Kebutuhan Aluminium Melonjak, Inalum Dorong Sinergi Pemerintah Percepat Hilirisasi

AKURAT.CO PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mengungkapkan bahwa hilirisasi aluminium tidak bisa dilakukan oleh Inalum sendirian.
Ekosistem industri aluminium sangat bergantung pada dukungan lintas kementerian, terutama terkait pasokan energi, tata ruang, lingkungan, pembiayaan, hingga regulasi industri.
Direktur Pengembangan Usaha Inalum, Arif Haendra mengatakan bahwa percepatan pembangunan SGAR dan smelter baru membutuhkan koordinasi erat antara lintas kementerian.
Baca Juga: Danantara Berpeluang Biayai Proyek SGAR 2 Inalum Senilai USD 800 Juta
Seperti, Kementerian BUMN, Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, Kementerian ATR/BPN, serta Pemerintah Daerah Kalimantan Barat yang menjadi lokasi proyek.
“Industri aluminium adalah industri energi-intensif. Konsistensi pasokan listrik menjadi faktor penentu daya saing. Karena itu, dukungan pemerintah sangat penting untuk memastikan semua proyek hilirisasi dapat berjalan cepat,” kata Arif dalam acara Gathering Forum Wartawan Industri (Forwin) di Sentul, Bogor, Jumat (14/11/2025).
Inalum, kata Arif juga menegaskan visi perusahaan untuk menjadi perusahaan global berbasis aluminium terpadu yang ramah lingkungan.
Komitmen keberlanjutan diwujudkan melalui peningkatan kompetensi SDM secara berkelanjutan, operasional yang aman, serta pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat melalui CSR.
“Kami selalu berkomitmen menjaga kesinambungan lingkungan dan memperkuat kapasitas SDM. Ekspansi industri harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penguatan ekonomi nasional,” ujar Arif.
Baca Juga: Ketergantungan Impor HIngga 54%! Inalum Akhirnya Turun Tangan
Adapun, Inalum bakal mempercepat hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium sejalan dengan proyeksi kebutuhan nasional yang diperkirakan melonjak hingga 600% dalam tiga dekade mendatang.
Peningkatan konsumsi aluminium ini terutama didorong transformasi besar di sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan ekspansi energi baru terbarukan yang kini membutuhkan aluminium dalam jumlah yang sangat besar.
Arif menegaskan bahwa Indonesia berada pada momentum penting untuk membangun industri aluminium yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Arif menjelaskan bahwa sejak tahun 2018 hingga 2024, kebutuhan aluminium nasional masih sangat bergantung pada pasokan impor yang mencapai 54%, sementara kontribusi Inalum baru berada di level 46%.
“Konsumsi aluminium nasional akan meningkat sangat pesat, terutama karena kebutuhan untuk baterai kendaraan listrik dan pembangunan pembangkit energi surya. Satu battery pack EV menggunakan sekitar 18% aluminium, dan pembangunan pembangkit surya membutuhkan sekitar 21 ton aluminium untuk setiap 1 MW. Kebutuhan ini menjelaskan urgensi percepatan hilirisasi,” ungkap Arif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 3ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 4Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 5Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 6Persija Terpaksa Jamu Java United di Bali, Terancam Pengurangan Poin Jika 4 Kali Musafir
- 7Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 8Kenapa Thailand Ingin Berantas Ikan Nila Hitam? Ini 5 Alasannya
- 9Prabowo Pimpin Sidang DEN di Istana, Instruksikan Persiapan E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi
- 10Terungkap di Sidang Korupsi Kuota Haji: Anak Buah Bos Maktour Setor USD10 Ribu ke Pejabat Kemenag







