Akurat

Temuan Gas Raksasa Dorong Efisiensi Subsidi dan Turunkan Emisi Nasional

Dedi Hidayat | 9 November 2025, 15:54 WIB
Temuan Gas Raksasa Dorong Efisiensi Subsidi dan Turunkan Emisi Nasional

AKURAT.CO Penemuan sejumlah cadangan gas bumi dalam beberapa tahun terakhir dinilai memberikan dampak positif terhadap ketahanan ekonomi, ketahanan energi, hingga pelaksanaan kebijakan transisi energi Indonesia.

ReforMiner Institute menilai tren ini menunjukkan bahwa gas bumi memiliki posisi lebih strategis dibanding minyak dan batu bara untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Adapun, berdasarkan data SKK Migas 2025 menunjukkan bahwa eksplorasi migas nasional saat ini semakin didominasi oleh temuan gas bumi.

Beberapa penemuan besar antara lain Layaran-1 di Blok South Andaman (6 TCF), Timpan-1 di Blok Andaman II (5–6 TCF), Geng North-1 di Blok North Ganal (5 TCF), serta South CPP (87,09 BCF).

Menurut Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, gas bumi memiliki multiplier effect yang besar bagi perekonomian. Tercatat 113 dari 185 sektor ekonomi nasional terhubung dengan kegiatan usaha hulu gas bumi dan Indeks multiplier industri hulu gas mencapai 6,56.
 
Baca Juga: Pertamina EP Temukan Cadangan Gas di Southeast Benuang

“Ini menunjukkan bahwa setiap investasi pada kegiatan hulu gas bumi berpotensi menciptakan manfaat atau nilai tambah ekonomi hingga 6,56 kali lipat dari nilai investasi yang dilakukan,” kata Komaidi dikutip, Minggu (9/11/2025).

Dari sisi fiskal, pemanfaatan gas bumi melalui perluasan jaringan gas (jargas) rumah tangga berpotensi menekan beban subsidi LPG serta mengurangi kebutuhan devisa impor.

Kementerian Keuangan mencatat, subsidi LPG selama lima tahun terakhir mencapai Rp 453 triliun, dengan kebutuhan devisa impor sekitar Rp64 triliun per tahun.
 
“Implementasi target 4 juta sambungan jaringan gas rumah tangga berpotensi mengurangi impor LPG sekitar 400.000 metrik ton atau sekitar 6,15 persen dari total impor nasional dan menghemat subsidi energi sekitar Rp2,68 triliun,” ujar Komaidi.

Lebih lanjut, Komaidi melihat gas bumi juga memainkan peran strategis dalam mendukung target penurunan emisi Indonesia menuju Net Zero Emission 2060.

Pemerintah menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% atau 915 juta ton CO₂e pada 2030. Dari angka tersebut, sektor energi mendapat porsi penurunan 358 juta ton.

Simulasi ReforMiner menunjukkan bahwa jika 50% konsumsi minyak dan batu bara dikonversi ke gas bumi, emisi dapat ditekan hingga 159,51 juta ton CO₂e atau sekitar 44,5% dari total target sektor energi.

Meski memiliki potensi besar, Komaidi menilai optimalisasi gas bumi perlu disertai dengan kebijakan pendukung, seperti percepatan pembangunan infrastruktur gas, kepastian investasi, penguatan akses pasar, serta penetapan harga yang proporsional bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Catatan reforminer ini menegaskan bahwa keberadaan cadangan gas bumi memiliki posisi strategis pada aspek ketahanan ekonomi, ketahanan energi, dan kebijakan transisi energi,” tutur Komaidi.
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.