Akurat

Susul China, Korea dan Eropa Minati Proyek DME RI

Yosi Winosa | 28 Oktober 2025, 16:14 WIB
Susul China, Korea dan Eropa Minati Proyek DME RI

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan terdapat dua calon investor asing yang tertarik menggarap proyek proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME)

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengatakan dua calon investor tersebut berasal dari China serta perusahaan gabungan antara Korea Selatan dan Eropa.

Namun, Bahlil menegaskan bahwa keputusan final mengenai mitra pengembang proyek DME masih menunggu hasil uji kelayakan (feasibility study/FS).

“Sekarang kita lagi uji FS-nya dengan teknologinya. Tetapi ancang-ancangnya sudah ada dua. Satu dari China, satu gabungan antara Korea dan Eropa. Nanti kita lihat, finalnya nanti kita lihat ya,” kata Bahlil di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
 
Baca Juga: Batu Bara jadi DME Ditarget Jalan Tahun Depan, Bahlil: Teknologi dari China atau Eropa

Lebih lanjut, Bahlil memastikan bahwa infrastruktur dan ketersediaan bahan baku batu bara untuk mendukung proyek DME telah siap sepenuhnya.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi pengolahan batu bara menjadi DME kini semakin efisien dan ramah lingkungan, sehingga memberikan optimisme bagi pemerintah untuk merealisasikan proyek ini dalam waktu dekat.

“Nggak ada masalah. Karena DME itu kan pakai batu bara low kalori. Dan batu bara kita kan cadangannya banyak sebenarnya,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) akan mulai dijalankan pada tahun depan.

Proyek ini menjadi salah satu dari 18 proyek strategis hilirisasi yang telah diselesaikan konsep dan pra-feasibility study (pra-FS)-nya oleh Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, hasil pra-FS tersebut kini sedang dipelajari oleh konsultan untuk difinalisasi oleh BPI Danantara.

“Sekarang, dari pra FS itu dipelajari oleh konsultan untuk finalisasi di Danantara. Dari sekian banyak, 18 project itu salah satunya adalah DME,” kata Bahlil di Hotel Kempinski dikutip, Minggu (26/10/2025).

Bahlil menjelaskan, proyek DME menjadi salah satu prioritas utama karena dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG).

Saat ini, konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi dalam negeri hanya sekitar 1,3 juta ton.

“Jadi kita impor sekitar 6,5 sampai 7 juta ton. Nah caranya bagaimana mengurangi impor adl kita melahirkan substitusi impor melalui hilirisasi batubara,” ucapnya.
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.