudang baru hingga 2026, termasuk di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Gudang tersebut tidak sekadar ruang penyimpanan, tetapi dirancang menjadi pusat ekosistem pascapanen yang modern dan terintegrasi.
Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari temuan riset disertasi Direktur Utama BULOG, Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani, yang mengungkap besarnya potensi kerugian nasional akibat fragmentasi sistem pascapanen.
Baca Juga: Bulog Siapkan 100 Gudang Baru Antisipasi Anomali Cuaca
Riset tersebut menjadi alarm bahwa penggilingan padi skala kecil masih menghadapi tantangan serius dalam akses permodalan, teknologi, dan pasar.
“Penggilingan padi kecil adalah jantung ketahanan pangan kita. Mereka yang berada di akar rumput tidak boleh tergilas oleh persaingan tidak sehat,” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman sebelumnya saat hadir sebagai penguji disertasi di Universitas Indonesia, 19 November 2025.
Amran menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen melindungi pelaku usaha kecil melalui kebijakan yang berpihak.
Dirinya menyebut penggilingan padi kecil harus dipertahankan sebagai tulang punggung produksi nasional, terutama dalam menjaga stabilitas bahan pangan pokok.
Disertasi berjudul Transformasi Tata Kelola Kolaboratif Pascapanen Padi Berkelanjutan di Indonesia tersebut tidak berhenti sebagai kajian akademik.
Temuan krusialnya telah mendorong terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri dan kepala lembaga pada 11 November 2025, yang mengatur percepatan pembangunan infrastruktur pascapanen.
Baca Juga: Bulog Pastikan Beras SPHP Berkualitas dan Tepat Sasaran
Pemerintah juga menyiapkan draf Peraturan Presiden (Perpres) sebagai payung hukum untuk memastikan keberlanjutan program.
Direktur Utama BULOG, Ahmad Rizal menjelaskan bahwa gudang-gudang baru akan dilengkapi fasilitas Rice Milling Unit (RMU) dan mesin pengering (dryer) modern.
Lewat skema pay-per-use, penggilingan kecil dan petani dapat mengakses teknologi tersebut tanpa harus menanggung investasi mahal.
“Kami tidak hanya membangun gudang, tetapi menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan,” jelas Ahmad Rizal dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (22/11/2025).
Program ini dirancang dengan pendekatan triadic collaboration yang melibatkan BULOG, petani/penggilingan, serta investor swasta.
BULOG berperan sebagai penjamin pasar melalui skema offtake agreement, sementara swasta menanamkan investasi teknologi.
Mekanisme tersebut diharapkan menciptakan stabilitas pasokan sekaligus menjamin keberlanjutan usaha kecil.
Pembangunan 100 gudang bernilai investasi Rp5 triliun diprioritaskan di wilayah yang belum memiliki fasilitas memadai, termasuk Nias Selatan dan Morotai.
BULOG menargetkan seluruh fasilitas dapat beroperasi sebelum panen raya 2026 sehingga manfaatnya langsung terasa di lapangan.
Secara metodologis, program ini berangkat dari pendekatan Soft Systems Methodology-based Multimethod, yang diperkaya dengan analisis GIS, clustering, dan Multi-Criteria Decision Analysis. Disertasi terkait bahkan tengah diproses untuk publikasi di jurnal internasional bereputasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










