Akurat

Fenomena Jurnalis Kurang Galak dan Shrinking Media Space

Yosi Winosa | 16 November 2025, 14:52 WIB
Fenomena Jurnalis Kurang Galak dan Shrinking Media Space

AKURAT.CO Belakangan publik terlibat dalam diskursus soal menurunnya peran Media Massa sebagai pilar keempat demokrasi atau watch dog yang mengawasi jalannya pemerintahan dan mengungkap penyimpangan.

Adalah Menkeu Purbaya, yang menyayangkan sikap pasif Media Massa beberapa tahun belakangan. Hal itu ia ungkapkan di sela acara Run For Good Journalism yang digelar Forum Pemred di Jakarta, Minggu (16/11/2025)

"Saya lihat beberapa tahun ini jurnalisnya mingkem semuanya. Kurang galak, enggak pernah kasih kritik. Tetapi ke depan juga praktislah, ber good journalism, kasih kritik yang baik, tapi kasih pemecahannya juga kalau bisa," ucap Purbaya.

"Saya bilang ya itu karena Anda kemarin-kemarin enggak protes cukup banyak, sehingga ekonomi jatuh Anda diam saja. Ke depan mesti kritik, kasih masukan biar kita enggak jatuh lagi ekonominya. Jadi ekonomi melambat, jurnalis juga berdosa," lanjut Purbaya.

Kritik Purbaya bukan tanpa alasan. Ia mengaku mendapat laporan langsung dari para pemimpin redaksi mengenai lesunya bisnis media. Ia menegaskan perlunya media kembali menjalankan peran sebagai pengawas sekaligus pemberi solusi.

"Tadi juga saya diskusi, sempat diskusi dengan pemred-pemrednya. Mereka ngeluh katanya bisnis jurnalisme sekarang lagi turun, media lagi turun," ucap Purbaya.

Mengapa Jurnalis Menciut?

Direktur Eksekutif CELIOS (Center of Economic and Law Studies) Indonesia, Bhima Yudhistira menilai fenomena jurnalis saat ini lebih soft spoken terkait dengan fenomena shrinking media space. 

Shrinking media space sendiri merupakan fenomena yang menggambarkan kian terbatasnya ruang gerak dan kebebasan bagi media independen dan jurnalis untuk beroperasi dan menyampaikan informasi secara kritis kepada publik. 
 
Konsep ini sering kali terkait erat dengan shrinking civic space (ruang sipil yang menyempit), yang merujuk pada pembatasan partisipasi masyarakat sipil secara keseluruhan dalam kehidupan publik, termasuk fungsi pengawasan (check and balance) terhadap pemerintah.
 
Pendorongnya sendiri banyak faktor, mulai dari pembatasan oleh hukum dan regulasi, tekanan politik dan ekonomi, ancaman terhadap jurnalis, konsentrasi kepemilikan media hingga pemanfaatan teknologi untuk pengawasan.
 
"Memang agak sepi. Beberapa media kesulitan keuangan dan berharap ke iklan pemerintah dan BUMN. Jadi ada shrinking media space," ujar Bhima ke Akurat.co, Minggu (16/11/2025).

Efisiensi Anggaran

Fenomena shrinking media space ini sejatinya sudah diulas oleh Janet Steele, Professor of Media and Public Affairs and International Affairs, George Washington University dalam laporan Digital News Report karya Reuters Institute pada pertengahan 2025 lalu.
 
Prof. Janet menyebutkan, khusus di Indonesia, meskipun tidak ada penutupan besar-besaran media pada tahun 2024, media Indonesia terus mengalami penurunan pendapatan iklan.  Efisiensi anggaran pemerintah juga secara tak terduga berdampak pada kesehatan organisasi berita, karena iklan pemerintah di tingkat nasional dan provinsi mengering.
 
Pengurangan ini mendorong perusahaan media Indonesia untuk bereksperimen dengan kemitraan baru, model pembayaran elektronik, dan penggunaan kecerdasan buatan (AI), karena organisasi media mulai menggunakan AI untuk segala hal mulai dari penulisan judul dan kata kunci hingga pembawa berita buatan AI dan pembacaan doa Muslim yang dihasilkan AI.
 
Di sisi lain, platform media sosial seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, dan Instagram sangat populer di Indonesia, dan 57% warga Indonesia melaporkan mendapatkan berita mereka dari platform-platform ini. TikTok khususnya mengalami peningkatan popularitas sebagai sumber berita – naik 5 poin persentase menjadi 34%.
 
Walaupun penggunaan WhatsApp menurun sedikit (3 poin persentase), platform ini tetap mendominasi sebagai platform media sosial utama baik untuk berita maupun untuk tujuan apa pun.
 
Meskipun masyarakat Indonesia umumnya enggan membayar untuk berita, terdapat beberapa eksperimen dengan model baru. Tempo, misalnya, telah menjalin kemitraan dengan media lokal seperti The Aceh Post, dimana keduanya berbagi konten dan memungkinkan pembaca untuk berlangganan kedua publikasi online tersebut dengan harga tunggal.
 
"Pada April 2023, TVOne meluncurkan TVOneAI, yang kini tersedia di berbagai platform media sosial, dan mengklaim diri sebagai ‘media pertama di Indonesia yang didukung oleh kecerdasan buatan’. Liputan6 juga menggunakan kecerdasan buatan untuk liputan olahraga, verifikasi fakta, dan berita global. Begitupun dengan Kompas Group," ujar Prof. Janet.

Jalan Keluar

Bhima menilai agar Media Massa ke depan bisa tetap kritis, nonpartisian dan berkelanjutan secara bisnis, perlu diversifikasi kanal distribusi, misalnya memperbanyak penyebaran informasi lewat media sosial. Cara lain, migrasi konten dari berbasis teks ke video.
 
"Itu bisa jadi solusi. Atau solusi lain, mengembangkan readership untuk mendapatakn subscription fee. Di sosial media, ada berbagai fitur untuk monetisasi seperti ini," ujar Bhima.
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa