Jatim Dibidik Jadi Sentra Produksi Etanol Nasional
Yosi Winosa | 29 Oktober 2025, 17:38 WIB

AKURAT.CO Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai Provinsi Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan industri bioetanol nasional.
Potensi itu muncul seiring dengan ketersediaan bahan baku utama berupa molasses atau tetes tebu yang melimpah di wilayah tersebut.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, mengatakan Jawa Timur memiliki keunggulan komparatif dibanding daerah lain karena menjadi salah satu sentra utama industri gula nasional.
“Yang paling potensial sekarang itu Jawa Timur, karena molasses-nya ada di sana,” ujar Putu saat ditemui di sela pembukaan Pameran Industri Agro di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (29/10/2025).
Molasses merupakan produk sampingan dari proses pengolahan tebu menjadi gula. Bahan ini dapat diolah menjadi bioetanol, yang nantinya akan digunakan sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) dengan kandungan etanol sebesar 10%, atau dikenal dengan program Bioetanol 10 (E10).
Program E10 merupakan kebijakan pemerintah yang bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM sekaligus menekan emisi karbon di sektor transportasi.
Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui kebijakan mandatori campuran etanol 10% tersebut, yang akan mulai diimplementasikan pada tahun 2027.
Untuk mendukung target itu, Kemenperin bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan kebutuhan bahan baku etanol mencapai 1,4 juta kiloliter (KL) per tahun.
Pemerintah menargetkan seluruh kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Sebagai langkah awal, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp1,6 triliun untuk program bongkar ratoon, yaitu peremajaan tanaman tebu yang sudah tidak produktif.
Dari total dana tersebut, sekitar 70 ribu hektare dari 100 ribu hektare lahan yang diremajakan akan difokuskan di Jawa Timur, mencakup 26 kabupaten penghasil tebu utama.
Putu menjelaskan, dengan pasokan bahan baku yang kuat dan infrastruktur pendukung yang memadai, Jawa Timur menjadi kandidat utama lokasi pembangunan pabrik etanol berbasis tebu.
“Jatim ini sudah punya ekosistem gula yang mapan. Jadi tinggal memperkuat hilirisasinya lewat pabrik etanol,” ujarnya.
Selain Jawa Timur, pemerintah juga mempertimbangkan wilayah Merauke, Papua Selatan, sebagai opsi tambahan untuk pembangunan pabrik etanol dari tebu, terutama ketika program swasembada gula di wilayah tersebut mulai membuahkan hasil.
“Kalau perkebunan tebu di Merauke sudah jalan, maka pabrik etanol bisa dibangun di sana juga,” tambah Putu.
Namun, pemerintah juga membuka peluang diversifikasi bahan baku etanol di luar tebu. Jika nantinya program bioetanol berbasis sagu dikembangkan, maka lokasi pabrik akan disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku di daerah timur Indonesia.
“BRIN sedang mengkaji potensi etanol dari sagu. Bisa saja lokasinya di Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, atau Sumatera,” tutur Putu.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah ingin seluruh kebutuhan etanol untuk program E10 dipenuhi oleh industri dalam negeri.
“Kita tidak mau lagi impor etanol. Semua harus diproduksi di Indonesia, baik dari singkong, jagung, maupun tebu,” ujarnya.
Bahlil menambahkan, pabrik etanol berbasis singkong masih dalam tahap pemetaan wilayah potensial. Pemerintah menilai bahan baku ini dapat dikembangkan di daerah sentra pertanian seperti Jawa Tengah, Lampung, dan Sulawesi Selatan.
Sementara itu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Todotua Pasaribu mengungkapkan, perusahaan otomotif asal Jepang, Toyota, telah menyatakan ketertarikannya untuk menanamkan investasi di sektor etanol di Indonesia.
Ketertarikan ini sejalan dengan visi pemerintah memperluas ekosistem kendaraan ramah lingkungan dan transisi energi bersih.
Dengan dukungan lintas kementerian, penelitian, dan investasi, pemerintah berharap proyek pengembangan bioetanol dapat menjadi salah satu tonggak penting menuju kemandirian energi nasional.
“Kita ingin E10 tidak hanya sekadar program energi, tapi juga menjadi lokomotif industrialisasi baru dari sektor pertanian,” kata Putu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










