Akurat

Hilirisasi Rp371 Triliun, Kementan Siapkan 8 Juta Lapangan Kerja Baru

Hefriday | 8 November 2025, 13:30 WIB
Hilirisasi Rp371 Triliun, Kementan Siapkan 8 Juta Lapangan Kerja Baru

AKURAT.CO Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa investasi hilirisasi senilai Rp371 triliun akan menjadi penggerak utama industrialisasi di sektor pangan, perkebunan, dan peternakan nasional.

Program besar ini diharapkan mampu menyerap hingga delapan juta tenaga kerja di berbagai lini produksi dan industri turunan.

“Total kalau investasi hilirisasi Rp371 triliun itu, akan terserap delapan juta lapangan pekerjaan,” ujar Amran usai menghadiri Rapat Finalisasi Program Hilirisasi Perkebunan dan Industri bersama Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Jumat (7/11/2025).

Baca Juga: BMKG Prediksi Hujan Melimpah, Kementan Siapkan Strategi Tanam Nasional

Menurut Amran, langkah ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya penguatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri serta membuka lapangan kerja baru di berbagai daerah.

Pemerintah, kata dia, berkomitmen mempercepat proses investasi dan pelaksanaan proyek di lapangan agar manfaat ekonomi dapat segera dirasakan masyarakat.

“Bapak Presiden Prabowo memberi arahan agar kita bergerak cepat. Bersama Pak Rosan sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga Kepala Danantara, kami sudah menyepakati total investasi Rp371 triliun untuk sektor pertanian, pangan, peternakan, hortikultura, dan perkebunan,” ungkapnya.

Amran menjelaskan bahwa pada tahap awal, program ini menargetkan penyerapan sekitar tiga juta tenaga kerja dalam tiga tahun ke depan, atau sekitar satu juta orang per tahun. Angka ini dinilai realistis dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur dan potensi investasi yang telah terpetakan.

“Target satu juta pekerja per tahun sangat mungkin dicapai. Perhitungannya sudah kami buat dengan pendekatan yang moderat dan berbasis potensi sektor riil,” katanya.

Dirinya juga menyebutkan bahwa sejumlah komoditas unggulan akan menjadi fokus utama dalam program hilirisasi tersebut. Di antaranya tebu, kakao, mete, dan kelapa, yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tinggi baik untuk pasar domestik maupun ekspor.

Baca Juga: IFAD Apresiasi Kementan Cetak Petani Muda Produktif

Sebagai contoh, Amran menyoroti keberhasilan hilirisasi kelapa di beberapa daerah seperti Maluku Utara. Sebelum program dijalankan, harga kelapa mentah hanya berkisar Rp600 per butir.

Namun setelah diolah menjadi produk turunan, nilainya meningkat hingga Rp3.500 per butir. “Kalau dulu kelapa dijual mentah, nilainya kecil. Tapi setelah kita olah di dalam negeri, harganya bisa naik hingga 500 persen,” ujarnya.

Dirinya meyakini, dengan skala industri yang lebih besar, nilai tambah komoditas nasional bisa meningkat hingga 20 sampai 100 kali lipat. Hal ini tidak hanya memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha kecil di daerah.

Selain itu, Kementan menargetkan penyelesaian pre-feasibility study (FS) atau studi kelayakan dalam waktu singkat. Hasilnya akan segera diserahkan kepada Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani untuk ditindaklanjuti dalam tahap realisasi proyek. “Tadi kita sudah sepakati semua. Prinsipnya, kita percepat,” tegas Amran.

Rosan sebelumnya juga menyatakan bahwa pihaknya melalui Danantara siap memberikan dukungan penuh terhadap program hilirisasi pertanian yang dicanangkan pemerintah. Menurutnya, hilirisasi bukan sekadar transformasi industri, tetapi juga strategi jangka panjang untuk menciptakan jutaan lapangan kerja dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Dengan rencana investasi masif ini, pemerintah optimistis Indonesia dapat bertransformasi dari negara berbasis komoditas mentah menjadi kekuatan industri pangan terintegrasi.

Amran menegaskan, keberhasilan hilirisasi akan menjadi tonggak penting menuju kemandirian pangan dan kemakmuran petani di era pemerintahan baru.

“Dengan hilirisasi, kita tidak hanya bicara produksi, tetapi juga nilai tambah dan kesejahteraan rakyat. Inilah arah besar yang sedang kita jalankan,” tutup Amran.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi