Akurat

Ketergantungan Impor HIngga 54%! Inalum Akhirnya Turun Tangan

Dedi Hidayat | 14 November 2025, 17:30 WIB
Ketergantungan Impor HIngga 54%! Inalum Akhirnya Turun Tangan

AKURAT.CO PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) bakal mempercepat hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium sejalan dengan proyeksi kebutuhan nasional yang diperkirakan melonjak hingga 600% dalam tiga dekade mendatang.

Peningkatan konsumsi aluminium ini terutama didorong transformasi besar di sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan ekspansi energi baru terbarukan yang kini membutuhkan aluminium dalam jumlah yang sangat besar.

Direktur Pengembangan Usaha Inalum, Arif Haendra menegaskan bahwa Indonesia berada pada momentum penting untuk membangun industri aluminium yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Arif menjelaskan bahwa sejak tahun 2018 hingga 2024, kebutuhan aluminium nasional masih sangat bergantung pada pasokan impor yang mencapai 54%, sementara kontribusi Inalum baru berada di level 46%.

Baca Juga: Legislator Soroti Ketimpangan Penerapan Royalti SDA Antara Bukit Asam dan Inalum

“Konsumsi aluminium nasional akan meningkat sangat pesat, terutama karena kebutuhan untuk baterai kendaraan listrik dan pembangunan pembangkit energi surya. Satu battery pack EV menggunakan sekitar 18% aluminium, dan pembangunan pembangkit surya membutuhkan sekitar 21 ton aluminium untuk setiap 1 MW. Kebutuhan ini menjelaskan urgensi percepatan hilirisasi,” kata Arif dalam acara Gathering Forum Wartawan Industri (Forwin) di Sentul, Bogor, Jumat (14/11/2025).

Arif menyampaikan hilirisasi mineral bauksit tidak lagi sekadar program industri, tetapi merupakan langkah strategis untuk menjaga ketahanan bahan baku nasional.

Dengan proyeksi lonjakan konsumsi yang begitu besar, Indonesia membutuhkan percepatan pembangunan fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) serta smelter aluminium baru.

Arif menjelaskan bahwa industri aluminium berjalan melalui rantai produksi yang sangat terintegrasi. Untuk menghasilkan 1 ton aluminium, dibutuhkan sekitar 6 ton bauksit untuk diolah menjadi 2 ton alumina, sebelum melalui proses elektrolisis di smelter.

Tahapan ini, kata Arif membuat investasi hulu dan hilir harus berjalan paralel dan terencana.

“Inilah sebabnya Inalum menempatkan pengembangan SGAR tahap 1 dan tahap 2, serta pembangunan smelter baru dan ekspansi potline, sebagai agenda prioritas perusahaan,” ujarnya..

Lebih lanjut, Arif menuturkan bahwa Inalum kini mengoperasikan smelter aluminium primer dengan kapasitas 275 ribu ton per tahun, smelter sekunder berkapasitas 30 ribu ton, serta pembangkit listrik tenaga air (hydropower) sebesar 603 MW untuk mendukung kebutuhan energi operasional.

Untuk menjawab kebutuhan nasional yang meningkat pesat, perusahaan telah menyiapkan rencana ekspansi besar-besaran.

Baca Juga: INALUM Catat Lonjakan Produksi Aluminium dan Pendapatan Sepanjang 2024

Dalam lima tahun mendatang, Inalum menargetkan peningkatan kapasitas produksi aluminium menjadi 900 ribu ton per tahun. Di saat yang sama, produksi alumina ditargetkan mencapai 2 juta ton pada tahun 2029.

Ekspansi ini mencakup pembangunan Potline-4 dengan kapasitas awal 100 ribu ton (dengan opsi perluasan hingga 200 ribu ton), serta revamping fasilitas produksi lama (PL1 & PL3) yang akan menambah kapasitas sekitar 45 ribu ton.

“Ini akan memperkuat kemampuan Indonesia untuk memasok kebutuhan nasional sekaligus menjadi pemain penting di pasar aluminium global,” tutur Arif.

Inalum memiliki salah satu rantai pasok aluminium paling lengkap di Indonesia. Selain mengoperasikan smelter primer dan sekunder, perusahaan juga mengelola jalur distribusi dari pengiriman alumina ke smelter hingga distribusi aluminium ke gudang Jakarta dan Surabaya, serta pasar ekspor.

Portfolio usaha Inalum diperkuat oleh kepemilikan saham pada sejumlah entitas strategis, seperti PT Borneo Alumina Indonesia untuk pengolahan alumina, PT Indonesia Aluminium Alloy untuk produksi secondary billet, PT Sinergi Mitra Lestari Indonesia sebagai pusat layanan, dan PT Industri Baterai Indonesia yang berperan penting dalam ekosistem baterai kendaraan listrik.

“Dengan portofolio ini, Inalum mengamankan posisi sebagai pemain strategis dalam rantai nilai aluminium nasional, mulai dari bauksit hingga produk jadi untuk industri EV, energi, dan manufaktur,” ucapnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.