Akurat

Penjualan BBM Capai 87 Juta KL per Oktober 2025, 41 Persennya Non-Subsidi

Dedi Hidayat | 17 November 2025, 18:52 WIB
Penjualan BBM Capai 87 Juta KL per Oktober 2025, 41 Persennya Non-Subsidi

AKURAT.CO PT Pertamina Patra Niaga mencatat penjualan bahan bakar minyak (BBM) mencapai 87 juta kiloliter (KL) sampai dengan Oktober 2025. Adapun, volume ini mencakup penjualan ke industri dan ritel.

Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega mengatakan dari total BBM yang terjual hingga Oktober 2025, 41%nya merupakan BBM non-susbisdi.

"PT Pertamina Patraniaga terus menunjukkan pertumbuhan sampai dengan Oktober 2025 volume penjualan sebanyak 87 juta kiloliter dimana 41% dari penjualan tersebut adalah kontribusi pendapatan dari produk-produk non-subsidi," kata Mars Ega dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Senin (17/11/2025).

Mars Ega menambahkan untuk memastikan keterjangkauan bahan bakar minyak (BBM) bagi masyarakat, Pertamina Patra Niaga mengoperasikan 15.345 titik layanan BBM. Jumlah tersebut mencakup 573 titik Program BBM Satu Harga, yang berperan penting untuk menghadirkan harga BBM yang setara di wilayah 3T.

Baca Juga: Perketat BBM Subsidi, Pertamina Blokir 394 Ribu Kendaraan Bermasalah

"Selain itu dalam melayani masyarakat untuk sektor LPG kami mendistribusikan LPG melalui 269.096 titik LPG yang tersebar dari wilayah Indonesia Barat, Indonesia Tengah dan sebagian Indonesia Timur," tambahnya.

Perkuat Pengawasan Penyaluran BBM Subsidi

Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga memperkuat pengawasan terhadap penyaluran bahan bakar subsidi melalui program Subsidi Tepat. Program ini mewajibkan pengguna kendaraan untuk menunjuan QR Code sebelum membeli BBM bersubsidi seperti Solar dan Pertalite.

Mars Ega mengatakan implementasi full QR Code untuk pembelian Solar dan Pertalite memberi dampak signifikan terhadap akurasi distribusi. "Untuk sektor BBM saat ini telah dilaksanakan full QR Code untuk penyaluran BBM jenis solar maupun jenis pertalite. Untuk memastikan penyaluran BBM jenis JBT solar maupun JBKP Pertalite," ucap Mars Ega.

Mars Ega menambahkan, penggunaan QR Code dalam pendistribusian BBM Bersubsidi juga bermanfaat sebagai pengawas penyalahgunaan BBM Bersubisi. Sebab, hingga Oktober 2025 adalah pemblokiran 394 ribu nomor polisi (nopol) yang terindikasi melakukan transaksi tidak wajar dan berpotensi menyalahgunakan BBM subsidi di SPBU.

“Selain itu dari sisi pengawasan, sistem subsidi tepat ini telah melakukan identifikasi fraud terhadap 394 ribu nopol kendaraan yang telah kita blokir untuk antisipasi maupun mitigasi adanya penyalahgunaan BBM di SPBU," tambahnya.

Selain pemblokiran nopol, Pertamina Patra Niaga juga melakukan pembinaan terhadap 544 SPBU sepanjang 2025 untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan penyaluran BBM subsidi.

Pertamina Patra Niaga juga memperluas distribusi Pertamax Green, produk BBM rendah emisi. Saat ini, produk tersebut tersedia di 168 SPBU di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta.

"Bisnis pemasaran PT Pertamina tumbuh dengan baik dan kami terus mendorong penjualan produk-produk non-subsidi serta menerapkan digitalisasi guna melakukan monitoring dan pengawasan transaksi produk-produk subsidi," ujar Mars Ega.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.